Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mempercepat penataan kawasan Surabaya Utara. Salah satu yang menjadi fokus pembenahan dalam dua tahun terakhir adalah kawasan Jalan Kalimas Timur yang sebelumnya dikenal kumuh, kini bertransformasi menjadi area yang lebih tertata, rapi, dan estetik.
Lurah Nyamplungan, Estu Sulaksono, menjelaskan bahwa penataan dilakukan secara bertahap dan masif, mencakup penyediaan lokasi khusus bagi pedagang kaki lima (PKL), pembangunan sentra kuliner, hingga pemasangan lampu hias dan penerangan jalan umum (PJU). Kawasan tersebut kini menjadi bagian dari pengembangan Sentra Wisata Kuliner Kalimas Timur (SWK Kalimas Timur).
Menurut Estu, para PKL yang kini menempati SWK Kalimas Timur sebelumnya berjualan di bahu Jalan KH Mas Mansyur. Mereka berasal dari tiga kecamatan, yakni Pabean Cantian, Simokerto, dan Semampir. Pada 2024, sebagian pedagang direlokasi ke Serambi Ampel, sementara lainnya dipindahkan ke SWK Kalimas Timur.
“Pedagang di SWK ini terbagi dua jenis, yakni penjual perkakas atau barang bekas dan pedagang kuliner. Jam operasionalnya juga dibagi dua sesi,” ujar Estu, Rabu (4/3/2026).
Ia merinci, pedagang perkakas beroperasi mulai pukul 06.00 hingga 11.00 WIB, dan area harus steril pada siang hari. Sementara pedagang kuliner mulai berjualan pukul 16.00 hingga 23.00 WIB. Skema ini diterapkan untuk menjaga ketertiban sekaligus mengoptimalkan fungsi kawasan.
Untuk meningkatkan daya tarik pengunjung, Kelurahan Nyamplungan di Kecamatan Pabean Cantian juga melakukan berbagai inovasi. Di antaranya pembangunan gapura penanda SWK, rencana dermaga perahu hias, penyediaan tempat penyimpanan rombong PKL, pemasangan CCTV, mural tematik, serta lampu hias di sepanjang Kalimas Timur dan Barat.
Konsep tersebut diarahkan untuk mendukung wisata perahu hias pada malam hari, sehingga pengunjung dapat menikmati panorama sungai yang lebih atraktif. Ke depan, SWK Kalimas Timur direncanakan terintegrasi dengan destinasi wisata di Surabaya Utara melalui konsep wisata air dan darat, termasuk wacana pengoperasian mobil kuno dari Serambi Ampel menuju kawasan tersebut.
Selain aspek fisik, pemkot juga mendorong partisipasi generasi muda dalam pengembangan kawasan. Melalui program dukungan anggaran Rp5 juta per RW, anak muda didorong berinovasi menciptakan kampung tematik maupun produk kuliner khas yang dapat dikolaborasikan dengan potensi wisata setempat.
“Harapannya, pemuda di Nyamplungan tidak hanya mempercantik kawasan, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian warga,” pungkas Estu.
Dengan penataan berkelanjutan ini, Kalimas Timur diharapkan menjadi simpul ekonomi baru sekaligus destinasi wisata alternatif di Surabaya Utara. (tas)
