Capungan Banggai Tak Lagi Terancam
KOMUNITAS PERISTIWA

Capungan Banggai Tak Lagi Terancam

Ikan capungan banggai bukanlah nama asing bagi penggemar ikan hias. Sosoknya yang elok mudah dikenali di akuarium air asin.

Morfologinya khas, yakni berbadan pipih dengan sirip-sirip yang menjuntai, termasuk sirip ekornya yang seperti terbelah. Tubuhnya yang mungil, sepanjang 7–8 cm, dihiasi oleh sisik-sisik halus berkilau, ada warna emas, perak, atau coklat tua tembaga.

Tiga pita hitam melintang di tubuhnya. Satu di bagian kepala, satu lagi memanjang dari sirip perut naik ke sisip punggung depan, dan pita ketiganya dari sirip anal ke melintasi perut lalu memanjang sampai ujung sirip punggung.

Boleh jadi, karena pita itu diasosiasikan dengan selempang kardinal, maka ikan itu disebut banggai cardinal fish.

Menyandang nama Pterapogon kauderni, ikan endemik asal Indonesia Timur itu per Agustus 2021 resmi menjadi maskot ikan hias Indonesia, yang ditetapkan oleh Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 2/2021.

Dia mewakili 650 spesies ikan hias yang hidup di perairan laut Indonesia. Yang lebih menggembirakan, ikan capungan banggai itu kini lebih bebas diperjualbelikan, termasuk pula untuk ekspor, karena ikan ini bisa dikembangbiakkan di kolam-kolam jaring.

Ikan hias menjadi salah satu komoditas yang mempunyai peran cukup penting bagi perekonomian. Nilai ekspornya sekitar USD34 juta, sekitar Rp480 miliar. Nilai perdagangan domestik lebih besar lagi.

Khusus untuk capungan banggai, volume perdagangannya setahun bervariasi antara 1,1–1,4 juta ekor, termasuk sebagian yang diekspor. Di pasar domestik, seperti yang ditawarkan di sejumlah toko online, harganya sekitar Rp20 ribu–Rp25 ribu per ekor.

Nama ikan capungan banggai mulai masuk ke glosari ikan sejak 1920. Sang penemu, Walter Kaudern, meyakininya sebagai satwa endemik yang hanya hidup di Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah, di perairan dangkal sekitar karang serta padang lamun (perairan bening, berlantai pasir yang ditumbuhi rumput laut).

Namun lewat campur tangan manusia, kini ikan capungan banggai juga ditemukan di perairan Sulawesi Utara, Teluk Palu, Kendari, Ambon, Gorontalo, bahkan sampai ke Bali.

Budi daya ikan capungan banggai itu sudah dilakukan sejak 2010-an di berbagai tempat,termasuk Bali. Toh, banyak penggemar ikan hias yang lebih menginginkan ikan yang asli dari perairan Banggai. Tak pelak, serbuan penangkapan masih terjadi, dan sempat menimbulkan kelangkaan pada habitat aslinya di Banggai.

Pada Januari 2016 Amerika Serikat memasukkan ikan capungan banggai dalam daftar endangered species dan menyebutnya sebagai ikan yang populasinya di alam mendekati terancam (threatened).

Sebelumnya, ia juga masuk dalam daftar AnnexD dari EU Wildlife Trade Regulations (EC nomor 338/97 dan EC nomor 865/2006 dan perubahannya) pada 11 April 2008. Lembaga konservasi dunia (IUCN) pun telah memasukkannya dalam daftar merah, dengan kategori spesies terancam punah.

Lewat Balai Perikanan Budi Daya Air Laut (BPBL) Ambon, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan penelitian pengembangan budi daya BCF dan berhasil.

Bahkan, sejak 2015 BPBL Ambon aktif memproduksi ikan hias ini, termasuk indukannya, seraya menyebarluaskan teknik budi daya di jaring apung itu kepada masyarakat. Budi daya ikan capungan banggai pun meluas, dan kelangkaan populasinya tak lagi menjadi isu yang kritis.

Untuk menjaga populasinya, telah diatur melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 49 tahun 2018 bahwa pada puncak pemijahan ikan bangga cardinal fish (BCF), pada Februari, Maret, Oktober, dan November, tak boleh dilakukan kegiatan penangkapan.

