Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) memperkuat peran strategisnya di sektor akuakultur melalui penyelenggaraan lokakarya internasional Asian Fish Welfare Network Project. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong praktik budidaya ikan yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan hewan air.
Lokakarya bertajuk Improving Farmed Fish Welfare in Asia tersebut digelar di Gedung FPK Kampus MERR-C dan melibatkan kolaborasi lintas institusi, yakni Institut Akuakultur University of Stirling serta Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP) Jakarta. Agenda ini juga didukung oleh Coefficient Giving sebagai penyandang dana proyek.
Mengusung tema besar Fish Welfare for Farmer Welfare, forum ini menitikberatkan pada integrasi antara riset, pendidikan, dan penyuluhan dalam meningkatkan standar kesejahteraan ikan budidaya. Program ini melibatkan tiga negara utama di kawasan Asia Tenggara, yakni Indonesia, Thailand, dan Vietnam, yang dikenal sebagai produsen penting dalam industri akuakultur global.
Wakil Dekan III FPK UNAIR, Annur Ahadi Abdillah, menyampaikan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini menjadi tonggak penting bagi Indonesia. Ia menilai kepercayaan internasional yang diberikan kepada UNAIR sebagai tuan rumah menunjukkan pengakuan terhadap kapasitas akademik dan kontribusi Indonesia di sektor perikanan.
Menurut Annur, kehadiran para pakar dan delegasi dari berbagai negara diharapkan mampu membuka ruang pertukaran pengetahuan yang aplikatif. Diskusi yang berlangsung tidak hanya berorientasi teoritis, tetapi juga diarahkan pada solusi konkret untuk meningkatkan kualitas praktik budidaya di lapangan.
Sementara itu, Prof. I Nyoman Suyasa dari Politeknik AUP Jakarta menekankan bahwa kesejahteraan ikan memiliki keterkaitan langsung dengan performa industri perikanan. Ia menjelaskan bahwa standar kesejahteraan yang baik akan berdampak pada peningkatan produktivitas, kualitas hasil panen, serta keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.
Ia juga menyoroti bahwa pendekatan kesejahteraan hewan tidak lagi sekadar isu etika, melainkan telah menjadi bagian dari strategi bisnis modern dalam industri akuakultur. Dengan demikian, penerapan prinsip ini dinilai mampu memperkuat daya saing sektor perikanan Indonesia di pasar global.
Sebagai salah satu produsen akuakultur terbesar, Indonesia memiliki posisi strategis dalam mendorong transformasi praktik budidaya yang lebih berkelanjutan. Melalui forum ini, para pemangku kepentingan diharapkan dapat merumuskan langkah-langkah inovatif yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem.
Selain memperluas jejaring internasional, lokakarya ini juga menjadi wadah untuk memperkuat sinergi antara akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan. Diskusi yang terbangun diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan serta model implementasi yang dapat diterapkan secara luas di sektor perikanan nasional.
Dengan semakin meningkatnya perhatian global terhadap keberlanjutan, inisiatif seperti Asian Fish Welfare Network dinilai menjadi langkah penting dalam memastikan industri akuakultur berkembang secara bertanggung jawab. FPK UNAIR melalui kegiatan ini menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan sektor perikanan yang adaptif, inovatif, dan berkelanjutan. (tas)

