Upaya memperkuat kualitas pendidikan inklusif di Jawa Timur terus digencarkan. Ketua DPD Perkumpulan Penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini (PP PAUD) Jawa Timur, Isye Adhy Karyono, secara resmi membuka Workshop Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bagi guru PAUD yang digelar di Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Kamis (23/4/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi peningkatan kapasitas tenaga pendidik, khususnya dalam menghadapi dinamika pembelajaran di sekolah inklusi. Dalam sambutannya, Isye menekankan pentingnya kesiapan guru dalam memberikan pendampingan yang tepat bagi anak berkebutuhan khusus sejak usia dini.
Menurut Isye, masih banyak pendidik PAUD yang belum memiliki kepercayaan diri penuh dalam menangani ABK. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Ia menjelaskan bahwa sekolah inklusi menuntut pendekatan yang berbeda, karena dalam satu lingkungan belajar terdapat anak dengan kebutuhan khusus dan anak tanpa kebutuhan khusus. Kondisi ini membutuhkan strategi pembelajaran yang adaptif serta pemahaman mendalam terhadap karakteristik peserta didik.
Lebih lanjut, Isye menyoroti pentingnya deteksi dini sebagai langkah awal dalam penanganan ABK. Dengan identifikasi yang tepat, guru dapat menentukan bentuk intervensi yang sesuai sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan berdampak positif terhadap perkembangan anak.
Workshop ini tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga memberikan panduan praktis kepada peserta. Para guru dibekali metode untuk mengenali tanda-tanda awal kebutuhan khusus serta menyusun strategi pembelajaran yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan individu.
Isye juga menegaskan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar kebijakan, melainkan komitmen bersama untuk memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan yang setara. Oleh karena itu, diperlukan kesamaan persepsi di antara seluruh pengelola dan pendidik PAUD dalam memahami penanganan ABK.
Dalam konteks ini, peran guru menjadi sangat krusial sebagai fasilitator yang mampu menggali potensi anak. Ia menilai bahwa banyak anak berkebutuhan khusus memiliki kemampuan yang tidak kalah, bahkan dalam beberapa kasus melebihi anak lainnya, apabila mendapatkan pendampingan yang tepat.
Sebagai contoh, Isye menyinggung keberhasilan kelompok seni Touch Hearth Band yang menjadi bukti bahwa ABK dapat berkembang optimal dengan dukungan pendidikan yang sesuai. Hal ini sekaligus menjadi motivasi bagi para pendidik untuk lebih serius dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran yang inklusif.
Selain peningkatan kompetensi teknis, workshop ini juga mendorong perubahan pola pikir guru dalam memandang pendidikan inklusif. Guru diharapkan tidak hanya memahami metode, tetapi juga memiliki empati dan kesadaran tinggi terhadap pentingnya kesetaraan akses pendidikan.
Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah pendidik PAUD dari berbagai daerah di Jawa Timur. Antusiasme peserta terlihat dari partisipasi aktif dalam sesi diskusi dan praktik yang diselenggarakan selama workshop berlangsung.
Menutup kegiatan pembukaan, Isye Adhy Karyono mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan forum ini sebagai ruang belajar yang maksimal. Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan di lingkungan sekolah masing-masing.
Melalui workshop ini, DPD PP PAUD Jawa Timur menegaskan komitmennya dalam mendorong terciptanya sistem pendidikan anak usia dini yang lebih inklusif, berkualitas, dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. (tas)

