Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemungkinan masih akan bergerak di zona positif. Setelah pada Rabu kemarin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik dan berhasil menembus level 7.400.
“IHSG kemarin menguat 1,7 persen ke level 7.469,2, penutupan tertinggi sejak awal Desember 2024. Kenaikan didukung oleh arus masuk modal asing sebesar Rp663,7 miliar,” Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, Kamis (24/07).
Namun, tambah Rully, investor asing masih melanjutkan aksi jual pada sejumlah saham perbankan. Diantaranya BBRI (Rp106 miliar) dan BMRI (Rp66 miliar).
Indeks saham global mayoritas menguat, dengan kenaikan signifikan di Asia seperti Nikkei yang melonjak 3,5 persen. Pasar merespons positif kesepakatan dagang antara AS dan Jepang yang mencakup tarif resiprokal sebesar 15 persen.
Selain itu, dilaporkan adanya kemajuan dalam pembicaraan dagang antara AS dan Uni Eropa. Sehingga bursa saham di Eropa seperti CAC Prancis, naik 1,2 persen.
Di bursa Amerika Serikat, S&P500 kembali mencetak rekor penutupan tertinggi naik 0,8 persen di tengah optimisme kesepakatan dagang. “Setelah tercapai kesepakatan dengan Jepang, mata uang Yen juga menguat terhadap dolar AS,” ucap Rully.
Kini perhatian pasar tertuju pada pertemuan The Fed tanggal 31 Juli mendatang. Pelaku pasar menantikan kejelasan lebih lanjut terkait potensi perubahan suku bunga.
“Terutama di tengah spekulasi dan ketidakpastian terkait kepemimpinan Fed,” ujar Rully. Pasar sedang mengkhawatirkan independensi The Fed akibat tekanan dari pemerintahan Trump.
Tim Analis Mirae Asset Sekuritas menyebutkan, IHSG saat ini berada dalam kondisi teknikal yang relatif kuat. Pasar dalam fase bullish jangka pendek, level resistansi di rentang 7.475-7.519.
“Pergerakan ke atas masih sangat mungkin terjadi, jika pasar terus didorong oleh sentimen positif atau katalis eksternal. IHSG juga dapat mengalami perubahan harga yang tajam dalam waktu singkat jika IHSG gagal bertahan di level kunci 7.330,” kata Tim Mirae menutup analisisnya. (rri)

