Akhirnya Corina Pulang Kampung
KOMUNITAS PERISTIWA

Akhirnya Corina Pulang Kampung

Tubuhnya lemas. Salah satu kakinya mengalami luka parah akibat terjebak jerat baja. Nyaris tak dapat digerakkan. Beberapa hari ia berjuang sendiri melepaskan jerat itu di belantara kawasan hutan tanaman industri di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Perjuangannya berakhir dengan kedatangan serombongan orang yang menyelamatkannya.

Corina, begitulah nama yang kemudian diberikan pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau. Harimau betina berumur tiga tahun yang nyaris mati akibat luka parah di kaki kanan depannya pada 29 Maret 2020. Saat itu seluruh dunia baru mulai perang global terhadap virus corona yang kemudian menjadi pandemi.

Satwa bernama latin Panthera tigris sumatrae ini mengalami luka cukup dalam. Tulang kakinya cedera akibat jerat baja merusak semua susunan syaraf di kakinya. Ia pun dibawa BKSDA Riau ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra Dharmasraya (PRHSD), Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatra Barat, melalui jalur darat selama 19 jam untuk menjalani perawatan dan rehabilitasi.

Selama delapan bulan masa pemulihan, perkembangan Corina dipantau oleh tim khusus dipimpin Saruedi Simamora, dokter hewan dari PRHSD. Tim khusus mengawasi setiap perkembangan Corina termasuk mengecek kondisi luka setelah diobati.

Harimau yang mendiami hutan tropis di Pelalawan ini mampu beradaptasi dengan proses kesembuhannya. Corina pun senang berendam di bak air yang telah disiapkan di kandang perawatan. Ia diperlakukan sangat khusus bahkan kandangnya pun diberi lampu untuk penghangat serta diberi penutup untuk mengusir cuaca dingin di kawasan PRHSD.

Pada bulan-bulan pertama di dalam PRHSD, Corina dirawat secara intensif dalam kandang karantina dan kembali harus berjuang agar tetap bisa bertahan hidup di habitatnya kelak.

Umumnya luka jerat pada harimau tidak selamanya bisa disembuhkan dan tak jarang mereka harus diamputasi kakinya untuk menyelamatkan satwa buas ini. Meski awalnya terpincang-pincang, satwa karnivora ini akhirnya dapat berjalan seperti semula.

Ia mulai dipindahkan ke kandang enklosur untuk diobservasi terhadap perilaku dan kemampuannya dalam menangkap mangsa yang diberikan para perawat kandang. Proses pemulihan berjalan sesuai rencana karena Corina kembali terlihat sehat dan bugar. Berat badannya meningkat hingga mencapai 89 kilogram. Kemampuan dan insting berburu Corina pun perlahan pulih.

Sifat liar Corina mulai muncul kembali. Dokter Saruedi bercerita bahwa Corina rajin menjilati lukanya untuk dibersihkan dan merupakan upaya alami dari satwa liar ini untuk sembuh. Selagi Corina menjalani masa pemulihan, satu tim lainnya dipimpin Satyawan Pudyatmoko dari Universitas Gajah Mada mulai memantau hutan bakal rumah baru bagi Corina.

Harimau merupakan satwa penjelajah di mana setiap satu individu memerlukan ruang jelajah seluas 10.000 hektare. Berdasarkan data Population Viability Analysis (PVA) disebutkan bahwa hingga 2018, populasi harimau sumatra di alam tidak lebih dari 600 ekor.

Bersama timnya, guru besar ilmu kehutanan Fakultas Kehutanan UGM ini melakukan observasi dan evaluasi terhadap wilayah hutan hujan di sebagian Sumatra yang cocok sebagai rumah baru Corina. Tak kurang dari 700 ribu ha lahan hutan sudah mereka pantau kelayakannya sebelum dimasuki lagi oleh Corina.

Kajian habitat yang dilakukan tim Satyawan meliputi aspek ketersediaan satwa mangsa bagi Corina, dukungan ekologi, sumber air yang cukup serta aspek sosial masyarakat dan aspek hutan endemik bagi harimau sumatra.

Pelepasliaran Corina
Akhirnya sebuah kawasan sejuk di hutan alam Semenanjung Kampar, Riau dipilih sebagai habitat baru Corina. Lokasi dinilai cocok karena memiliki cukup sumber pakan dan tutupan vegetasi masih alami.

Hari yang dinanti itu tiba ketika pada Minggu (20/12/2020), sebuah kandang baja telah dipersiapkan untuk membawa Corina menuju rumah barunya. Ya, Corina pun akhirnya bisa kembali pulang ke kampungnya, hutan hujan Sumatra.

Perlakuan khusus kembali diterima Corina ketika ia tak lagi diangkut menggunakan jalur darat. Kali ini sebuah helikopter siap membawanya langsung menuju habitat barunya. Corina juga dipasangkan sebuah alat canggih bernama GPS Collar yang dililitkan di lehernya. Alat berbasis satelit ini bertujuan untuk memantau pergerakannya di alam liar selama 24 jam.

Pemantauannya dilakukan melalui aplikasi Africa Wildlife Tracking (AWT) dengan umur baterai hingga dua tahun. Baterai jika sudah mati akan lepas secara otomatis pada Oktober 2022 nanti. Menurut Kepala BKSDA Riau, Suharyono, Corina adalah harimau sumatra keempat yang dilepasliarkan dari PRHSD setelah sebelumnya ada Bonita, Atan Bintang, dan Bujang Ribut.

Sementara itu menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup Wiratno, selain berharap bahwa Corina bisa berkembang dengan baik di habitat barunya, pelepasliaran ini merupakan upaya konservasi pemerintah untuk terus menjaga kelestarian satwa endemik Pulau Sumatra ini.

Selama kurun 2016-2020 pemerintah telah beberapa kali melakukan upaya penyelamatan harimau-harimau sumatra yang terjebak jerat baja. Pada 2020, selain Corina ada harimau bernama Enim yang terjerat di Muara Enim, Sumatra Selatan, pada 21 Januari 2020.

Ia saat ini menjalani rehabilitasi di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), sebuah pusat konservasi alam seluas 45.000 ha di Kabupaten Lampung Barat, Lampung. Tak hanya Enim yang berhasil diselamatkan pada awal 2020. Masih ada Dara, seekor harimau sumatra betina yang nyaris mati karena terjerat perangkap pemburu liar di kawasan hutan di Kota Subulussalam, Aceh, 6 Maret 2020.

Berikutnya ada Batua, harimau sumatra yang terjerat di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung pada 2 Juli 2019. Ia masih menjalani perawatan di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung. Seekor harimau sumatra yang dinamai Sopi Rantang ikut diselamatkan di Kabupaten Agam, Sumbar pada 18 April 2018.

Beberapa bulan kemudian atau tepatnya pada 28 Agustus 2018, lagi-lagi seekor harimau sumatra jantan, Bujang Ribut, ditemukan terjerat di Lubuk Kilangan, Padang, Sumbar. (indonesia.go.id)