Penulis : Prof. Dr. Dwi Winarni, M.Si.
Beberapa minggu lalu, seorang teman yang berada di Sorong, mengunggah foto di grup whatsapp sedang dijamu makan Chinese food oleh koleganya. Salah satu menunya, berbahan baku haisom dari teripang susu. Di unggahan foto tersebut, teman saya menambahkan komentar: ”Cuma orang-orang kaya yang mampu makan”, karena harganya yang mahal.
Penasaran dengan komentar tersebut, saya cek harganya di salah satu e-commerce. Harga teripang susu kering kualitas bagus berkisar Rp. 2.200.000 -2.600.000,- per kg, demikian juga untuk teripang komersial jenis lain. Tentang harga ini memang kurang saya perhatikan meskipun sepuluh tahun terakhir saya menekuni untuk meneliti teripang.
Namun hanya fokus ke struktur tubuh terkait dengan fisiologi gerak dan reproduksi serta kandungan kolagen tiga spesies teripang yang hidup di Selat Madura, yang tidak termasuk spesies teripang dengan nilai komersial tinggi. Salah satunya merupakan teripang yang dijual sebagai keripik teripang, yang dalam keadaan segar, dimanfaatkan sebagai ‘urap blunyo’, menu khas buka puasa di daerah Gresik. Urap blunyo diyakini sebagai obat awet muda dan mempercepat penyembuhan luka.
Teripang adalah sebutan dari kelompok timun laut yang diperjualbelikan. Teripang susu (Holothuria fuscogilva) merupakan satu diantara 35 spesies teripang yang masuk ke pasar internasional dan dari 54 spesies yang diperdagangkan di Indonesia. Data yang lain menyebutkan, ada lebih dari 300 spesies timun laut yang sudah teridentifikasi ditemukan di perairan Indonesia.
Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), hingga tahun 2002, Indonesia merupakan eksportir teripang terbesar di dunia. Ekspor teripang, khususnya Tiongkok, sudah berlangsung selama lebih dari 400 tahun. Ekspor teripang dilakukan juga untuk memenuhi besarnya permintaan dari Jepang, Korea, Malaysia dan Singapura.
Rerata produksi teripang dari Indonesia tahun 1992-2002 adalah 2.556 ton berat kering. Jauh lebih tinggi daripada rerata produksi teripang Filipina (1.686 ton), Amerika Serikat (1.301 ton), Papua Nugini (1.115 ton), Tanzania (1.044 ton) dan Madagaskar (1.006 ton).
Mengapa harga teripang begitu mahal? Apakah karena manfaatnya yang cukup besar bagi kesehatan? Teripang diyakini bermanfaat bagi kesehatan dan menjadi bagian dalam pengobatan tradisional Cina. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa teripang mengandung senyawa bernilai tambah tinggi seperti glikosida triterpena, fucoidan, peptida bioaktif, vitamin, mineral, asam lemak, kolagen, gelatin, kondroitin sulfat, dan asam amino.
Dengan kandungan tersebut, diketahui bermanfaat sebagai imunomodulator, anti kanker, antibakteri, antiinflamasi, antiosteoarthritis, antitrombotik, antioksidan, antibakteri, dan anti aging, serta membantu penyembuhan luka. Kolagen yang bersumber dari laut, salah satunya dari teripang, merupakan sumber kolagen paling aman, karena selain lebih mudah diserap, juga bebas penularan zoonosis dan masalah kehalalan. Bukti-bukti ilmiah tersebut yang dijadikan dasar pengembangan produk-produk makanan dan biomedis berbahan baku teripang.
Kemungkinan kedua, dikaitkan dengan tingkat kesulitan mendapatkan teripang maupun proses pengolahan. Umumnya teripang diambil langsung dari alam. Nelayan mengambil dengan menyelam, dihadapkan pada risiko tuli atau lumpuh bahkan bisa kehilangan nyawa akibat dekompresi karena naik ke permukaan terlalu cepat dari kedalaman dengan tekanan tinggi. Disamping itu, proses pengolahan menjadi teripang kering hanya akan memperoleh berat sekitar 5% dari berat basah teripang.
Kemungkinan ketiga adalah ketidakimbangan antara penawaran dan permintaan (supply and demand). Ini nampaknya merupakan faktor yang lebih penting dibanding faktor pertama dan kedua. Sebenarnya, saat ini, di Indonesia juga sudah dikembangkan sentra-sentra budidaya teripang, antara lain adalah di Tual-Maluku, Bintan-Kepulauan Riau, dan Kepulauan Selayar-Sulawesi Selatan.
Di Tual-Maluku, pembenihan untuk menghasilkan anakan teripang memerlukan waktu 2-3 bulan, setelah itu benih diletakkan di petak-petak budidaya berukuran 30×20 cm di dasar laut atau ditebarkan bebas ke laut. Memerlukan waktu cukup lama untuk memanen teripang yaitu 9-14 bulan setelah penebaran benih.
Fakta bahwa beberapa spesies teripang bernilai komersial tinggi seperti Holothuria fuscogilva (teripang susu), H. whitmaei, H. nobilis, yang sejak tahun 2019 dalam Appendiks II The Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) menunjukkan bahwa spesies-spesies tersebut terancam punah jika perdagangan terus berlanjut tanpa pengaturan. Berarti bahwa jumlahnya di alam sudah mengkhawatirkan. Nampaknya kondisi yang sama akan menyusul untuk jenis-jenis teripang komersial yang lain.
Meski pihak berwenang sudah merespons kondisi tersebut dengan meregulasi perdagangan teripang komersial, yaitu harus menyertakan dokumen disertai dokumen karantina dari BBKHIT jika membawa teripang ke luar Papua dan Sulawesi, namun upaya lain harus dilakukan untuk mempertahankan ketersediaan teripang.
Upaya-upaya tersebut tentu saja memerlukan pemantauan rutin kondisi populasinya di alam. Juga diperlukan data mengenai reproduksinya-untuk dapat memprediksi bagaimana spesies tersebut bereproduksi, menentukan waktu pengambilan terbaik, dan kisaran ukuran aman yang dapat diambil.
Berdasar data jumlah spesies yang hidup di Indonesia yang lebih dari 300 spesies, besar kemungkinan spesies-spesies yang bukan merupakan spesies komersial, dapat menjadi spesies komersial jika didukung data ilmiah komposisi kandungan dan efeknya terhadap kesehatan.
Banyaknya pilihan spesies bermanfaat, selain spesies komersial yang ada saat ini, memungkinkan untuk menyelamatkan spesies yang terancam karena dengan demikian permintaan pasar terhadapnya akan menurun. Penambahan sentra-sentra budidaya teripang juga dapat dilakukan untuk mengatasi tingginya permintaan.
Tentu saja, upaya tersebut akan efektif jika ada “kolaborasi”, setidaknya, antara Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional, peneliti lintas ilmu dan perguruan tinggi, pemerintah daerah serta pihak-pihak berwenang lain. (Penulis adalah Guru Besar bidang Ilmu Histologi Hewan, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga)

