Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat kerja sama internasional dengan Pemerintah Inggris melalui pertemuan antara Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dan Minister Counsellor for Development dari Kedutaan Besar Inggris, Peter Rajadiston. Pertemuan yang berlangsung di Kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan Surabaya, Senin (9/3/2026) tersebut membahas berbagai agenda strategis, khususnya di sektor pendidikan tinggi dan pengembangan transportasi perkotaan.
Pertemuan ini menjadi tindak lanjut dari kesepakatan kerja sama antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang dicapai pada Januari 2026. Fokus utama kolaborasi mencakup peningkatan kualitas pendidikan internasional di Indonesia serta modernisasi sistem transportasi di kawasan perkotaan Jawa Timur.
Dalam sektor pendidikan, Wakil Gubernur Emil Dardak menyoroti keberhasilan program pascasarjana King’s College London (KCL) yang beroperasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singosari, Kabupaten Malang. Program tersebut kini bersiap memasuki angkatan ketiga sejak pertama kali dibuka.
Menurut Emil, keberadaan kampus internasional tersebut memberikan kesempatan bagi generasi muda Indonesia untuk memperoleh pendidikan kelas dunia tanpa harus menempuh studi di luar negeri secara penuh.
“Program ini juga bekerja sama dengan berbagai institusi, termasuk LPDP. Harapannya, semakin banyak talenta muda Indonesia yang dapat mengakses pendidikan internasional berkualitas tanpa meninggalkan tanah air sepenuhnya,” ujarnya.
Keberhasilan program tersebut, lanjut Emil, mendorong rencana pengembangan lebih lanjut, baik melalui penambahan program studi maupun perluasan fasilitas pendidikan. Pengembangan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga memberikan dampak ekonomi positif bagi daerah sekitar.
Selain pendidikan, pertemuan tersebut juga menyoroti pengembangan infrastruktur transportasi di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Salah satu agenda yang dibahas adalah rencana pembangunan sistem kereta api perkotaan yang lebih modern untuk mendukung mobilitas masyarakat.
Emil menjelaskan bahwa proyek tersebut berbeda dengan Surabaya Regional Railway Line (SRRL) yang berfokus pada peningkatan jalur kereta yang sudah ada. Kerja sama dengan Pemerintah Inggris justru diarahkan pada kajian pembangunan jalur baru yang dapat menjangkau kawasan yang belum terhubung dengan sistem transportasi massal.
Hasil kajian awal menunjukkan adanya kebutuhan jalur transportasi yang menghubungkan wilayah barat dan timur Surabaya yang selama ini belum terlayani secara optimal.
“Beberapa studi teknis telah mengidentifikasi rute strategis, terutama untuk menghubungkan kawasan barat dan timur Surabaya. Ini menjadi salah satu fokus kajian dalam pengembangan transportasi perkotaan,” jelasnya.
Dari berbagai opsi moda transportasi yang dikaji, sistem Light Rail Transit (LRT) dinilai paling sesuai untuk karakteristik mobilitas di Surabaya. Moda transportasi tersebut dianggap lebih efisien dan fleksibel untuk kawasan perkotaan yang memiliki kepadatan tinggi.
Selain aspek pembangunan infrastruktur, pembahasan juga mencakup konsep pengelolaan transportasi aglomerasi yang terintegrasi di kawasan Surabaya Raya yang meliputi Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Pemerintah Provinsi Jawa Timur berencana mengadaptasi model pengelolaan transportasi terpadu seperti yang diterapkan di London melalui sistem Transport for London (TfL).
Model tersebut memungkinkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari operator kereta api, dinas perhubungan, hingga aparat keamanan, bekerja dalam satu sistem manajemen transportasi terpadu.
Meski demikian, Emil menegaskan bahwa pembangunan transportasi publik berskala besar memerlukan dukungan fiskal yang kuat dan koordinasi dengan pemerintah pusat. Oleh karena itu, kajian teknis dan model pembiayaan proyek masih terus dibahas sebelum masuk ke tahap implementasi.
Sementara itu, Peter Rajadiston menyampaikan bahwa Pemerintah Inggris menyambut baik peluang kerja sama dengan Jawa Timur. Ia berharap kolaborasi tersebut dapat memperkuat pembangunan infrastruktur perkotaan serta meningkatkan kualitas sistem transportasi di Surabaya dan wilayah sekitarnya.
“Kami sangat menantikan kelanjutan kerja sama ini untuk memastikan pembangunan infrastruktur urban yang lebih baik bagi Surabaya dan kawasan sekitarnya,” ujarnya. (tas)
