Pemulihan ekonomi pascabencana tidak cukup hanya mengandalkan bantuan modal dan dukungan fisik. Perubahan pola pikir dinilai menjadi fondasi penting agar pelaku usaha mikro mampu bangkit secara bertahap dan berkelanjutan. Penguatan growth mindset menjadi salah satu strategi yang ditekankan dalam pendampingan pelaku usaha terdampak bencana di Aceh.
Dosen Sosiologi Universitas Airlangga (UNAIR), Rafi Aufa Mawardi, SSosio., MSosio., menegaskan bahwa growth mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan dan keberhasilan dapat dikembangkan melalui proses belajar, latihan, dan pengalaman. Dalam konteks pascabencana, pola pikir ini mendorong pelaku usaha untuk melihat kegagalan sebagai bagian dari proses, bukan akhir dari perjalanan usaha.
“Growth mindset bukan sekadar optimisme, melainkan optimisme yang disertai tindakan nyata,” ujarnya dalam sesi materi, Sabtu (21/2/2026).
Menurut Rafi, banyak pelaku usaha mikro terjebak dalam fixed mindset saat menghadapi kehilangan modal, pelanggan, atau sarana produksi akibat bencana. Pola pikir seperti “Saya tidak bisa lagi berusaha” atau “Usaha saya sudah gagal” justru memperlambat proses pemulihan. Dengan pendekatan growth mindset, narasi tersebut dapat diubah menjadi “Saya bisa memulai kembali dari kecil” atau “Saya perlu strategi baru untuk menjangkau pelanggan.”
Perubahan perspektif ini penting untuk menggeser fokus dari apa yang hilang menuju peluang yang masih dapat dibangun. Rafi menilai, keterampilan, jaringan pelanggan, pengalaman usaha, serta dukungan keluarga merupakan aset sosial yang sering kali luput disadari oleh pelaku usaha.
Ia mengungkapkan, terdapat sejumlah langkah konkret untuk menumbuhkan kembali mental kewirausahaan. Pertama, membiasakan penggunaan kalimat reflektif seperti “Saya belum bisa” sebagai bentuk pengakuan bahwa kemampuan dapat ditingkatkan. Kedua, mengidentifikasi dan memanfaatkan modal nonfinansial yang masih dimiliki. Ketiga, merayakan kemajuan kecil, seperti keberhasilan menjual beberapa produk di minggu pertama pascabencana.
“Menjual 10 produk setelah banjir adalah capaian yang patut diapresiasi. Itu bukti usaha mulai bergerak kembali,” katanya.
Selain itu, membangun lingkungan pendukung juga menjadi faktor penting. Solidaritas antar pelaku usaha, seperti berbagi bahan baku atau saling mempromosikan produk, dapat mempercepat proses pemulihan ekonomi komunitas.
Meski demikian, Rafi mengakui bahwa membangun growth mindset bukan tanpa tantangan. Rasa malu memulai dari nol, trauma akibat bencana, serta kecenderungan membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu kerap menjadi hambatan psikologis.
Ia menegaskan, kebangkitan tidak harus dimaknai sebagai kembali ke kondisi sebelum bencana dalam waktu singkat. Proses tersebut adalah rangkaian langkah kecil yang konsisten.
“Bencana boleh merusak tempat usaha, tetapi jangan sampai merusak harapan,” tutupnya. (tas)

