Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Munas FKDK BPD SI 2026 di Semarang Tetapkan Ketua Umum Baru, Perkuat Agenda Transformasi Bank Pembangunan Daerah
  • D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi
  • Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral
  • RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas
  • Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik
  • Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang
  • ITS Perluas Kerja Sama Global dengan HSE Rusia, Fokus Sains dan Teknologi
  • Khofifah Tinjau SPMB 2026 di Surabaya, Antrean Lebih Tertib dan Layanan Meningkat
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PERISTIWA»Drench Lazuardi Inovasi Pertama di Dunia

Drench Lazuardi Inovasi Pertama di Dunia

PERISTIWA redaksi04/02/2023 - 15:00 WIB

Bagi manusia meminum obat dengan cara yang baik dan benar menjadi kunci agar obat tersebut dapat bermanfaat bagi tubuh. Ternyata hal ini sama dengan yang terjadi kepada hewan. Hal ini yang membuat Prof Dr Mochammad Lazuardi drh MSi guru besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) menciptakan sebuah inovasi terbaru.

Kelompok hewan besar terbagi atas dua yaitu hewan buas serta hewan ternak. Hewan-hewan ini memiliki keterbatasan dalam mengkonsumsi obat-obatan. Sementara itu obat terdiri dari berbagai macam sediaan seperti sirup, suspensi, dan lainnya. “Sediaan bentuk suspensi membutuhkan cairan untuk melarutkan obatnya,” katanya.

Obat yang masuk ke tubuh hewan harus dipastikan masuk hingga ke lambung. Apabila obat yang diberikan tidak berhasil mencapai lambung, maka akan mempengaruhi khasiat obat. “Obat yang masuk melalui mulut harus sampai ke lambung. Tapi setiap obat punya karakteristik berbeda. Dampaknya jika obat tidak masuk ke lambung maka khasiat obat itu akan berkurang,” tutur Prof Lazuardi.

“Memberi obat kepada hewan itu tidak mudah. Meski ada hewan yang mudah dikendalikan tapi bisa saja hewan itu memainkan lidahnya maka obat bisa saja masuk ke dalam paru-paru bukan lambung,” imbuhnya. Permasalahan ini yang membuat Prof Lazuardi menciptakan drench penakar obat minum hewan besar yang diberi nama Drench Lazuardi.

Inovasi yang diciptakan Prof Lazuardi ini bertujuan untuk memudahkan dalam pemberian obat. “Tujuan saya membuat inovasi ini adalah untuk pemilik hewan atau penjaga kendang lebih mudah memberikan obat kepada hewan dan tepat sampai ke lambung,” terangnya.

Uniknya, inovasi ini tidak hanya membantu pengguna untuk memberikan obat tapi juga melakukan pencampuran obat seperti sediaan suspensi dengan cairan agar tercampur dengan baik. “Sukses itu berkaitan dengan bentuk sediaannya kalau suspensi maka harus dikocok agar tercampur cairan dengan baik,” paparnya.

Inovasi yang telah mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) itu menggunakan konsep gaya sentripetal dan sentrifugal untuk membantu melarutkan obat. Alat yang diciptakan ini berkapasitas 750cc, hal ini bertujuan untuk memudahkan pengguna.

Inovasi ini ternyata tidak hanya bermanfaat bagi hewan atau pemiliknya saja namun manusia turut memperoleh dampaknya. “Obat yang masuk ke tubuh hewan itu berdampak bagi manusia yang mengkonsumsinya. Dengan alat ini maka ada jaminan bahwa obat yang diminum hewan tepat menuju lambung sehingga manusia yang mengkonsumsi daging, susu, hingga telur terhindar dari residu,” jelasnya.

Drench Lazuardi ini menjadi inovasi pertama di dunia dan sedang dipersiapkan untuk dipasarkan tidak hanya secara nasional tapi global. “Inovasi ini nantinya akan beredar di Indonesia atau Asia Tenggara. Jadi obat-obatan hewan yang beredar di daerah ini kemasan sekunder obatnya akan disertai dengan drench,” terangnya.

Pengembangan inovasi akan terus dilakukan oleh Prof Lazuardi. Nantinya drench akan disertai dengan penutup khusus. “Jika memberikan obat di tempat terbuka atau kondisi polusi tinggi seperti kota besar maka obat berisiko menyerap udara yang kotor. Penutup akan bersifat kedap atau hampa yang nantinya akan bermanfaat untuk membersihkan kuman,” pungkasnya. (ita)

Drench Lazuardi Inovasi Pertama di Dunia
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Munas FKDK BPD SI 2026 di Semarang Tetapkan Ketua Umum Baru, Perkuat Agenda Transformasi Bank Pembangunan Daerah

04/06/2026 - 11:03 WIB

D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi

03/06/2026 - 19:21 WIB

Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral

03/06/2026 - 19:05 WIB

RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas

03/06/2026 - 18:57 WIB

Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik

02/06/2026 - 22:55 WIB

Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang

02/06/2026 - 22:01 WIB

Comments are closed.

Munas FKDK BPD SI 2026 di Semarang Tetapkan Ketua Umum Baru, Perkuat Agenda Transformasi Bank Pembangunan Daerah

04/06/2026 - 11:03 WIB

D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi

03/06/2026 - 19:21 WIB

Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral

03/06/2026 - 19:05 WIB

RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas

03/06/2026 - 18:57 WIB

Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik

02/06/2026 - 22:55 WIB

Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang

02/06/2026 - 22:01 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.