Beli Rafale, Indonesia Masuk Generasi 4,5
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Beli Rafale, Indonesia Masuk Generasi 4,5

Keputusan telah diambil: Indonesia memilih Rafale Dassault untuk menambah kekuatan udaranya. Kesepakatannya telah diteken antara Indonesia dan pihak Prancis.

Kementerian Pertahanan telah resmi menandatangani perjanjian pembelian 42 unit pesawat tempur Rafale, dari industri pesawat terbang Prancis, Dassault Aviation, di Jakarta, Kamis (10/02) lalu. Kontrak jangka pendeknya ialah pembelian enam unit Rafale.

Pihak Indonesia diwakili oleh Marsekal Muda Yusuf Jauhar, Kepala Badan Sarana Pertahanan di Kemenhan dan Eric Trappier, CEO Dassault Aviation, merepresentasikan Prancis. Penandatangan kontrak dan perjanjian pertahanan itu disaksikan langsung Menhan Prabowo Subianto dan Florence Parly, Menteri Angkatan Bersenjata Prancis.

“Sebuah kehormatan besar bagi Dassault Aviation bisa menyaksikan Rafale bergabung dengan TNI Angkatan Udara yang sangat prestisius,” kata Eric Trappier, dalam keterangan resminya.

Selain soal pembelian Rafale, ada dua kesepakatan kerja sama lain yang diteken. Pertama, kerja sama bidang riset pengembangan kapal selam antara PT PAL dan Naval Grup. Kedua, kerja sama antara Dassault Aviation dan PT Dirgantara Indonesia untuk maintenance, repair, dan overhaul pesawat-pesawat Prancis di Indonesia.

Bila nanti Rafale varian F-4 dari Prancis itu tiba di Indonesia, ia akan menempati barisan terdepan pada jajaran kekuatan udara TNI. Dalam khazanah jet tempur mutakhir yang semakin sarat dengan teknologi tinggi, Rafale masuk dalam kelompok generasi 4,5. Ia adalah tonggak kemajuan militer.

Sampai saat ini, tulang punggung kekuatan udara Indonesia masih bertumpu kepada jet-jet tempur generasi 4. Di sana ada 11 unit Suhkoi Su-30 MK2 Flanker buatan Rusia yang bergabung ke TNI sejak 2013. Homebase mereka di Pangkalan Udara (Lanud) Hasanuddin Makassar.

Bersama mereka ada pula lima unit Sukhoi Su-27 yang tiba di Indonesia pada 2009. Su-27 dan Su-30 ini tergolong dalam generasi 4 pesawat tempur jet.

TNI Angkatan Udara kini juga masih mengoperasikan 33 unit pesawat tempur strategis F-16 Falcon seri A, B, C, dan D, buatan Amerika Serikat (AS), yang bergabung ke TNI sejak 1988. Homebase-nya di Lanud Iswahyudi Magetan.

Selama 32 tahun di TNI-AU, pengadaan F-16 Falcon ini dilakukan secara tambal sulam, dan karenanya ada seri A, B, C, dan D. Semuanya termasuk jet generasi 4.

Indonesia juga memiliki satu skadron jet tempur ringan Hawk-200 buatan British Aerospace, Inggris. Dari sisi teknologi, Hawk-200 varian MK 209 itu juga masuk generasi 4.

Tapi karena tubuhnya yang relatif mungil, dengan fitur persenjataan yang terbatas, Hawk-200 itu tak masuk ke daftar pesawat tempur strategis Generasi 4. Di Indonesia, selain dioperasikan sebagai jet tempur taktis, BAE Hawk-200 ini juga menjadi ajang latihan sebelum para pilot TNI-AU “dipromosikan” ke skadron F-16 Falcon.

Namun, pesawat F-16 seri A, B, C, dan D itu akan memasuki masa pensiun pada beberapa tahun ke depan. Perlu ada penggantinya. Maka, Menhan Prabowo pun menjajaki sejumlah opsi untuk mencari penggantinya, dengan catatan dia harus berasal dari generasi yang lebih mutakhir. Pada akhirnya pilihannya adalah Rafale dari generasi 4,5.

Sempat muncul desakan agar pengganti F-16 Falcon itu langsung dicomot dari generasi lima seperti F-35 Lighting atau setidaknya Sukhoi Su-57. Toh, membeli pesawat tempur strategis itu tidak mudah.

Untuk membeli pesawat tempur dari Amerika, misalnya, perlu persetujuan dari kongres dan senat. Bila membeli Sukhoi Su-57 mungkin lebih mudah. Namun, biaya operasi dan pemeliharaannya mahal.

