Generasi Z dikenal dengan berbagai pendekatan unik dalam menghadapi tekanan hidup, termasuk dalam mengelola emosi dan kecemasan. Salah satu tren yang cukup menonjol adalah penggunaan kartu tarot sebagai sarana mencari kejelasan atas perasaan gelisah terkait masa depan maupun pengalaman hidup.
Fenomena ini mendapat sorotan dari Psikolog Klinis Universitas Airlangga (UNAIR), Dian Kartika Amelia Arbi, M.Psi., yang memandang tarot sebagai bentuk coping mechanism psikologis, bukan semata-mata praktik mistis.
“Tarot sebenarnya bukan hal baru. Namun, pada Gen Z, tarot sering digunakan ketika mereka merasa tidak berdaya menghadapi situasi yang sulit dan tidak pasti. Mereka mencari penjelasan eksternal yang bisa memberi rasa aman,” ujarnya, Kamis (15/1/2026).
Menurut Dian, pembacaan tarot dapat memunculkan khayalan atau narasi yang membuat individu merasa seolah mampu memahami apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Narasi tersebut berperan dalam menurunkan tingkat kecemasan.
“Tarot menawarkan cerita tentang diri tanpa penilaian, sehingga bagi sebagian orang terasa menenangkan ketika mereka berada dalam kondisi cemas,” jelasnya.
Namun, ia menekankan bahwa penggunaan tarot memiliki dua sisi. Jika dimanfaatkan sebagai bahan refleksi diri yang mendorong evaluasi dan perkembangan personal, maka tidak menjadi persoalan. Sebaliknya, ketergantungan berlebihan dapat membuat individu berhenti berupaya memperbaiki kondisi dirinya.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai self-fulfilling prophecy, yakni ketika seseorang meyakini suatu prediksi sehingga perilakunya justru mengarah pada terwujudnya prediksi tersebut.
“Bukan karena ramalan itu benar, tetapi karena individu sudah percaya, sehingga energi dan tindakannya mengikuti keyakinan tersebut,” ungkap Dian.
Sebagai solusi yang lebih sehat, Dian menyarankan berbagai cara pengelolaan stres, seperti menulis jurnal, mengatur waktu dengan baik, menjaga pola makan bergizi, dan rutin berolahraga. Apabila tekanan emosional semakin berat dan sulit ditangani sendiri, bantuan profesional dari psikolog atau psikiater menjadi pilihan terbaik. (tas)
