Komitmen memperkuat kolaborasi di bidang sains, teknologi, dan inovasi untuk pengembangan energi terbarukan menjadi fokus utama dalam rangkaian kegiatan The 15th Korea–ASEAN Joint Symposium (KAJS) 2026 yang berlangsung di Bali, Senin (22/6/2026).
Forum internasional tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, serta mitra internasional untuk memperluas jejaring riset dan mempercepat pengembangan inovasi yang mendukung transisi menuju energi berkelanjutan.
Keterlibatan Organization of Islamic Cooperation (OIC) melalui Assistant Secretary General for Science and Technology menegaskan pentingnya membangun kerja sama penelitian lintas negara anggota OIC dan ASEAN sebagai bagian dari penguatan ekosistem ilmu pengetahuan global.
Dalam forum tersebut, Universitas Airlangga (UNAIR) melalui WUACD berperan sebagai penghubung strategis yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan guna mempercepat pengembangan teknologi energi berkelanjutan berbasis kolaborasi internasional.
OIC Dorong Kolaborasi Sains dan Inovasi Lintas Negara
Assistant Secretary General for Science and Technology OIC, H.E. Ambassador Aftab A. Khokher, menyampaikan bahwa OIC akan melanjutkan berbagai program strategis yang telah dijalankan pada 2025 menuju implementasi yang lebih luas pada 2026.
Menurutnya, penguatan inovasi serta pertukaran pengetahuan di antara negara anggota menjadi fondasi penting dalam mempercepat pembangunan berbasis ilmu pengetahuan, termasuk di negara-negara ASEAN seperti Indonesia dan Malaysia serta kawasan anggota OIC lainnya.
Ia menilai bahwa pendekatan kolaboratif menjadi salah satu kunci untuk menjawab tantangan pembangunan yang semakin kompleks.
“Jika kita berfokus pada kolaborasi, kita dapat mempercepat pembangunan, khususnya di kawasan ASEAN. Simposium ini merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk membangun kemitraan. Kita dapat saling membantu, baik antarpeneliti, perguruan tinggi, maupun berbagai institusi dalam pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Selain memperkuat jejaring penelitian, OIC juga menempatkan kecerdasan artifisial (artificial intelligence atau AI) sebagai salah satu agenda strategis baru yang akan dikembangkan bersama negara anggota.
Menurut Aftab, pengembangan AI dipandang sebagai salah satu instrumen penting dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan yang masih dihadapi sejumlah negara anggota, terutama di kawasan Afrika.
Komitmen tersebut kemudian diperkuat melalui penyelenggaraan Technical Session yang menghadirkan berbagai hasil riset dan pengembangan teknologi biomassa serta energi terbarukan dari negara anggota OIC, ASEAN, dan mitra internasional.
Sesi ilmiah tersebut tidak hanya menjadi ruang diseminasi hasil penelitian, tetapi juga membuka peluang terbentuknya kolaborasi riset lanjutan, pengembangan skema pendanaan bersama, hingga percepatan hilirisasi inovasi agar dapat diterapkan secara lebih luas di masyarakat dan sektor industri.
Technical Session Perkuat Hilirisasi Inovasi Biomassa
Upaya memperkuat kolaborasi riset tersebut juga tercermin dalam sesi teknis yang menampilkan berbagai inovasi di bidang biomassa dan teknologi energi berkelanjutan.
Salah satu pemateri dalam sesi tersebut adalah Prof. Dr. Tech. Endry Nugroho Prasetyo dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yang memaparkan potensi pemanfaatan enzim sebagai biokatalis industri untuk meningkatkan nilai tambah biomassa.
Dalam paparannya, Prof. Endry menjelaskan bahwa sejumlah jenis enzim memiliki peluang besar untuk diterapkan pada sektor industri berbasis biomassa karena mampu meningkatkan efisiensi proses produksi sekaligus memperluas nilai ekonomi dari bahan baku hayati.
Ia menjelaskan bahwa enzim cellulases dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan fleksibilitas serat, mempercepat proses fibrillation, serta meningkatkan efisiensi proses degumming pada bambu.
Sementara itu, enzim keratinase dinilai memiliki potensi untuk meningkatkan rasio konversi pakan pada industri peternakan unggas.
Di sisi lain, enzim laccase disebut dapat diterapkan dalam berbagai proses industri, mulai dari biopulping, pemutihan pulp, deinking, pengurangan permasalahan pitch, hingga menghasilkan bio-binder berbasis lignin untuk pelapis kertas.
Lebih lanjut, kombinasi antara laccase dan cellobiose dehydrogenase (CDH) juga disebut mampu menurunkan kandungan senyawa fenolik pada limbah minyak sekaligus meningkatkan hasil ekstraksi protein dari dedak padi.
Berbagai hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan biomassa tidak hanya memiliki potensi sebagai sumber energi alternatif, tetapi juga membuka peluang terciptanya solusi industri yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Melalui forum internasional ini, Universitas Airlangga kembali menegaskan perannya sebagai simpul kolaborasi global yang mempertemukan perguruan tinggi, organisasi internasional, serta komunitas ilmiah untuk membangun ekosistem riset yang memberikan dampak nyata.
Sinergi antara OIC, negara-negara ASEAN, dan berbagai mitra internasional diharapkan dapat mempercepat lahirnya inovasi di bidang biomassa dan energi terbarukan yang tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata, tetapi juga mampu memberikan kontribusi konkret terhadap kebutuhan masyarakat, sektor industri, serta agenda transisi energi berkelanjutan di tingkat global. (ita)

