Tren pola asuh gentle parenting kian populer di kalangan orang tua muda, terutama generasi Z. Pendekatan ini kerap dipahami sebagai pola asuh yang lembut tanpa hukuman. Namun, pakar psikologi dari Universitas Airlangga, Dr Nur Ainy Fardana N MSi Psikolog, mengingatkan bahwa pemahaman tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Menurut Dr Nur, gentle parenting bukan sekadar tentang bersikap lunak kepada anak, melainkan pendekatan komprehensif yang menggabungkan empati, komunikasi efektif, serta penerapan batasan yang konsisten. Tanpa elemen batasan, pola asuh ini berpotensi berubah menjadi permisif dan justru berdampak negatif pada perkembangan anak.
Ia menjelaskan bahwa dalam praktiknya, gentle parenting berakar pada lima prinsip utama, yakni empati, komunikasi yang penuh hormat, disiplin tanpa kekerasan, kesadaran emosi, dan konsistensi dalam menetapkan aturan. Kelima prinsip tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Keseimbangan Empati dan Ketegasan
Dalam perspektif psikologi perkembangan, perilaku anak tidak dapat dilepaskan dari tahap emosional dan kognitif yang sedang dialami. Dr Nur menilai bahwa empati menjadi pintu masuk bagi orang tua untuk memahami alasan di balik perilaku anak, sementara komunikasi berfungsi sebagai sarana untuk mengarahkan dan membentuk perilaku tersebut.
Namun, ia menegaskan bahwa empati tanpa batasan justru berisiko menciptakan pola asuh yang tidak efektif. Anak dapat kesulitan memahami konsekuensi dari tindakan mereka jika tidak ada aturan yang jelas. Sebaliknya, komunikasi yang baik harus diiringi dengan ketegasan agar anak mampu belajar mengendalikan diri.
Pendekatan ini berbeda dengan pola asuh otoriter yang menitikberatkan pada kepatuhan melalui hukuman. Dalam gentle parenting, anak dipandang sebagai individu yang sedang belajar mengelola emosi, bukan sekadar objek yang harus tunduk pada aturan.
Dampak Jangka Panjang bagi Perkembangan Anak
Dr Nur menilai bahwa penerapan gentle parenting yang tepat dapat memberikan dampak positif jangka panjang. Anak cenderung memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik, kepercayaan diri yang tinggi, serta hubungan interpersonal yang sehat.
Hal ini terjadi karena anak tidak hanya diajarkan untuk patuh, tetapi juga memahami alasan di balik setiap aturan. Proses ini mendorong terbentuknya internalisasi nilai, di mana anak mampu mengambil keputusan secara mandiri berdasarkan kesadaran, bukan tekanan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pendekatan ini membutuhkan komitmen tinggi dari orang tua. Tidak hanya dalam hal konsistensi, tetapi juga kesiapan emosional untuk tetap tenang dalam menghadapi berbagai perilaku anak.
Tantangan Implementasi di Era Modern
Di tengah dinamika kehidupan modern, penerapan gentle parenting tidak selalu mudah. Banyak orang tua menghadapi keterbatasan waktu, tekanan pekerjaan, hingga kurangnya literasi parenting yang memadai. Kondisi ini dapat memicu inkonsistensi dalam pengasuhan.
Selain itu, maraknya informasi di media sosial juga sering kali menyederhanakan konsep gentle parenting menjadi sekadar “tidak boleh marah” atau “tidak boleh melarang anak”. Padahal, menurut Dr Nur, batasan tetap menjadi komponen penting dalam membentuk karakter anak.
Ia menekankan bahwa pola asuh yang ideal adalah yang mampu menyeimbangkan afeksi dan kontrol, atau dikenal sebagai pola asuh authoritative. Pendekatan ini dinilai paling efektif dalam mendukung perkembangan emosional dan sosial anak.
Perlu Edukasi Parenting yang Lebih Luas
Fenomena meningkatnya minat terhadap gentle parenting menunjukkan adanya kesadaran baru di kalangan orang tua mengenai pentingnya kesehatan mental anak. Namun, tanpa pemahaman yang tepat, tren ini berpotensi disalahartikan.
Oleh karena itu, Dr Nur mendorong pentingnya edukasi parenting berbasis ilmu pengetahuan agar orang tua tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memahami prinsip dasar pengasuhan yang efektif.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari setiap pola asuh adalah membantu anak tumbuh menjadi individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan. Dalam konteks tersebut, gentle parenting dapat menjadi strategi yang relevan, selama diterapkan dengan keseimbangan antara empati dan batasan yang jelas.
Pendekatan ini sekaligus menjadi refleksi bahwa pengasuhan anak di era modern tidak lagi hanya berfokus pada kepatuhan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesehatan mental jangka panjang. (tas)

