AI Pendeteksi Virus Covid-19
PERISTIWA TEKNOLOGI

AI Pendeteksi Virus Covid-19

Neurabot, sebuah perusahaan rintisan (startup) yang didirikan Indarto Neura di bidang kesehatan merupakan salah satu yang telah memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) untuk melacak tingkat penyebaran virus corona pada pasien yang telah dinyatakan positif terjangkit Covid-19.

Kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) merupakan bagian dari kemajuan teknologi bidang informasi teknologi yang memanfaatkan ranah digital sebagai dasarnya. Sudah banyak penemuan di bidang teknologi digital yang menggunakan AI sebagai dasarnya.

Neurabot telah mengembangkan teknologi pendeteksian dini pada hasil pemeriksaan CT Scan paru-paru serta foto polos dada dari hasil rontgen pasien. Platform Neurabot bekerja dengan basis artificial neural network dan data mining dari citra CT Scan dan rontgen.

Melalui penerapan teknologi AI berbasis artificial neural network dan data mining, teknik kecerdasan visual (vision learning), machine learning, dan deep learning digunakan untuk mengolah citra data CT Scan dan rontgen dari pasien dengan tingkat sensitivitas tinggi dan sangat spesifik.

Namun demikian, teknologi ini belum bisa diterapkan pada orang dengan gejala (ODG) ataupun pasien dalam pengawasan (PDP) karena algoritma AI yang digunakan baru memiliki kemampuan membaca citra lanjutan dari diagnosa paru pasien positif corona.

Dalam platform Neurabot, teknologi di atas ditambatkan dengan istilah solusi yang mereka namai “My Lab” dan “AI Lab”. Pada solusi My Lab, sebuah laboratorium klinik digital dengan mikroskopik dan radiologi digital memanfaatkan teknologi smart image screening terbaru.

Teknologi yang mereka sebut sebagai AI Scan ini bersama komputasi awan (cloud computing) digelar untuk memproses citra medik yang telah didapat dari rekam medis pasien.

Dengan teknologi My Lab ini para penggunanya dimungkinkan untuk melakukan kolaborasi penelitian, olah data dari citra digital serta untuk keperluan penyimpanan data dalam bentuk digital yang lebih lengkap dari pasien. Platform laboratorium digital ini diklaim sebagai yang pertama di Indonesia.

Sedangkan AI Lab adalah solusi pengolahan data medik melalui deep learning dalam bentuk informasi prediksi penyakit si pasien. Aplikasi ini juga akan mengkalkulasi, mengidentifikasi, dan memilah suatu obyek atau kondisi dari virus yang terdapat di tubuh pasien.

Ini berguna sebagai landasan bagi penggunanya untuk mengambil keputusan cepat (decision support system) dalam proses diagnosa penyakit.

Neurabot merupakan finalis program Startup 4.0 Industry yang diadakan Kementerian Perindustrian pada tahun 2018. Aplikasi ini juga telah menyabet juara dalam ajang kompetisi internasional di bidang teknologi informasi berbasis kecerdasan buatan.

Salah satunya adalah Best AI/Machine Learning pada final Asia Hardware Battle 2018 yang digelar di Shanghai, Tiongkok.

Bantu Gugus Tugas
Aplikasi ini telah mengantongi sertifikasi HIPAA dari Oracle Corporation, untuk keamanan data kesehatan, akurasi, dan akuntabilitas data yang dihasilkan. Neurabot juga telah mendapatkan hak cipta di bidang kesehatan melalui platform laboratorium pemrosesan citra digital memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan.

Menurut Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih, aplikasi Neurabot ini telah digunakan oleh Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 untuk ikut berperang melawan virus yang bentuknya seperti mahkota.

Neurabot telah masuk di dalam Task Force AI dan IT Gugas Covid-19 untuk membantu rumah sakit dalam melakukan deteksi dini dan lanjutan dari kondisi pasien terjangkit corona.

Pemerintah, kata Gati, sejak awal telah mendampingi pengembang aplikasi Neurabot ini untuk terus melakukan riset lanjutan dari penerapan teknologi kecerdasan buatan berbasis algoritma AI.

“Algoritma AI merupakan kekayaan intelektual yang harus dilindungi dan bagian penting dalam pengembangan industri 4.0. Pemerintah telah menfasilitasi pengurusan izin hak cipta dan hak merek,” kata Gati.

Ketua Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan, penemuan dan penerapan teknologi terkini di dunia digital sangat membantu pihaknya untuk percepatan penanganan pandemi corona. Terlebih saat ini belum ada vaksin yang tepat untuk membasmi virus yang berkembang dari SARS jilid kedua ini.

Indarto selaku pengembang Neurabot menjelaskan, salah satu tantangan yang mereka hadapi saat ini adalah belum selarasnya teknologi AI dari Neurabot dengan yang dimiliki oleh rumah sakit rujukan.

Umumnya rumah sakit rujukan masih menggunakan citra foto dada polos rontgen dengan sensitivitas lebih rendah dibandingkan CT Scan paru dosis rendah (LDCT) dalam mendeteksi gambaran struktur paru pasien.

Meski demikian, Indarto dan tim pakar AI di Gugas Nasional Covid-19 tetap berupaya mengolah seluruh sumber data yang ada, termasuk data foto polos dada dan data klinis pasien corona dari rumah sakit rujukan sebagai penguat untuk menghasilkan solusi identifikasi dini berbasis AI dengan tepat dan cepat. (ist)