Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menggelar Pasar Murah di Halaman Gedung Serbaguna, Kelurahan Pare, Kabupaten Kediri, Minggu (1/3), sebagai bagian dari langkah strategis pengendalian inflasi dan stabilisasi harga bahan pokok menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah.
Kegiatan ini menjadi salah satu instrumen intervensi Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk menjaga keterjangkauan harga di tengah tren kenaikan permintaan selama Ramadan. Khofifah menegaskan, Pasar Murah dirancang untuk memberikan alternatif belanja dengan harga lebih rendah dibandingkan harga pasar.
“Kalau ayam di pasaran rata-rata Rp40 ribu per kilogram, di sini dijual Rp30 ribu. Telur yang biasanya Rp30 ribu, di sini Rp22 ribu,” ujarnya di sela peninjauan stan komoditas.
Berbagai kebutuhan pokok strategis dijual dengan harga subsidi, antara lain beras premium Rp14.000 per kilogram, beras medium Rp11.000 per kilogram, MinyaKita Rp13.000 per liter, gula pasir Rp14.000 per kilogram, hingga tepung terigu Rp10.000 per kilogram. Selain itu, bawang putih, bawang merah, cabai, dan daging ayam ras juga dipasarkan di bawah harga umum.
Menurut Khofifah, program ini bersifat komplementer terhadap kebijakan pemerintah kabupaten/kota dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga. Sinergi lintas level pemerintahan dinilai penting untuk memperluas jangkauan intervensi dan memperkuat efektivitas pengendalian inflasi daerah.
Selain Pasar Murah, Pemprov Jatim bersama Bank Indonesia juga mengoperasikan Mobil EPIK (Etalase Pengendalian Inflasi Kabupaten/Kota) yang mendistribusikan komoditas seperti beras, gula, dan minyak goreng ke berbagai wilayah. Program ini menjadi bagian dari penguatan peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan pendekatan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Khofifah menyebut, menjelang hari besar keagamaan nasional, fluktuasi harga menjadi tantangan yang perlu diantisipasi secara terukur. Melalui intervensi langsung seperti Pasar Murah, pemerintah berupaya menjaga stabilitas sekaligus memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga hingga ke tingkat desa.
Antusiasme warga Pare terlihat tinggi sejak pagi hari. Masyarakat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membeli kebutuhan pokok dengan harga lebih hemat. Pemerintah berharap kegiatan serupa dapat terus dimasifkan di berbagai daerah agar dampaknya semakin luas.
“Harapannya masyarakat bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan lebih tenang tanpa terbebani lonjakan harga,” kata Khofifah.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi komprehensif pengendalian inflasi Jawa Timur agar tetap terkendali sepanjang Ramadan hingga Idul Fitri. (tas)
