Bahaya Gaslighting dan Rasa Percaya Diri
KOMUNITAS PERISTIWA

Bahaya Gaslighting dan Rasa Percaya Diri

Hubungan yang baik haruslah bertimbal balik, memunculkan rasa bahagia, dan saling mengahargai, serta menambah rasa percaya diri pada masing-masing individu yang terlibat. Hubungan tersebut disebut dengan hubungan yang sehat. Sementara itu, hubungan yang tidak sehat atau hubungan manipulatif adalah hubungan yang hanya menguntungkan sebelah pihak.

Gaslighting merupakan salah satu hubungan manipulatif. Hubungan ini bersifat tidak seimbang, dimana salah satu pihak menempatkan pihak yang lain di atas segalanya. Pakar Psikologi Universitas Airlangga Dr Primatia Yogi Wulandari MSi, menjelaskan bahwa perilaku gaslighting ini dapat mempengaruhi “korban” sehingga meragukan penilaian dan persepsinya sendiri.

“Pernyataan seperti, aku nggak bohong, kamu terlalu membayangkan yang aneh-aneh. Aku cuma becanda. Masa gitu aja marah, biasanya muncul dari pelaku sehingga membuat korbannya kurang percaya diri. Pada titik tertentu, korban bahkan mempertanyakan kewarasannya,” jelas Primatia yang akrab disapa Mima tersebut pada Selasa (25/05).

Gaslighting dapat terjadi dengan atau tanpa disadari oleh korban, bahkan pelakunya. Namun, motif yang dilakukan cukup jelas, yaitu menyelesaikan konflik dengan membuat korbannya menyetujui semua perbuatan pelaku. Perlu diingat, tidak semua kebohongan termasuk ke dalam gaslighting.

“Kembali pada prinsip hubungan sehat. Bila kebohongan tersebut membuat korban meragukan dirinya sendiri, maka hal itu disebut sebagai gaslighting. Namun, bila kebohongan itu bukan untuk melemahkan self-trust salah satu pihak, contohnya, suami memuji istrinya pintar masak, sehingga membuat hubungan menjadi harmonis, maka tidak disebut gaslighting,” tuturnya.

Mima menjelaskan, ada beberapa kondisi yang menjadi ciri suatu individu terjebak dalam hubungan gaslighting. Seperti, mempertanyakan persepsi dirinya sendiri, meminta maaf walaupun bukan pihak yang berbuat salah, memaklumi tindakan buruk pelaku. Korban gaslighting juga merasa tidak bahagia tanpa tahu dengan jelas alasannya, serta sulit mengambil keputusan, meskipun dalam hal-hal sederhana.

“Faktor utama yang membuat seseorang terjebak dalam hubungan gaslighting adalah rasa tidak aman, sehingga menimbulkan ketergantungan pada pelaku. Pelakunya ini bisa jadi orangtua, pasangan, saudara, teman, atasan. Semakin dekat hubungan personal kedua individu, semakin riskan pula korban dimanipulasi oleh pelaku. Sehingga menimbulkan keraguan pada diri sendiri,” jelas Mima.

Selanjutnya, ia menjelaskan dua hal yang menyebabkan seorang individu sulit untuk keluar dari hubungan tersebut. Hal tersebut adalah, kemungkinan ia tidak menyadari tengah dimanipulasi dan tidak dapat menolak pelaku. Mengutip dari Stern (2007) ada tiga pola yang terjadi pada korban gaslighting:

Disbelief – Korban akan merasa kebingungan akan perilaku yang ditunjukkan oleh pelaku. Pada tahap ini, pelaku akan menuduh korban bahwa ia salah memahami situasi.

Defense – Seiring dengan semakin banyaknya perilaku dan pernyataan yang tidak konsisten dari pelaku, korban secara aktif berusaha melakukan argumentasi dan melawan tuduhan pelaku bahwa kesalahan ada pada pihak korban.

Depression – Pada tahap ini, korban sudah tidak membela diri lagi, dan akhirnya menerima tuduhan pelaku, bahkan mencoba secara aktif membuktikan bahwa tuduhan-tuduhan tersebut memang benar adanya. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan persetujuan pelaku dan mempertahankan hubungan agar tetap harmonis.

“Pada tahap depresi, kehidupan sehari-hari dapat turut berpengaruh, seperti tidak dapat merasakan makanan yang enak dan tidak menikmati aktivitas bersama teman-teman. Korban bahkan mungkin mengalami kesulitan untuk membuat keputusan-keputusan sederhana seperti mau makan di mana, menonton film apa, memakai baju yang mana,” ujarnya.

Setelah melalui pola-pola tersebut, korban dapat merasa frustrasi, cemas, disorientasi, obsesif, putus asa, takut, dan akhirnya merasa kalah, kosong, dan malu. Bahkan ada pula rasa bersalah, harga diri melemah, dan kecenderungan menyakiti diri sendiri.

“Ada beberapa terapi yang biasa dilakukan, seperti terapi kognitif. Terapi ini diterapkan untuk mengembalikan kendali atau kontrol atas tindakan dan respon emosionalnya, dengan cara mengelola kesalahan-kesalahan berpikir yang terjadi selama berada pada hubungan gaslighting. Target akhirnya adalah meningkatkan keyakinan pada diri sendiri,” jelasnya.

Sebagai orang yang berada di sekitar korban dan pelaku, kita dapat menjadi pendengar yang baik bagi korban. Kita juga dapat meminta korban mengomunikasikan pikiran dan perasannya pada pelaku, dengan harapan pelaku dapat sadar dan memperbaiki perilakunya. Terakhir, kita dapat membuat korban berpikir objektif dengan memperlihatkan bukti-bukti dan fakta yang mendukung.

Selain itu, korban juga membutuhkan dukungan secara psikologis. Dengan meyakinkan dirinya dapat bertidak secara mandiri dan dapat melakukan sesuatu sesuai dengan keyakinannya dengan baik.

Namun, kita tidak tidak dapat memaksa korban untuk meninggalkan hubungan tersebut. Sebagai orang terdekat, kita harus mencoba menguatkan korban secara bertahap. Bagaimanapun juga, semua keputusan berada di tangan korban.

Pada akhir, Mima memaparkan pada setiap relasi pasti akan mengalami konflik dan permasalahan. Dalam Namun, konflik tersebut bukanlah masalah utama. Melainkan cara kita menyelesaikannya dan membuat relasi tersebut menjadi lebih baiklah yang menjadi hal terpenting. Dalam penyelesaian konflik, dua belah pihak seharusnya bekerja sama mencari solusi yang saling menguntungkan, tanpa adanya manipulasi.

“Bagi yang merasa berada pada relasi yang tidak seimbang seperti, gaslighting ini, bisa mulai berpikir untuk lebih mencintai diri sendiri. Siapa lagi yang akan mencintai diri kita selain diri kita sendiri? Memang sesuatu hal yang ideal, bila kita ingin mengupayakan yang terbaik untuk orang-orang yang kita sayangi, tapi bukankah butuh dua pihak untuk membuat hubungan yang sehat dan harmonis? It takes two to tango,” tutupnya. (ita)