Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PERISTIWA»Gentle Parenting Bukan Sekadar Lembut, Pakar UNAIR Tekankan Peran Batasan dalam Pola Asuh Modern

Gentle Parenting Bukan Sekadar Lembut, Pakar UNAIR Tekankan Peran Batasan dalam Pola Asuh Modern

PERISTIWA Tiara AS29/04/2026 - 17:30 WIB
Pakar UNAIR jelaskan gentle parenting harus seimbang antara empati dan batasan agar anak tumbuh mandiri dan tidak permisif.

Tren pola asuh gentle parenting kian populer di kalangan orang tua muda, terutama generasi Z. Pendekatan ini kerap dipahami sebagai pola asuh yang lembut tanpa hukuman. Namun, pakar psikologi dari Universitas Airlangga, Dr Nur Ainy Fardana N MSi Psikolog, mengingatkan bahwa pemahaman tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Menurut Dr Nur, gentle parenting bukan sekadar tentang bersikap lunak kepada anak, melainkan pendekatan komprehensif yang menggabungkan empati, komunikasi efektif, serta penerapan batasan yang konsisten. Tanpa elemen batasan, pola asuh ini berpotensi berubah menjadi permisif dan justru berdampak negatif pada perkembangan anak.

Ia menjelaskan bahwa dalam praktiknya, gentle parenting berakar pada lima prinsip utama, yakni empati, komunikasi yang penuh hormat, disiplin tanpa kekerasan, kesadaran emosi, dan konsistensi dalam menetapkan aturan. Kelima prinsip tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Keseimbangan Empati dan Ketegasan

Dalam perspektif psikologi perkembangan, perilaku anak tidak dapat dilepaskan dari tahap emosional dan kognitif yang sedang dialami. Dr Nur menilai bahwa empati menjadi pintu masuk bagi orang tua untuk memahami alasan di balik perilaku anak, sementara komunikasi berfungsi sebagai sarana untuk mengarahkan dan membentuk perilaku tersebut.

Namun, ia menegaskan bahwa empati tanpa batasan justru berisiko menciptakan pola asuh yang tidak efektif. Anak dapat kesulitan memahami konsekuensi dari tindakan mereka jika tidak ada aturan yang jelas. Sebaliknya, komunikasi yang baik harus diiringi dengan ketegasan agar anak mampu belajar mengendalikan diri.

Pendekatan ini berbeda dengan pola asuh otoriter yang menitikberatkan pada kepatuhan melalui hukuman. Dalam gentle parenting, anak dipandang sebagai individu yang sedang belajar mengelola emosi, bukan sekadar objek yang harus tunduk pada aturan.

Dampak Jangka Panjang bagi Perkembangan Anak

Dr Nur menilai bahwa penerapan gentle parenting yang tepat dapat memberikan dampak positif jangka panjang. Anak cenderung memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik, kepercayaan diri yang tinggi, serta hubungan interpersonal yang sehat.

Hal ini terjadi karena anak tidak hanya diajarkan untuk patuh, tetapi juga memahami alasan di balik setiap aturan. Proses ini mendorong terbentuknya internalisasi nilai, di mana anak mampu mengambil keputusan secara mandiri berdasarkan kesadaran, bukan tekanan.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pendekatan ini membutuhkan komitmen tinggi dari orang tua. Tidak hanya dalam hal konsistensi, tetapi juga kesiapan emosional untuk tetap tenang dalam menghadapi berbagai perilaku anak.

Tantangan Implementasi di Era Modern

Di tengah dinamika kehidupan modern, penerapan gentle parenting tidak selalu mudah. Banyak orang tua menghadapi keterbatasan waktu, tekanan pekerjaan, hingga kurangnya literasi parenting yang memadai. Kondisi ini dapat memicu inkonsistensi dalam pengasuhan.

Selain itu, maraknya informasi di media sosial juga sering kali menyederhanakan konsep gentle parenting menjadi sekadar “tidak boleh marah” atau “tidak boleh melarang anak”. Padahal, menurut Dr Nur, batasan tetap menjadi komponen penting dalam membentuk karakter anak.

Ia menekankan bahwa pola asuh yang ideal adalah yang mampu menyeimbangkan afeksi dan kontrol, atau dikenal sebagai pola asuh authoritative. Pendekatan ini dinilai paling efektif dalam mendukung perkembangan emosional dan sosial anak.

Perlu Edukasi Parenting yang Lebih Luas

Fenomena meningkatnya minat terhadap gentle parenting menunjukkan adanya kesadaran baru di kalangan orang tua mengenai pentingnya kesehatan mental anak. Namun, tanpa pemahaman yang tepat, tren ini berpotensi disalahartikan.

Oleh karena itu, Dr Nur mendorong pentingnya edukasi parenting berbasis ilmu pengetahuan agar orang tua tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memahami prinsip dasar pengasuhan yang efektif.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari setiap pola asuh adalah membantu anak tumbuh menjadi individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan. Dalam konteks tersebut, gentle parenting dapat menjadi strategi yang relevan, selama diterapkan dengan keseimbangan antara empati dan batasan yang jelas.

Pendekatan ini sekaligus menjadi refleksi bahwa pengasuhan anak di era modern tidak lagi hanya berfokus pada kepatuhan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesehatan mental jangka panjang. (tas) 

batasan parenting disiplin anak empati anak gentle parenting parenting Gen Z pengasuhan modern pola asuh anak psikologi anak UNAIR
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

Comments are closed.

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove

21/07/2026 - 18:34 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.