Pun membeli peralatan militer berpotensi membawa dampak diplomatik tersendiri. Maka, setelah menimbang dari berbagai sudut, Menhan Prabowo memutuskan memilih Rafale.

Belakangan pihak Amerika menyetujui rencana penjualan pesawat F-15 Eagle II, yakni versi F-15 terbaru yang masuk generasi 4,5. Namun, pihak Indonesia sudah memutuskan memilih Rafale dan menyiapkan Lanud Iswahyudi Madiun sebagai homebase-nya.

Pengalaman 4 Generasi
Di antara negara-negara Asia Tenggara, Indonesia termasuk yang cukup cepat dalam memperbarui kekuatan udaranya. Dalam sejarahnya, Indonesia telah mempersiapkan diri untuk mengoperasikan pesawat jet tempur sejak 1957.

Mula-mula dengan membeli delapan unit pesawat jet latih DH-115 Vampire dari Inggris. Setahun kemudian, TNI-AU pun mendatangkan jet latih MIG-15 Fagot dari Uni Soviet.

Memasuki 1959, pesawat MIG-17 mulai berdatangan ke Indonesia, dan bermarkas di Bandar Udara Kemayoran, Jakarta. Pada pertengahan 1960, jumlah MIG-17 Fresco itu sudah mencapai 49 unit di Indonesia.

Tak berapa lama datang 20 unit MIG-21, pesawat tempur dengan kecepatan maksimum 2.200 km per jam itu sangat disegani sebagai pesawat pencegat (interceptor). Kawanan MIG-21 itu bermarkas di Madiun. MIG-19 justru datang belakangan dan ditempatkan di Pekanbaru, Riau.

MIG-17 adalah jenis pesawat tempur generasi 1 dari Uni Soviet. Cirinya adalah bermesin jet, mampu melaju dengan kecepatan supernonik (di atas 1.000 km per jam), dan membawa roket. Ia tak punya radar untuk mendeteksi pesawat musuh. Dari generasi 1 ini, Amerika Serikat dan sekutunya punya F-86 Sabre.

Teknologi avionik cepat berkembang di era perang dingin ketika itu. Dari MIG-17 sudah ada loncatan teknologi ke MIG-19 Farmer dan MIG-21 Fishbed. Kedua jet tempur itu buatan Uni Soviet dan sudah masuk kelompok Generasi 2.

Mereka berkecepatan supersonik, punya daya jelajah lebih jauh, lebih lincah bermanuver, memiliki radar pendeteksi lawan, dan dilengkapi pula dengan rudal sederhana penjejak panas (heat seeker). Dari pihak Amerika ada jet F-104 Starfighter dan F-5 Tigershark.

Amerika tidak mau membiarkan Uni Soviet unggul dengan MIG-21-nya. Tidak lama setelah MIG-21 masuk arena, AS meluncurkan pesawat Jet F-4 Phantom yang sangat legendaris, bahkan diproduksi sampai lebih dari 5.200 unit dan baru dipensiun di pertengahan 1990-an. Sebagai jet generasi 3, F-4 Phantom itu sangat populer dan superior di era Perang Vietnam (1966–1973).

Phanton amat lincah, cepat, dan memiliki avionik yang canggih. Ia membawa rudal (udara ke udara) seperti AIM-7 dan Sparrow yang dikendalikan dengan frekuensi radio. Rudal itu mampu ’mengunci’ lawan dan membidiknya dengan presisi tinggi.

Uni Soviet memproduksi tandingannya yakni MIG-23 dan Sukhoi Su-22. Industri Aviation Prancis pun mulai unjuk gigi dengan jet andalannya Mirage-III yang meramaikan persaingan di jet generasi 3.

Kekuatan udara Indonesia yang disegani di Asia Tenggara pada paruh pertama dekade 1960-an cepat memudar. Perubahan politik pasca-Tragedi 1965 membuat hubungan Indonesia dan Uni Soviet jadi dingin. Pasokan suku cadang MIG-15, MIG-17, MIG-19, dan MIG-21 macet.

Memasuki tahun 1970-an, pengoperasian seluruh pesawat buatan Uni Soviet itu dihentikan. Sebagai gantinya, Indonesia membeli satu skadron F-86 Sabre dari Australia.

Indonesia kembali ke generasi jet tempur Generasi 1. Skadron F-86 Sabre mulai dioperasikan 1973 dan berpangkalan di Lanud Iswahyudi.

