Pemerintah Kota Surabaya kembali menunjukkan komitmennya dalam pembangunan berbasis anak dengan menjadi wakil tunggal Indonesia pada Tokyo Global Forum on Children (TGFC) 2026 di Tokyo, Jepang. Forum internasional ini digelar pada 4–6 Februari 2026 dan mempertemukan 20 kota dunia yang tergabung dalam jaringan Child Friendly Cities Initiative (CFCI) UNICEF.
Dalam forum tersebut, Surabaya mempresentasikan pendekatan pembangunan kota ramah anak yang berakar dari komunitas hingga kebijakan tingkat kota. Kepala Bappeda Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad, menyampaikan bahwa Surabaya mendapat kesempatan strategis untuk berbagi praktik baik bersama kota-kota global.
“Surabaya hadir tidak hanya membawa nama Indonesia, tetapi juga membawa praktik nyata pembangunan anak yang telah berjalan dan berdampak,” kata Irvan.
Ia menjelaskan, kebijakan ramah anak di Surabaya dirancang secara menyeluruh sejak usia dini hingga remaja, dengan melibatkan keluarga dan masyarakat. Pendekatan ini memastikan layanan anak tidak berjalan parsial, melainkan saling terhubung lintas sektor.
Delegasi Surabaya, Puspita Ayuningtyas Prawesti, menambahkan bahwa kehadiran pemerintah dalam kehidupan anak diwujudkan melalui layanan publik yang dekat dan mudah diakses warga. Salah satunya melalui Balai RW, yang menjadi pusat layanan pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, hingga penguatan kesehatan mental anak dan remaja.
“Pemerintah hadir mendampingi anak di setiap fase pertumbuhannya, sekaligus memperkuat peran orang tua sebagai garda terdepan pengasuhan,” ujar Puspita.
Pendekatan tersebut mendapat apresiasi dari peserta forum karena dinilai mampu menjawab tantangan global terkait kesejahteraan dan kesehatan mental anak, sekaligus memperkuat kohesi sosial di tingkat komunitas.
Keikutsertaan Surabaya dalam TGFC 2026 juga menghadirkan partisipasi langsung anak melalui Revalina Fernanda, anggota Forum Anak Surabaya. Ia membagikan pengalaman tumbuh di Surabaya sebagai kota ramah anak yang menyediakan ruang aman, pendidikan lingkungan, serta ruang partisipasi dalam pengambilan keputusan.
Kehadiran Revalina dinilai mencerminkan praktik partisipasi bermakna anak, di mana suara anak tidak hanya didengar, tetapi menjadi bagian dari proses pembangunan kota.
Dengan rekam jejak tujuh kali meraih predikat Kota Layak Anak nasional dan status sebagai anggota CFCI UNICEF, Surabaya menegaskan bahwa kota di Indonesia mampu berkontribusi aktif dalam diskursus global tentang masa depan generasi muda.
Partisipasi ini sekaligus memperkuat pesan bahwa pembangunan kota berkelanjutan harus dimulai dari anak, keluarga, dan komunitas sebagai fondasi utama. (tas)