Hal itu dimaksudkan agar BCF dapat berkembang biak secara alamiah sehingga populasinya dapat tetap terjaga. Meski ada hasil budi daya, sebagian konsumen tetap mengiginkan yang original dari Banggai. Boleh saja, tapi dibatasi.

Diperam dalam Mulut
Ikan capungan banggai tidak saja indah. Ikan tersebut juga mempunyai siklus hidup yang unik. Dalam kondisi lingkungan yang sehat, ikan ini dapat hidup sampai lima tahun, dan dewasa pada usia satu tahun. Dalam lingkungan alamnya, mereka hidup berkelompok, 30–40 ekor per kelompoknya.

Proses perkawinan dimulai dengan si jantan yang berenang melingkari betina. Bila cocok, keduanya akan memisahkan diri dari kelompok dan melakukan perkawinan.

Pembuahan dilakukan secara eksternal. Si pejantan memantaunya. Telur yang telah terbuahi lantas dimasukkan ke dalam mulutnya untuk diperami. Rata-rata 40 telur yang terbuahi setiap perkawinan.

Perlu waktu 10-12 hari untuk telur sampai menetas. Guna menampung bayi-bayi ikan itu, sang ayah menggembungkan rongga mulutnya, terutama di bagian rahang bawang, sampai maksimal.

Toh, si ayah tak serta-merta mengeluarkannya meski bayi-bayi ikan itu telah lahir. Perlu waktu 7–8 hari lagi bagi bayi-bayi itu tumbuh menjadi bocah ikan dengan morfologi yang lengkap dari mulut hingga ke ujung ekor, dengan panjang 8 mm. Pada saat itulah, anak-anak ikan tersebut dimuntahkan dari mulut sang ayah.

Selama 17–22 hari mengerami anak-anaknya, si ayah ikan menjalani puasa penuh. Tidak makan apapun. Ia membakar cadangan lemak tubuh guna menjaga metabolisme tubuhnya tetap berfungsi. Pada saat yang sama, bayi-bayi ikan tumbuh dengan cadangan nutrisi yang dibawa sejak dalam bentuk telur.

Di alam aslinya, begitu lepas dari mulut ayahnya, anak-anak capungan banggai itu akan mencari hewan karang anemon, yang tubuhnya seperti mirip karang. Bayi-bayi ikan itu berlindung di balik struktur karang anemon dan hidup dengan memakan planton.

Setelah beberapa bulan, dan mencapai berukuran 2–3 cm, mereka hidup berasosiasi dengan landak laut (bulu bali). Mereka berlindung dari predator (antara lain, ikan kerapu) di balik bulu-bulu yang keras dan tajam itu. Habitat mereka di air pantai yang tenang, dengan kedalaman 1–2,5 meter.

Guncangan Populasi
Adanya tren baru yakni menjadikan telor landak laut sebagai makanan obat, menjadi persoalan sendiri. Nelayan memanen landak laut, membelah badannya yang mirip bola berduri dan mengeluarkan isinya, yang ternyata 25–30 persen berupa telur.

Gumpalan telur itu 70 persennya protein dan dipercaya bisa memberikan banyak manfaat untuk tubuh. Seekor bulu babi berukuran 300 gram bisa laku di pasar ekspor dengan harga 1,5–2 dolar Amerika.

Di perairan yang bersih dan bening, bulu babi (landak laut) dari Banggai itu juga laku di pasar lokal maupun ekspor.

Perburuan besar-besaran terjadi dan membuat populasinya merosot drastis. Ketiadaan landak laut ini ikut menekan kehidupan ikan capungan banggai. Populasinya terguncang, dan ia sempat dinyatakan sebagai hewan yang terancam punah.

Namun, booming landak laut itu diimbangi dengan pasokan yang besar dari berbagai daerah, Maka, tekanan perairan Banggai pun mulai mereda. Ditambah adanya pengaturan masa tangkap, populasi cardinal banggai fish ini kini mulai pulih.

Ia kembali dapat diperdagangkan sebagai hewan penghuni akuarium air asin. Geraknya yang lincah, warnanya yang cemerlang, dan kelebat sirip-siripnya cukup menenteramkan hati. (indonesia.go.id)