Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»SENI BUDAYA»Equilibrium, Titik Nol Empat Perupa

Equilibrium, Titik Nol Empat Perupa

SENI BUDAYA redaksi18/01/2019 - 16:00 WIB

Jati diri memiliki arti penting bagi Seniman. Refleksi hasrat internal yang dibentuk oleh budaya dan lingkungan ini berpengaruh terhadap penciptaan karya sehingga ciri khas yang kemudian lahir menjadi label pembeda antara satu seniman dengan lainnya.

Oleh karenanya, pencarian identitas yang mempunyai andil besar terhadap kesuksesan seniman menjadi tuntutan dan wajib dilakukan.

Gambaran perjalanan yang ditempuh oleh empat perupa asal Jawa Timur: Agus Salim, Catur Hengki Koesworo, Edie Supriyanto dan Zainul Qusta dihadirkan pada gelaran pameran 25 karya seni lukis yang bertajuk “Equillibrium” pada 18 Januari – 9 Februari 2019 di Galeri Paviliun HoS.

“Equilibrium” bagi keempat seniman dianalogikan sebagai titik nol atau awal dimana mereka berangkat memulai sebuah pencaian jati diri dalam berkesenian hingga akhirnya diwujudkan kedalam sebuah konten visual yang mewakili karakter masing-masing.

Dalam perjalanannya, Agus Salim menemukan dirinya memiliki perhatian besar terhadap hubungan antar alam dan manusia.

Bentuk kritikan yang lahir dari keprihatinanya, dituangkan dalam karya bergaya naturalis menggunakan pendekatan ilustratif seolah menyiratkan sebuah dialog antara dua dan tiga dimensional.

Menyampaikan kritik yang sama, Zainul Qusta memvisualisasikan pesannya dalam wujud bidang-bidang yang berbentuk tak tentu dengan bahasa yang ambigu namun tetap menarik untuk diulas.

Berbeda dengan keduanya, Edie Supriyanto membungkus objek utama pada karya-karyanya kedalam karakter wayang, dengan tambahan latar khas ilustrasi Indonesia yang sangat filosofis.

Sementara itu, keseluruhan karya Catur Hengki Koesworo merupakan gambaran dari fenomena-fenomena yang tengah terjadi dan menggejala di Indonesia, kemudian olehnya divisualkan kedalam karya seni bergaya ilustratif yang menarik.

Pada akhirnya, seni menjadi sebuah sarana kontemplasi bagi seniman dalam berkarya. Dengan pendekatan tertentu yang diyakininya, empat seniman ini mengungkapkan kegelisahan mereka dan menerjemahkannya kedalam wujud karya seni.

Athian selaku kurator pameran mengatakan jika dihubungkan dengan karya-karya pada pameran ini, seniman mencoba menyaring gejolak diri mereka melalui nilai dan norma yang berlaku kemudian disampaikan kepada apresiator.

“Jadi pameran Equilibrium ini, bukan hanya soal memajang karya dan mengeksplorasi ide seniman, namun lebih dari itu, pengunjung (publik) dapat mengawal dari awal keterbacaan karya dengan pengalaman yang mereka rasakan lalu bebas memproduksi tafsir maknawinya dalam pameran ini,” jelas Athian. (ita)

HoS House of Sampoerna Pameran Lukisan
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Reog Purbaya Surabaya Raih Juara 3 Nasional FNRP 2026, Lampaui Target dan Harumkan Kota Pahlawan

16/06/2026 - 12:59 WIB

Reog Purbaya Surabaya Tampil Memukau di Festival Nasional Reog Ponorogo 2026, Bidik Posisi Lima Besar

14/06/2026 - 14:05 WIB

Dedikasi Tiga Garda Terdepan Cagar Budaya

27/02/2026 - 10:43 WIB

Meriahkan Hari Guru, KGPS Luncurkan Buku Puisi

01/12/2025 - 11:00 WIB

Pos Bloc Medan, Simbol Transformasi Digital

18/11/2025 - 15:00 WIB

GeLORa Wadahi PT Tingkatkan Peran sebagai Pelestari Budaya

14/11/2025 - 13:00 WIB

Comments are closed.

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove

21/07/2026 - 18:34 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.