Generasi ‘sandwich’ adalah istilah bagi mereka yang menanggung biaya hidup anak serta orang tua secara bersamaan. Konsep ini mirip dengan struktur burger, dimana generasi tengah menanggung beban di antara dua lapisan.
Kondisi ini menyebabkan tekanan finansial yang besar karena tanggung jawab tersebut tidak dapat dihindari. “Generasi sandwich harus membiayai pendidikan anak sekaligus menopang kebutuhan orang tua yang tidak berpenghasilan,” ujar Advisory Board Member Financial Planner Association of Indonesia, Ferry Chandra Gunawan saat wawancara bersama RRI, Minggu (16/02).
Ia mengatakan banyak Gen Z yang masuk kategori generasi sandwich karena warisan pola finansial dari orang tua. Jika tidak diatasi, pola ini akan terus berulang di generasi berikutnya.
“Masalah ini sebenarnya adalah penyakit turunan yang bisa kita hentikan dengan perencanaan keuangan yang tepat,” kata Ferry.
Menurutnya, salah satu solusi penting adalah mulai berinvestasi sejak dini untuk menghadapi masa pensiun. Selain investasi, asuransi jiwa dan kesehatan juga menjadi faktor penting dalam perencanaan keuangan. Dengan perlindungan ini, keluarga tidak perlu terbebani biaya pengobatan yang tinggi.
Selain itu, gaya hidup konsumtif seperti FOMO (fear of missing out) sebaiknya dikontrol agar penghasilan tidak habis untuk hal yang kurang penting. “Lebih baik fokus pada investasi jangka panjang daripada hanya mengikuti tren yang tidak menambah aset,” ungkapnya.
Untuk itu, menurutnya, kesadaran finansial juga harus diterapkan oleh orang tua Gen Z agar mereka tidak menjadi beban saat memasuki masa pensiun. Kolaborasi antara Gen Z dan orang tua dalam perencanaan keuangan menjadi solusi terbaik. (rri)

