Dukung Pengembangan Pembelajaran Daring
KOMUNITAS PERISTIWA

Dukung Pengembangan Pembelajaran Daring

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mendukung upaya pemerintah untuk mengoptimalkan pembelajaran daring di Indonesia dalam rangka mewujudkan Merdeka Belajar untuk semua. Untuk itu, bersama 11 perguruan tinggi negeri (PTN) dan swasta (PTS) lainnya melakukan penandatanganan kerja sama dengan Universitas Terbuka (UT) secara hybrid, pekan lalu.

Dihadiri oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Prof Ir Nizam MSc DIC PhD, perjanjian kerja sama antara UT dan perguruan tinggi mitra ini secara umum bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan pembelajaran daring secara bersama-sama melalui platform Indonesia Cyber Education (ICE) Institute. “ICE Institute merupakan galeri pembelajaran daring di Indonesia,” terang Paulina Pannen, Kepala ICE Institute.

ICE Institute berperan dalam penyediaan dan pemanfaatan mata kuliah daring yang sudah terkurasi dalam rangka merdeka belajar untuk semua. Setiap perguruan tinggi mitra diminta berkontribusi 10 mata kuliah untuk ditawarkan secara gratis selama tiga tahun lewat platform ICE Institute. “Saat ini sudah ada 120 mata kuliah daring yang akan segera diintegrasikan,” tutur Paulina yang hadir secara virtual dari Universitas Terbuka Convention Center (UTCC).

Melalui kerja sama ini, ICE dapat memfasilitasi perguruan tinggi untuk menyediakan layanan mata kuliah daring ke berbagai pengguna serta memfasilitasi pengguna untuk memilih berbagai mata kuliah daring yang diminatinya secara mudah dan cepat. “Melalui program ini diharapkan Indonesia dapat mewujudkan merdeka belajar untuk semua dan kedepannya akan lebih banyak menggandeng perguruan tinggi lain,” tutupnya mengakhiri pidato.

Dalam sambutannya, Dirjen Dikti mengungkapkan dukungannya dalam pengembangan ICE Institute. Ia berharap dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih pendidikan bisa diakses oleh seluruh rakyat Indonesia dan akan tercipta kolaborasi antar mahasiswa maupun dosen lintas daerah. “Tanpa sinergi dan gotong royong akan sangat sulit menciptakan sumber daya manusia unggul untuk kemajuan bangsa,” dukung Nizam mengakhiri pidato.

Lebih lanjut, Rektor UT Ojat Darojat dalam sambutannya menyampaikan bahwa ICE Institute ini merupakan salah satu program strategis Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) yang penyelenggaraanya di bawah koordinasi UT. “Program ini merupakan solusi untuk melakukan pemerataan akses pendidikan bagi seluruh masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Menurut Ojat, hadirnya ICE dapat membuka kesempatan belajar untuk seluruh lapisan masyarakat Indonesia yang berdomisili di perkotaan hingga di daerah terpencil. “Tidak menutup kemungkinan bahwa program ini ke depannya akan menggandeng mitra-mitra yang ada di luar negeri,” imbuhnya optimistis.

Terakhir, lelaki yang pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Bahan Ajar, Ujian, dan Sistem Informasi (LPBAUSI) ini berharap program tersebut dapat memberikan luaran yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia. “Semoga seluruh jerih lelah yang dikorbankan dicatat sebagai amal kebaikan dan upaya ini dapat memberikan warna dalam sejarah perjalanan pendidikan di Indonesia,” tuntasnya. (ita)