Kesempatan memodernisasi pesawat tempur baru muncul pada 1980 dengan kedatangan beberapa unit jet F-5E Tiger, varian yang merupakan penyempurnaan F-5 Tigershark. F-5E Tiger ini termasuk generasi 3 yang setara dengan F-4 Phantom, Mirage-III dan MIG-23.

Memasuki 1982, satu skadron penuh (16 unit) F-5E Tiger dari Generasi 3 beroperasi secara penuh di Madiun. Skadron ini menjadi legenda tersendiri karena bertahan hingga 2017, saat semua pesawat F-5E Tiger memasuki masa pensiun setelah bertugas selama 35 tahun.

Namun, F-5E Tiger ini tak lama menjadi maskot di Lanud Iswahyudi Madiun. Pada 1989, di tempat yang sama hadir legenda baru F-16 Falcon dari generasi 4.

Dikembangkan pada awal 1970-an dan diproduksi sejak 1976, F-16 benar-benar cepat membangun reputasi tinggi. Popularitasnya melampaui jet tempur dari genenerasinya seperti F-14 Tomcat, F/A-18 Hornet, F-15 Eagle, Mirage-2000 (Prancis), Tornado (konsorsium Eropa), Sukhoi Su-27, MIG-29, MIG-31, dan sejumlah lainnya.

Generasi 4 ini dicirikan dengan avioniknya yang canggih, radar yang presisi, dan bisa dioperasikan dengan serba komputer. Senjata andalannya adalah rudal-rudal yang dikendalikan oleh frekuensi radio, laser, infrared pencari panas (heat seeker), atau bahkan GPS.

Tak puas dengan Generasi 4, sejak 1990-an Amerika dan Rusia memelopori era Generasi 5 dengan ciri fisik sebagai pesawat siluman (stealth) yang tak mudah dideteksi radar lawan.

Tak hanya serba aerodinamis, desain jet generasi 5 itu juga meminimalisir bentuk garis-garis lurus dan bentuk kotak yang membuatnya mudah terdeteksi radar. Ia tak perlu lincah bermanuver untuk dogfight, karena bisa melumpuhkan lawan dari jarak jauh. Yang penting mampu memanggul senjata sampai berton-ton.

Avioniknya sangat canggih dan terkoneksi dengan komputer di darat dan satelit. Radarnya mampu memancar ke berbagai arah, sehingga ia mampu membidik beberapa pesawat lawan sekaligus.

Dia bisa merudal kapal perang, pesawat tempur sekaligus arsenal musuh. F-22 Raptor dan F-35 Lighting adalah raja pada generasi 5 ini, dan Su-57 (Rusia) dan Chengdu J-20 (Tiongkok) berada di bawah bayang-bayangnya.

Namun, sebagian dari kelebihan generasi lima itu ternyata bisa diadaptasikan ke bodi jet generasi 4, dan kelebihan itu yang dimiliki oleh generasi 4,5 seperti F-15 Eagle II, Typhoon (konsorsium Eropa), F-2 Mitsubishi, Sukhoi Su-35, dan Rafale yang akan masuk ke jajaran kekuatan TNI-AU. Generasi 4,5 pun menyusup di antara generasi 4 dan 5.

Rafale memiliki panjang 15,27 meter, rentang sayap 10,80 meter, dan mampu membawa rudal-rudal seberat 9,5 ton. Rudalnya macam-macam, mulai dari rudal udara ke udara untuk melumpuhkan pesawat jet lawan, rudal untuk menyarang sasaran darat, kapal perang musuh, kapal selam, bahkan bisa dipakai untuk menyergap dan menghancurkan peluru kendali jarak jauh.

Sebagai pesawat jet dari generasi 4, ia punya kemampuan manuver yang lincah. Tubuhnya mampu menahan beban di atas 9 G. Meski bukan jenis stealth, radar cross section (RCS) yang terpancar dari tubuhnya kecil, hanya 1,5–2 m2, membuatnya tak mudah terpantau radar.

RCS Rafale ini jauh lebih baik dibanding sesama fighter generasi 4,5 seperti F-15 Eagle II, Sukhoi 34, dan Sukhoi 35. Pun bila menghadapi radar canggih, Rafale punya radar jamming yang bisa mengacaukannya.

Pemutakhiran pesawat tempur tak bisa ditunda-tunda lagi. Lingkungan geostrategis Indonesia telah melakukannya. Australia, Singapura, dan Thailand sudah memesan F-35 Lighting dari AS. Parlemen dan Pemerintah AS sudah menyetujuinya. Indonesia tentu tak bisa berpuas diri dengan jet tempur dari generasi 4. (indonesia.go.id)