Stereotip lama yang melekat pada lulusan sastra sebagai profesi yang terbatas di ruang akademik kembali dipatahkan. Sosok Pramono Hari Susanto, alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (UNAIR), menjadi contoh nyata bagaimana latar belakang keilmuan humaniora mampu bertransformasi menjadi kekuatan di industri media nasional.
Saat ini, Pramono menduduki posisi strategis sebagai Executive Producer di Metro TV, salah satu stasiun televisi berita terkemuka di Indonesia. Perjalanan kariernya menunjukkan bahwa kemampuan memahami bahasa, narasi, dan konteks sosial justru menjadi modal penting dalam dunia jurnalistik modern.
Menurut Pramono, ilmu sastra tidak hanya berkutat pada teori, melainkan memiliki relevansi tinggi dalam praktik komunikasi publik. Kemampuan mengolah diksi, memahami makna, hingga membangun alur cerita menjadi keunggulan tersendiri dalam industri media yang menuntut kecepatan sekaligus kedalaman informasi.
Fondasi karier tersebut telah ia bangun sejak masa kuliah. Pada akhir 1990-an, Pramono aktif di pers kampus Suara Airlangga dan mulai merancang arah kariernya secara sistematis. Ia juga memperkaya pengalaman dengan mengikuti berbagai pelatihan jurnalistik di media besar seperti Jawa Pos dan Kompas, yang menjadi batu loncatan penting menuju dunia profesional.
Pendekatan tersebut mencerminkan pandangannya bahwa jurnalisme merupakan bidang yang terbuka bagi siapa saja, tanpa batasan latar belakang pendidikan. Keterbukaan ini, menurutnya, memberi peluang luas bagi individu yang memiliki kemauan belajar dan kemampuan adaptasi tinggi.
Dalam perannya sebagai Executive Producer, Pramono menghadapi tantangan kompleks, terutama dalam menjaga keseimbangan antara idealisme jurnalistik dan dinamika industri media. Ia menekankan bahwa kredibilitas informasi tetap menjadi prinsip utama, meskipun terdapat berbagai pertimbangan editorial dan bisnis dalam produksi berita.
Ia juga menyoroti pentingnya integritas dalam penyajian informasi. Dalam praktiknya, keputusan editorial dapat memengaruhi sudut pandang pemberitaan, namun tidak boleh mengorbankan kebenaran fakta.
Lebih jauh, Pramono memberikan pesan khusus kepada mahasiswa, terutama dari bidang humaniora, agar tidak merasa inferior dalam menghadapi dunia kerja. Ia menilai bahwa kualitas individu tidak ditentukan oleh label akademik semata, melainkan oleh kemampuan mengembangkan potensi diri.
Kemampuan komunikasi, penguasaan teknologi digital, serta fleksibilitas dalam bekerja lintas platform menjadi kunci utama di era media saat ini. Jurnalis modern, menurutnya, tidak hanya dituntut menulis, tetapi juga mampu beradaptasi sebagai reporter lapangan, pengambil gambar, hingga penyaji berita.
Perjalanan Pramono Hari Susanto menjadi gambaran bahwa disiplin ilmu sastra memiliki daya saing kuat di berbagai sektor, termasuk industri media. Dengan perencanaan karier yang matang dan konsistensi dalam mengembangkan kemampuan, lulusan humaniora mampu menembus batas konvensional dan berkontribusi secara signifikan di tingkat nasional. (tas)

