Bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir 2025 masih menyisakan dampak mendalam bagi para korban. Selain kerugian material akibat banjir dan tanah longsor, warga kini menghadapi luka psikologis yang tak kasatmata. Trauma berkepanjangan membuat sebagian korban masih hidup dalam kewaspadaan berlebih setiap kali hujan turun.
Salah satu korban terdampak, Ramiati, mengisahkan rumahnya tenggelam dan dipenuhi lumpur saat bencana terjadi tiga bulan lalu. Ia bersama keluarganya terpaksa mengungsi dan kehilangan mata pencaharian. Ramiati mengaku mengalami trauma berat, termasuk rasa cemas berlebihan dan jantung berdebar saat mendengar suara hujan deras. Keponakannya yang masih berusia lima tahun juga menunjukkan ketakutan serupa.
Merespons kondisi tersebut, Universitas Airlangga (UNAIR) hadir memberikan pendampingan psikososial bagi para korban. Program ini bertujuan membantu warga memulihkan kondisi mental dan mencegah dampak trauma berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Dosen Vokasi UNAIR, Edith Frederika Puruhito SKM MSc, menjelaskan bahwa trauma pasca-bencana merupakan respons yang wajar. Namun, tidak semua korban menyadari bahwa mereka sedang mengalami tekanan psikologis. “Trauma dapat dialami siapa saja, mulai dari anak-anak, ibu hamil, lansia, hingga penyandang disabilitas dan mereka yang kehilangan anggota keluarga,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Menurut Edith, gejala trauma dapat muncul dalam bentuk psikologis maupun fisik. Secara psikis, korban kerap mengalami hypervigilance atau kewaspadaan berlebihan, kilas balik peristiwa (flashback), perasaan hampa (numbness), hingga kelelahan ekstrem. Sementara itu, secara fisik dapat muncul insomnia, gangguan pencernaan, jantung berdebar, sakit kepala, keringat berlebih, dan nyeri tubuh.
Ia mengingatkan pentingnya pencegahan agar trauma tidak berkembang menjadi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Upaya tersebut dimulai dari kesadaran diri (self awareness), validasi emosi, serta langkah-langkah kecil untuk memperbaiki kondisi setiap hari. “Motivasi pasca-trauma tidak hadir secara instan, tetapi dibangun dari proses menerima kenyataan baru dan menemukan makna setelah krisis,” jelasnya.
Sebagai bagian dari pendampingan, Edith juga mengenalkan teknik akupresur sebagai metode relaksasi tanpa jarum yang membantu meredakan stres. Pendekatan ini melengkapi dukungan psikososial berbasis empati yang diberikan kepada warga.
Program tersebut sejalan dengan komitmen UNAIR dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau United Nations melalui SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Pendampingan ini diharapkan mampu membantu korban bangkit dan menata kembali kehidupan mereka pasca-bencana. (tas)

