Memasuki bulan Ramadan, perhatian terhadap kondisi kesehatan menjadi hal penting, terutama bagi penderita gangguan ginjal dan lambung. Melalui seminar edukasi yang digelar Rumah Sakit Universitas Airlangga pada 18 Februari 2026, masyarakat diimbau untuk berkonsultasi sebelum memutuskan berpuasa.
Dalam kegiatan tersebut, dr Mutiara Rizki Haryati SpPD K-GH menjelaskan bahwa penyakit ginjal kronis diklasifikasikan dalam lima stadium. Penentuan boleh atau tidaknya berpuasa harus mempertimbangkan fungsi ginjal pasien.
“Stadium awal umumnya masih aman dengan pengawasan medis. Namun stadium lanjut, terutama stadium empat dan lima, tidak direkomendasikan karena dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal,” ujarnya.
Pasien yang menjalani terapi rutin seperti cuci darah disarankan tidak berpuasa karena dapat memperburuk kondisi kesehatan. Selain itu, terapi tersebut juga berpotensi membatalkan puasa. Pasien pasca transplantasi ginjal disarankan menunggu minimal satu tahun sebelum menjalankan ibadah puasa.
Sementara itu, dr Andi Ratna Maharani menekankan pentingnya menjaga pola makan bagi penderita gangguan lambung. Ia menyebutkan bahwa kebiasaan menunda makan, konsumsi makanan pedas dan berlemak, serta minuman berkafein dapat memicu kambuhnya maag saat puasa.
“Jika muncul gejala berat seperti muntah darah, nyeri hebat, atau BAB berwarna hitam, segera batalkan puasa dan periksakan diri,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengatur porsi makan saat sahur dan berbuka agar lambung tidak bekerja terlalu berat. Menghindari stres dan menjaga aktivitas fisik ringan turut membantu menjaga kondisi tetap stabil selama Ramadan.
Melalui seminar ini, RS UNAIR berharap masyarakat lebih memahami kondisi kesehatannya masing-masing. Dengan konsultasi yang tepat dan pengaturan pola hidup yang disiplin, ibadah puasa dapat dijalankan dengan aman tanpa mengabaikan aspek medis. (tas)

