Ratusan pemuda Surabaya menunjukkan kepeduliannya terhadap isu perlindungan anak dengan mengampanyekan Stop Kekerasan Anak melalui Festival Anak Surabaya 2025 di Lagoon Avenue Mall Surabaya.
Acara ini menghadirkan lebih dari 300 anak dari kawasan marginal untuk merasakan ruang aman, nyaman, sekaligus mendapatkan apresiasi atas hak-hak dasarnya.
Dengan mengusung tema ‘Luka Anak Hari Ini, Luka Bangsa Esok Hari, Stop Kekerasan Anak’, festival yang berlangsung pada 7 September 2025 tersebut merupakan hasil kolaborasi ratusan pemuda di Surabaya dengan Komunitas Wepose.
Lebih dari 200 relawan pemuda Surabaya, terlibat secara aktif mulai dari persiapan hingga pelaksanaan acara, membuktikan bahwa kepedulian sosial di kalangan generasi muda masih sangat tinggi.
Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa isu perlindungan anak bukan hanya urusan pemerintah atau organisasi tertentu, melainkan tanggung jawab bersama yang bisa dimulai dari langkah kecil kepedulian.
Acara ini tak dikemas dengan hanya sekadar hiburan, karena di balik panggung seni, permainan interaktif, dan motivasi dari para tokoh, terselip pesan kuat yakni perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama.
Festival ini menghadirkan anak-anak marginal sebagai partisipan utama acara dengan memberikan mereka ruang yang aman dan nyaman dalam berekspresi, mengembangkan bakat, sekaligus mendapatkan apresiasi sebagai implementasi hak dasar anak yang diwujudkan dalam rangkaian kegiatan.
Dalam keterangannya, Penggagas Acara Festival Anak Surabaya 2025 Tabitha N. Christy yang juga merupakan Founder Wepose menegaskan bahwa acara keberhasilan festival ini adalah bukti kepedulian generasi muda.
“Festival Anak Surabaya 2025 membuktikan masih banyak pemuda hebat yang peduli akan masalah di sekitarnya. Karena pada akhirnya, manusia terbaik adalah mereka yang memberi manfaat bagi sesamanya,” ujarnya, dikonfirmasi Selasa (09/09).
Melalui Festival Anak Surabaya 2025, Tabitha mengungkapkan, Wepose Indonesia ingin mengingatkan kembali bahwa hak anak adalah hak dasar yang harus dijamin tanpa terkecuali.
Ketua Komnas PA Surabaya. Syaiful Bachri saat memberikan apresiasi kepada anak. Foto : Ketua Komnas PA Surabaya
“Anak-anak marginal, dengan segala keterbatasannya, tetap berhak atas perlindungan, pendidikan, kesehatan, dan kesempatan untuk berkembang. Dengan semangat kolaborasi, acara ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk terus menjaga, melindungi, dan menghargai setiap anak sebagai generasi penerus bangsa,” ungkap Tabitha.
Dukungan juga datang dari berbagai pihak. Anggota DPRD Kota Surabaya sekaligus dokter relawan, Michael Leksodimulyo, memberikan motivasi kepada anak-anak binaan.
“Tidak ada anak-anak yang tidak hebat. Semua hak nya sama, semuanya hebat, dan semuanya bisa sukses sesuai perjuangannya masing-masing,” tegas Michael. (ist)

