Peran perempuan dalam menghadapi derasnya arus informasi digital menjadi sorotan dalam seminar yang digelar Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Jawa Timur. Kegiatan yang berlangsung di Aula PWI Jawa Timur ini menjadi bagian dari peringatan Hari Pers Nasional 2026 dan HUT ke-80 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Dalam forum tersebut, Arumi Bachsin Emil Dardak menekankan pentingnya kesadaran perempuan dalam menggunakan media sosial secara bijak. Ia menilai perempuan memiliki posisi strategis, terutama dalam lingkungan keluarga, karena informasi yang disampaikan oleh ibu cenderung lebih dipercaya oleh anggota keluarga.
Arumi memaparkan bahwa jumlah penduduk Jawa Timur pada 2025 mencapai 42,352 juta jiwa, dengan komposisi perempuan sedikit lebih banyak dibanding laki-laki. Dari sisi digital, tingkat penetrasi internet nasional telah mencapai 80,66 persen, dengan rincian pengguna laki-laki sebesar 82,73 persen dan perempuan 78,57 persen.
Menariknya, perempuan justru mendominasi penggunaan media sosial dengan angka sekitar 56,3 persen. Dominasi ini bahkan telah terlihat sejak beberapa tahun terakhir, termasuk pada platform Instagram yang pengguna perempuannya telah melampaui 50 persen sejak 2021.
Arumi juga menguraikan sejumlah platform yang paling banyak diakses masyarakat Indonesia, di antaranya WhatsApp dengan tingkat penggunaan mencapai 91,7 persen, disusul Instagram 84,6 persen, Facebook 83 persen, TikTok 77,4 persen, Telegram 61,6 persen, dan Messenger 50,5 persen. Tingginya angka ini menunjukkan besarnya pengaruh media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan kondisi tersebut, ia mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap penggunaan media sosial, khususnya bagi anak-anak. Selain itu, ia juga mengimbau agar masyarakat tidak membagikan aktivitas secara langsung atau real time, karena berpotensi menimbulkan risiko keamanan.
Dalam kesempatan yang sama, Sri Untari Bisowarno menambahkan bahwa pengawasan digital perlu diimbangi dengan pendekatan spiritual dan komunikasi dalam keluarga. Ia menekankan pentingnya peran orang tua dalam membimbing anak-anak agar tetap berada pada jalur yang positif.
Sementara itu, Eko Pamuji mengingatkan bahwa masyarakat harus bersikap kritis terhadap informasi yang beredar di media sosial. Ia menilai internet memiliki karakter seperti ruang terbuka yang penuh risiko, sehingga pengguna perlu melakukan verifikasi sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi.
Seminar ini juga menghadirkan Sherlita Ratna Dewi Agustin sebagai narasumber, serta dihadiri berbagai organisasi perempuan dan masyarakat. Kegiatan tersebut menegaskan pentingnya literasi digital sebagai fondasi dalam membangun masyarakat yang cerdas, aman, dan bertanggung jawab di era digital. (tas)

