Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kembali menunjukkan potensinya dalam menjawab tantangan industri modern. Kali ini, inovasi tersebut datang dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), melalui riset doktoral yang dikembangkan oleh Dr Sutrisno ST MT dalam bidang optimasi desain kemasan (packaging).
Dalam sidang terbuka promosi doktor di Departemen Teknik Sistem dan Industri ITS, Sutrisno memaparkan hasil penelitiannya yang berfokus pada integrasi AI dengan perilaku konsumen dalam menentukan strategi desain kemasan yang optimal. Riset ini menjadi jawaban atas kebutuhan industri manufaktur yang kerap menghadapi tekanan untuk terus berinovasi di tengah perubahan preferensi pasar yang cepat.
Menurut Sutrisno, selama ini pengembangan kemasan masih menghadapi kendala utama berupa keterbatasan waktu dan belum adanya standar baku dalam pengambilan keputusan desain. Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan kesulitan menyesuaikan produk dengan ekspektasi konsumen yang dinamis.
Melalui disertasi berjudul Desain Peningkatan Packaging Value Berbasis Model Artificial Intelligence dengan Pertimbangan Customer Behavior, ia mencoba menjembatani kesenjangan antara aspek teknis produksi dan preferensi pasar. Penelitian ini secara khusus mengambil studi kasus pada industri makanan dan minuman (F&B), yang dinilai memiliki kompleksitas tinggi dalam desain kemasan.
Tahapan riset dilakukan secara sistematis, dimulai dari pengumpulan data preferensi konsumen melalui kuesioner terbuka. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak NVivo untuk mengidentifikasi pola dominan. Selanjutnya, dilakukan validasi melalui kuesioner tertutup guna mendapatkan hasil yang lebih terukur dan spesifik.
Data yang telah terstruktur tersebut kemudian menjadi dasar dalam pemodelan berbasis AI. Sutrisno menguji modelnya melalui dua skenario industri, yakni manufacture middle up yang berorientasi pada kualitas dan citra premium, serta manufacture middle low yang menekankan efisiensi biaya produksi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis algoritma Particle Swarm Optimization (PSO) mampu menghasilkan titik keseimbangan optimal antara kualitas produk dan efisiensi biaya. Model ini dinilai dapat membantu pelaku industri dalam merumuskan strategi kemasan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga relevan secara ekonomi.
Temuan tersebut membuka peluang baru bagi industri manufaktur untuk lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar, sekaligus meningkatkan daya saing produk di tingkat nasional maupun global.
Selain itu, riset ini juga memperkuat kontribusi ITS dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek industri, inovasi, dan infrastruktur. Inovasi berbasis AI dinilai mampu mendorong efisiensi produksi serta meningkatkan produktivitas sektor manufaktur Indonesia.
Ke depan, Sutrisno berencana memperluas penerapan model ini ke berbagai sektor lain di luar F&B, seperti farmasi dan produk perawatan pribadi. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas dampak inovasi AI dalam mendukung transformasi industri nasional berbasis teknologi.
Dengan pendekatan yang menggabungkan analisis data, kecerdasan buatan, dan pemahaman perilaku konsumen, riset ini menjadi salah satu contoh konkret bagaimana dunia akademik mampu memberikan solusi aplikatif bagi tantangan industri modern sekaligus mendorong ekonomi berbasis inovasi. (tas)

