Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Munas FKDK BPD SI 2026 di Semarang Tetapkan Ketua Umum Baru, Perkuat Agenda Transformasi Bank Pembangunan Daerah
  • D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi
  • Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral
  • RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas
  • Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik
  • Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang
  • ITS Perluas Kerja Sama Global dengan HSE Rusia, Fokus Sains dan Teknologi
  • Khofifah Tinjau SPMB 2026 di Surabaya, Antrean Lebih Tertib dan Layanan Meningkat
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»SENI BUDAYA»Arti Linguistik Padi pada Masyarakat Sasak

Arti Linguistik Padi pada Masyarakat Sasak

SENI BUDAYA redaksi06/08/2018 - 15:00 WIB

Padi dalam pandangan masyarakat modern biasanya dipahami sebagai sumber makanan pokok dan entitas fisik semata. Implikasinya, padi hanya dikaji dengan pendekatan inderawi seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan dalam bidang ilmu biologi dan pertanian.

Sementara dalam masyarakat tradisional, padi adalah budaya material yang sangat penting sehingga diperlakukan sebagai tumbuhan istimewa. Bahkan, keistimewaan padi diinterpretasikan melalui kompleksitas bahasa yang melabelinya.

Dalam budaya masyarakat Sasak Lombok, padi biasa disebut dengan nama Pare. Bagi mereka padi adalah berkah dari langit sekaligus bumi. Ia bersifat transendental perwujudan dunia atas yang sakral dengan dunia bawah yang profan.

Banyaknya satuan kebahasaan leksikon padi yang dipakai untuk melabeli padi dalam bahasa Sasak menunjukkan bahwa padi merupakan spesies tumbuhan yang memiliki kekhususan sangat penting dalam budaya masyarakat Sasak-Lombok.

Penelitian kajian lingiustik yang dilakukan oleh mahasiswa program doktoral Fakultas Ilmu Budaya UGM, Saharudin SS MA, ditemukan tiga fungsi padi dari sisi linguistik, yakni padi sebagai penghasil bahan makanan, padi untuk keperluan ritual, magis, penyembuhan dan kosmetik serta padi yang digunakan untuk aktivitas sosial keagamaan.

“Padi dalam pandangan masyarakat Sasak adalah diri. Selanjutnya ada tiga klasifikasi padi lokal yang dijadikan sebagai simbol,” katanya Saharudin dalam ujian terbuka promosi doktor di FIB UGM, Selasa (31/7).

Ia menyebutkan klasifikasi padi dikelompokan lagi menjadi tiga, yakni pare beaq atau padi merah sebagai simbol ketinggian, pare puteq (padi putih) sebagai simbol kerendahan dan pare bireng atau padi hitam sebagai simbol perantara.

Adapun bentuk ritual adat yang dilakukan dengan mengaitkan tanaman padi, menurutnya, dilakukan dalam rangka untuk memperoleh keselamatan alamiah. Ritual yang dilakukan masyarakat Sasak juga dilakukan oleh suku bangsa lain di dunia yang menjadikan padi sebagai sumber makanan pokok dan dikenal sejak zaman nenek moyang.

“Mereka mengenal itu sejak lama dan melakukan beragam ritual terkait dengan padi,” kata Dosen Universitas Mataram (Unram) NTB ini.

Pandangan kesakralan akan padi di masyarakat tradisional menumbuhkan sosok yang muncul dalam cerita legenda yang dianggap berjasa menumbuhkan padi, seperti sosok Dewi Sri sebagai dewi padi yang ada dalam cerita masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur, Sanghyang Pohaci di Jawa Barat, Inak Sriti di Lombok, dan Sinang Sari di Minangkabau.

“Sosok yang dianggap berjasa ini biasa dipanggil dan disapa dalam upacara ritual untuk selalu menjaga dan mengaruniai manusia dengan limpahan padi,” katanya. (sak)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Dedikasi Tiga Garda Terdepan Cagar Budaya

27/02/2026 - 10:43 WIB

Meriahkan Hari Guru, KGPS Luncurkan Buku Puisi

01/12/2025 - 11:00 WIB

Pos Bloc Medan, Simbol Transformasi Digital

18/11/2025 - 15:00 WIB

GeLORa Wadahi PT Tingkatkan Peran sebagai Pelestari Budaya

14/11/2025 - 13:00 WIB

Rangkaian Heroic Days Sambut Hari Pahlawan

30/10/2025 - 12:00 WIB

Sulam Karawo, Berbenah untuk Go Internasional

13/10/2025 - 12:00 WIB

Comments are closed.

Munas FKDK BPD SI 2026 di Semarang Tetapkan Ketua Umum Baru, Perkuat Agenda Transformasi Bank Pembangunan Daerah

04/06/2026 - 11:03 WIB

D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi

03/06/2026 - 19:21 WIB

Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral

03/06/2026 - 19:05 WIB

RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas

03/06/2026 - 18:57 WIB

Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik

02/06/2026 - 22:55 WIB

Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang

02/06/2026 - 22:01 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.