Komitmen mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial kembali dibuktikan melalui lahirnya Curhatorium, platform digital kesehatan mental yang dirancang untuk memperluas akses dukungan psikologis bagi generasi muda. Inovasi ini berhasil mengantarkan tim pengembangnya lolos dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) berkat konsep layanan yang menggabungkan peer-support, gamifikasi, dan pendekatan preventif dalam menjaga kesehatan mental.
Curhatorium lahir dari kepedulian mahasiswa terhadap masih terbatasnya akses layanan kesehatan mental yang terjangkau dan mudah dijangkau masyarakat, khususnya kalangan muda. Platform tersebut dikembangkan oleh lima mahasiswa lintas fakultas, yakni I Gede Arya Saputra dari Fakultas Vokasi, Najlaa Prameswariputri Mahendra dan Maria Priscilla Chrysaningrum dari Fakultas Psikologi, Kania Khansanadhifa Kallista dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Zaskia Rania Zaini dari Fakultas Vokasi.
Ketua tim, I Gede Arya Saputra, menjelaskan bahwa Curhatorium dirancang sebagai ruang aman bagi pengguna untuk memperoleh dukungan emosional maupun informasi terkait kesehatan mental. Melalui pendekatan freemium, platform ini berupaya menjangkau lebih banyak pengguna sekaligus memberikan layanan yang mudah diakses.
Seiring perkembangannya, Curhatorium telah menghadirkan sejumlah fitur utama dan berhasil menarik sekitar 650 pengguna yang telah terdaftar. Salah satu layanan unggulan yang tersedia adalah fitur Share and Talk, yang memungkinkan pengguna berbicara dengan psikolog profesional maupun Rangers, yakni mitra Curhatorium yang telah mendapatkan pelatihan Psychological First Aid (PFA).
Melalui fitur tersebut, pengguna dapat menjadwalkan sesi konsultasi atau percakapan sesuai kebutuhan. Layanan tidak hanya berfokus pada konseling profesional, tetapi juga menyediakan ruang bagi pengguna yang membutuhkan teman berbagi cerita dan dukungan emosional dalam suasana yang aman dan nyaman.
Selain itu, Curhatorium juga menghadirkan fitur Support Group Discussion yang memungkinkan pengguna bergabung dalam kelompok diskusi daring. Kegiatan dilakukan melalui pertemuan virtual yang dipandu Rangers dengan tetap menjaga anonimitas seluruh peserta.
Dalam diskusi tersebut, peserta diajak berinteraksi menggunakan deep cards, yaitu kartu berisi pertanyaan reflektif yang dirancang untuk mendorong percakapan yang lebih mendalam. Metode ini dinilai mampu membantu pengguna mengekspresikan perasaan, berbagi pengalaman, serta memperoleh perspektif baru dari anggota kelompok lainnya.
Tidak berhenti pada layanan yang telah berjalan saat ini, tim pengembang juga menyiapkan berbagai inovasi lanjutan untuk memperkuat ekosistem kesehatan mental yang mereka bangun. Arya mengungkapkan bahwa Curhatorium tengah mengembangkan Self-Healing Toolkit Series yang akan hadir dalam bentuk e-book interaktif dengan berbagai tema kesehatan mental.
Selain produk digital, tim juga menyiapkan sejumlah produk fisik yang dirancang untuk mendukung proses refleksi dan pengembangan diri. Salah satunya adalah Reflection Card Deck yang merupakan pengembangan dari konsep deep cards yang telah digunakan dalam diskusi kelompok.
Inovasi lainnya berupa Guided Journal yang dilengkapi panduan harian serta fitur pelacakan emosi guna membantu pengguna membangun kebiasaan self-healing secara mandiri dan berkelanjutan. Produk tersebut diharapkan dapat menjadi sarana pendukung bagi individu yang ingin meningkatkan kesadaran terhadap kondisi psikologisnya.
Tak hanya itu, Curhatorium juga berencana menghadirkan Curhatorium Class, sebuah program pembelajaran berbasis video dan modul digital yang bertujuan mengubah pengetahuan mengenai kesehatan mental menjadi keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui berbagai pengembangan tersebut, tim berharap Curhatorium dapat tumbuh menjadi platform kesehatan mental yang adaptif, mudah dikembangkan, dan mampu bersaing di tingkat global. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan mental, inovasi mahasiswa UNAIR ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis generasi muda sekaligus memperluas akses dukungan kesehatan mental yang inklusif dan berkelanjutan. (ita)

