Isu transisi energi dan keberlanjutan industri kini menjadi ladang inovasi generasi muda. Hal itu dibuktikan oleh mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR), Alvyan Ananta Asis, yang sukses meraih dua penghargaan nasional melalui inovasi baterai kendaraan listrik berbasis limbah pertanian.
Dalam ajang Young Entrepreneur Days Universitas Indonesia (UI) 2025, Alvyan bersama rekannya dari Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menyabet Juara 3 Business Plan Competition serta dinobatkan sebagai Best Presenter.
Inovasi yang diusung berupa pengembangan material anoda baterai EV dari hard carbon hasil olahan limbah kulit kakao. Ide ini dinilai menjawab tantangan industri baterai nasional yang masih bergantung pada grafit impor dengan dampak lingkungan cukup besar.
“Pemanfaatan limbah kulit kakao menjadi material baterai merupakan langkah strategis untuk menekan jejak karbon sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi sektor pertanian,” kata Alvyan.
Menurutnya, pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga memperhitungkan kelayakan pasar, keberlanjutan lingkungan, serta dampak ekonomi lokal. Konsep tersebut sejalan dengan kebijakan nasional dalam mendorong kendaraan listrik dan industri hijau.
Keunggulan proposal tim juga terletak pada integrasi riset berbasis data dengan analisis bisnis yang aplikatif. Hal inilah yang membuat ide mereka dinilai kontekstual dan kompetitif oleh dewan juri.
Penghargaan Best Presenter diraih berkat penyampaian gagasan yang terstruktur, didukung visualisasi data serta narasi yang mampu menjembatani isu teknologi dan kebutuhan industri.
Ke depan, Alvyan berharap inovasi baterai EV dari limbah kakao ini dapat memasuki tahap pengujian laboratorium lanjutan dan pengembangan skala pilot. Ia juga menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menciptakan solusi energi berkelanjutan.
“Kewirausahaan mahasiswa harus diarahkan untuk memberi dampak nyata, tidak hanya keuntungan ekonomi, tetapi juga manfaat sosial dan lingkungan,” pungkasnya. (tas)

