Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»SENI BUDAYA»Ada Paguyuban Reog Perempuan

Ada Paguyuban Reog Perempuan

SENI BUDAYA redaksi11/06/2018 - 14:00 WIB

Jika kesenian reog identik dengan pakem laki-laki, tetapi di Desa Sawoo, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo berdiri kelompok kesenian reog perempuan bernama “Sardulo Nareswari”.

Fenomena tersebut menarik perhatian Tim PKM (Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKMP-SH) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Tim yang digawangi oleh Fajri Kurniararasanty, Gita Ayu Cahyaningrum, Isnaini Nur Amalina, semua mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Unair ini, ingin menguak lebih dalam tentang kesenian reog Ponorogo dari sisi yang lain, yaitu potensi perempuan.

Tim PKMP-SH yang diketuai Fajri Kurniararasanty ini menyusun dalam paparan berjudul ”Paguyuban Sardulo Nareswari: Perempuan dalam Kesenian Reog Ponorogo Menari Diantara Dominasi dan Keberagaman.” Naskah ini berhasil lolos pendanaan dalam Program PKM Kemenristekdikti 2018.

Berbicara kesenian reog, yang muncul di benak masyarakat langsung tertuju pada Kabupaten Ponorogo. Dicatat oleh Fajri dkk, Ponorogo merupakan kota yang menyajikan suatu keunikan khas dalam seni pertunjukan. Apalagi reog menjadi salah satu warisan budaya yang telah diakui internasional dan menjadi ikon kota yang disebut ‘Bumi Reog’.

”Mengisahkan Reog Ponorogo rupanya tak pernah sepi dari pamrih oleh berbagai pihak demi kepentingan di luar kesenian itu sendiri. Dan reog berada dalam kompleksitas pertentangan di kalangan masyarakat Ponorogo,” tambah Fajri.

Seperti diketahui, pertunjukan reog disajikan dalam bentuk sendratari, suatu tarian dramatik yang tidak berdialog. Dari gerakan-gerakannya diharapkan tarian ini sudah cukup mewakili isi dan tema tarian tersebut. Hanya, selama ini sajian reog diperankan oleh penari laki-laki kecuali tari jathilan yang dimainkan oleh perempuan.

Dalam rejarahnya, tari jathilan ini semula diperankan laki-laki yang busana perempuan. Ini merupakan penggambaran dari gemblak, laki-laki belasan tahun yang diasuh sang Warok sebagai kelangenan (kesukaannya), sebagai upaya menjaga kesaktiannya.

Namun karena sosok gemblak itu tidak sesuai dengan norma agama, Pemkab Ponorogo tahun 1985 membuat kebijakan dan mengubah tari jathilan oleh penari perempuan. Pergeseran penari jathil oleh perempuan itu bertahan hingga sekarang.

Adanya fenomena itu, Fajri Dkk tertantang untuk menguak lebih jauh dari sisi kaum hawa. Selain itu tantangan budaya di masyarakat juga masih memposisikan perempuan berada dalam strata dibawah laki-laki.

”Kami ingin mengkaji kehidupan perempuan dalam dunia kesenian, sebab seni dan perempuan adalah sebuah ambivalensi yang menimbulkan dua pandangan berbeda di masyarakat. Satu sisi perempuan dianggap sebagai korban eksploitasi, disisi lain perempuan dalam seni tradisi diaggap sebagai pendobrak dominasi laki-laki,” kata Fajri.

Potensi Ekonomi & Wisata
Paguyuban seni reog perempuan “Sardulo Sareswari” ini terbentuk dengan niatan untuk memberdayakan perempuan di Desa Sawoo. Menurut penuturan Heni Astuti, pendiri paguyuban reog perempuan ini karena pihaknya ingin membuat gebrakan baru dalam khasanah seni Reog Ponorogo.

Menurut Heni Astuti, nama “Sardulo Sareswari” itu memiliki arti filosofis tersendiri. Sardulo berarti macan (harimau), sedang Nareswari berarti perempuan atau bidadari.

Kalau selama ini pakem reog adalah laki-laki, dalam inovasi baru ini ingin ditunjukkan sisi yang berbeda dari pakem dominasinya (laki-laki), namun tetap dapat menunjukkan sisi keperempuannya.

Terbentuknya paguyuban “Sardulo Nareswari” ini memberi dampak bagi perempuan Desa Sawoo dan masyarakat sekitarnya. Paguyuban ini telah beberapa kali melakukan pementasan di berbagai daerah, tidak hanya di Ponorogo, tetapi juga diluar Ponorogo.

Pementasan di luar wilayah domisilinya membuat para perempuan ini berani tampil di depan umum. Kontruksi masyarakat yang menyatakan perempuan hanya konco wingking (teman belakang) mampu dikikis dengan adanya kiprah reog perempuan ini.

Kemudian muncul pula nilai-nilai kemandirian dalam perempuan di Desa Sawoo. Ini dibuktikan dengan semakin bertambahnya perempuan berkontribusi dalam pekerjaan diluar sebagai ibu rumah tangga.

Menurut kajian Fajri dkk, keberadaan paguyuban ini jika dikembangkan lebih jauh akan dapat memberikan potensi wisata budaya baru bagi Kabupaten Ponorogo, khusunya Desa Sawoo.

Paguyuban reog perempuan ini mampu berkembang menjadi salah satu ikon baru dan identitas Ponorogo, terutama seni reog yang selama ini dipentaskan oleh laki-laki punya satu sisi unik yang dipentaskan oleh perempuan.

”Destinasi wisata budaya baru ini mampu menarik perhatian masyarakat karena memiliki sisi unik yang dikemas dalam sebuah seni pertunjukan. Terlebih lagi adanya pementasan reog perempuan ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di kalangan masyarakat dan meningkatkan pendapatan daerah Kabupaten Ponorogo,” demikian Fajri Kurniararasanty Dkk dalam kajian PKMP-SH-nya. (ita)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Reog Purbaya Surabaya Raih Juara 3 Nasional FNRP 2026, Lampaui Target dan Harumkan Kota Pahlawan

16/06/2026 - 12:59 WIB

Reog Purbaya Surabaya Tampil Memukau di Festival Nasional Reog Ponorogo 2026, Bidik Posisi Lima Besar

14/06/2026 - 14:05 WIB

Dedikasi Tiga Garda Terdepan Cagar Budaya

27/02/2026 - 10:43 WIB

Meriahkan Hari Guru, KGPS Luncurkan Buku Puisi

01/12/2025 - 11:00 WIB

Pos Bloc Medan, Simbol Transformasi Digital

18/11/2025 - 15:00 WIB

GeLORa Wadahi PT Tingkatkan Peran sebagai Pelestari Budaya

14/11/2025 - 13:00 WIB

Comments are closed.

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove

21/07/2026 - 18:34 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.