Fokus pada kualitas dan ketersediaan produk di pasar tetap terjaga dan mempertahankan posisi keuangan yang konservatif dan sehat menjadi bagian dari langkah antisipasi PT Gudang Garam Tbk. yang sudah memprediksi kemungkinan penurunan volume penjualan akibat naiknya tarif cukai / harga jual eceran 2020.
“Namun kemudian muncul Pandemi COVID-19 yang membuat tantangan semakin berat, karena daya beli masyarakat semakin tertekan, terutama di kalangan bawah,” kata Direktur PT Gudang Garam, Heru Budiman dalam acara Public Expose Live 2020 yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia, beberapa hari lalu.
Heru menjelaskan bahwa secara total, volume penjualan Gudang Garam pada paruh pertama 2020 menurun sebesar 8,8% menjadi 42,4 miliar batang. Dimana untuk kategori sigaret kretek mesin full flavor (SKM FF) turun 6,6% menjadi 35,8 miliar batang, sedang sigaret kretek mesin rendah tar nikotin (SKM LTN) turun 45,6% menjadi 2,3 miliar batang.
“Sigaret kretek tangan (SKT) merupakan satu-satunya segmen yang mencatat pertumbuhan, sebesar 7,5% menjadi 4,5 miliar batang,” terang Heru.
Kondisi ini sejalan dengan hasil riset pasar AC Nielsen, dimana melemahnya permintaan rokok terus berlangsung dengan adanya penurunan volume penjualan industri secara keseluruhan sebesar 12,8% menjadi 110,4 miliar batang.
Volume penjualan SKM FF yang turun 7,2% menjadi 54,6 miliar batang masih tetap merupakan segmen terbesar yang mencakup 49,5% pangsa pasar. Volume penjualan SKM LTN mengalami penurunan sebesar 23,1% menjadi 30,4 miliar batang sedangkan volume SKT turun 5,1% menjadi 20,3 miliar batang.
“Untuk kategori terkecil, yakni rokok non-kretek atau rokok putih (SPM), volume penjualan turun sebesar 25,9% menjadi 5 miliar batang,” jelas Heru.
Pertumbuhan pendapatan penjualan PT Gudang Garam tercatat sebesar 1,7% menjadi Rp 53,7 triliun dicapai karena adanya kenaikan harga dan penurunan volume. Marjin laba bruto turun dari 18,9% menjadi 16,1% akibat kenaikan beban cukai (termasuk PPN dan pajak rokok) sebesar 6,7% menjadi Rp 35,8 triliun.
Beban cukai tersebut mencapai 79,5% dari total biaya pokok penjualan pada paruh pertama 2020 dibandingkan 78,4% pada periode sama tahun sebelumnya.
Namun secara total, aset PT Gudang Garam mengalami kenaikan 18,7% dibandingkan periode sama tahun 2019 menjadi Rp 79,2 triliun, terutama disebabkan naikknya kas, persediaan dan aset tetap.
Sedang total liabilitas juga meningkat sebesar 9,5% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya menjadi Rp 24,4 triliun. Terutama disebabkan kenaikan jumlah pinjaman jangka pendek dan utang cukai, PPN dan pajak rokok. Rasio total liabilitas terhadap ekuitas mengalami perbaikan dari level 50% menjadi 45%.(ita)

