Pengalaman akademik dan aktivitas kemahasiswaan selama menempuh pendidikan di Universitas Airlangga (UNAIR) terbukti menjadi bekal strategis bagi alumninya dalam memasuki dunia kerja. Hal tersebut tercermin dari perjalanan Moch Ihwanul Abidin Dwi Tama, alumnus Program Studi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) UNAIR, yang kini sukses meniti karier sebagai software engineer di PT Adhikara Wiyasa Gani.
Ihwanul menilai bahwa kombinasi pembelajaran di kelas, keterlibatan organisasi, serta pengalaman proyek menjadi fondasi penting dalam membangun kompetensi profesional di bidang teknologi.
Aktif Robotika Sejak Mahasiswa
Selama berkuliah di FTMM UNAIR, Ihwanul aktif mengembangkan minat dan kemampuannya melalui berbagai kegiatan, terutama di bidang robotika. Ketertarikannya mulai terasah saat bergabung dalam tim robot UNAIR yang dipersiapkan untuk ajang Kontes Robot Indonesia (KRI).
Dalam berbagai kompetisi tersebut, Ihwanul mengemban sejumlah peran strategis, mulai dari perancang desain computer aided design (CAD) pada Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI), bagian manufaktur pada Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI), hingga tim mekanik pada Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI).
Selain kompetisi, Ihwanul juga terlibat dalam proyek kolaboratif lintas disiplin bersama mahasiswa Teknik Elektro UNAIR. Salah satu proyek yang dikerjakan adalah pengembangan robot pembersih panel surya atau robot Arvos.
“Saya terlibat di bagian elektrikal dan mekanik. Dari proyek inilah saya mulai menerapkan ilmu kelistrikan yang kemudian sangat berguna saat mengikuti program magang,” tuturnya.
Dari Magang hingga Software Engineer
Berbekal pengalaman tersebut, Ihwanul mengikuti Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) yang diselenggarakan oleh Kemendikbudristek (kini Kemendiktisaintek). Ia menjalani program magang sebagai teknisi elektrikal di PT Adhikara Wiyasa Gani.
Meski fokus awalnya pada bidang teknis, Ihwanul mengaku mulai tertarik dan terlibat dalam pengembangan perangkat lunak selama masa magang. “Awalnya saya membantu teman yang menangani bagian pemrograman. Meski hanya dasar-dasar, lama-kelamaan saya mulai memahami logika dan algoritma,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang mengantarkannya mendalami dunia software engineering. Kemampuannya terus berkembang hingga dipercaya terlibat dalam proyek yang berdampak langsung pada lingkungan kampus, salah satunya proyek UNAIR Bike.
“Dalam proyek UNAIR Bike, saya menangani perakitan, elektrikal, serta enkripsi data dari sensor yang kemudian diintegrasikan dalam bentuk aplikasi di App Store dan Play Store,” jelas Ihwanul.
Kontribusi di Dunia Industri
Selama kurang lebih tiga tahun berkarier di PT Adhikara Wiyasa Gani, Ihwanul telah terlibat dalam berbagai proyek teknologi lintas institusi. Ia menangani pengembangan dan pemeliharaan sistem di sejumlah perguruan tinggi di Surabaya, seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), hingga Universitas Airlangga.
Selain itu, ia juga terlibat dalam riset dan pengembangan sistem monitoring energi. “Baru-baru ini saya melakukan riset tentang sistem monitoring dan kontrol penggunaan gedung, yaitu SIPEGI (Sistem Penghemat Energi) UNAIR. Saya juga terlibat dalam proyek monitoring baterai robot shuttle pengantar barang di warehouse PT Wilmar Nabati Indonesia,” paparnya.
Pesan untuk Mahasiswa
Ihwanul berpesan kepada mahasiswa yang ingin menekuni bidang pengembangan perangkat lunak agar terus belajar, berani mencoba, dan tidak bergantung sepenuhnya pada kecanggihan kecerdasan buatan (AI).
“Di lingkungan kerja, AI memang bisa memberi masukan dan rekomendasi. Namun, tidak semua orang bisa memanfaatkannya dengan tepat. Tetap dibutuhkan pemahaman logika dan kemampuan merumuskan permasalahan secara jelas,” pungkasnya.
Kisah Ihwanul menjadi bukti bahwa pengalaman aktif selama kuliah, ditopang dengan kemauan belajar dan adaptasi, mampu membuka jalan karier yang luas di industri teknologi. (tas)
