Daun Singawalang Turunkan Kadar Gula Darah
KESEHATAN PERISTIWA

Daun Singawalang Turunkan Kadar Gula Darah

Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan penderita kencing manis dewasa seemakin meningkat. Di Indonesia, pada tahun 2000 jumlah penderita kencing manis mencapai lebih dari delapan juta orang dan diperkirakan terus meningkat menjadi 21 juta orang pada tahun 2030.

Hasil riset kesehatan dasar tahun 2007 menunjukkan bahwa penyebab kematian akibat kencing manis pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan lebih tinggi dari pada daerah pedesaan.

Penyakit kencing manis juga menimbulkan beberapa komplikasi. Di antaranya hipertensi, kebutaan, gagal ginjal, hingga kematian. Namun sejatinya, kencing manis dapat ditangani dengan mengendalikan kadar gula darah dalam tubuh.

Diketahui, gula darah memegang peranan yang sangat penting dalam mencegah komplikasi kencing manis. Salah satu pengendalian kadar gula darah yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur diet, olah raga, dan obat.

Meskipun begitu, pada kondisi tertentu sering kali pengobatan tersebut kurang memperoleh hasil yang memuaskan. Sehingga perlu tambahan modalitas terapi misalnya dengan menggunakan bahan herbal.

Menanggapi hal itu, Dosen Fakultas Kedokteran UNAIR Dr Arifa Mustika dr MSi melakukan penelitian. Dari hasil penelitian diketahui bahwa ekstrak daun singawalang berpotensi menurunkan kadar gula darah.

“Penelitian dilakukan pada hewan coba Rattus norvegicus yang dinjeksi dengan streptozotocin secara intraperitoneal sebagai model hewan coba dengan kencing manis”, jelas dia.

Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak daun singawalang efektif menurunkan kadar gula darah pada hewan coba model kencing manis melalui induksi protein 5′ adenosine monophosphate-activated protein kinase (AMPK).

Daun singawalang sendiri merupakan salah satu tanaman dalam famili Phytolaccaceae (gandola-gandolaan). Tanaman tersebut berbentuk semak, merunduk, tingginya bisa mencapai 1 meter, berdaun jorong 6-19 cm, meruncing, berujung tajam dan memiliki bau khas seperti marga bawang.

Meskipun begitu, pengunaan obat herbal itu memiliki berbagai kendala. “Ekstraknya mengandung berbagai macam senyawa, jadi ada kemungkinan terjadi kompetisi pada proses absorbsi yang akan menyebabkan absorbsi bahan aktif di gastrointestinal berkurang,” tuturnya.

Namun, berbagai riset telah dikembangkan untuk memperbaiki formulasi dan sistem penghantaran obat. Tujuannya untuk meningkatkan kadar bahan aktif sampai ke target organ yang dituju. “Salah satunya adalah dengan penghantaran bahan aktif dalam sistem nanopartikel,” pungkasnya.

Oleh karena itu, Arifa bersama beberapa rekannya melakukan penelitian tentang formulasi nanopartikel untuk ekstrak daun singawalang.

“Ini adalah riset eksploratif yang bertujuan untuk mencari formulasi yang tepat untuk ekstrak daun Singawalang dalam sistem nanopartikel,” katanya.

Penelitian dilakukan dengan membuat formulasi ekstrak daun singawalang dalam sistem autonanoemulsifikasi. Penelitian dilakukan dalam beberapa tahapan. Yakni pembuatan ekstrak Daun Singawalang, uji komponen minyak, surfaktan, dan ko surfaktan.

Melalui penelitian itu sekaligus dilakuan penentuan komposisi formula autonanoemulsi dan loading ekstrak ke dalam sistem. Lalu, formulasi yang terpilih dikarakterisasi menggunakan elektron mikroskop dan particle size analyzer. Pada akhir, Arifa menyebutkan bahwa hasil penelitian itu dapat dijadikan dasar pengembangan obat herbal menjadi fitofarmaka. (ita)