Faktor Penting Nol Korban Bencana
KOMUNITAS PERISTIWA

Faktor Penting Nol Korban Bencana

Indonesia merupakan negara rawan bencana. Mulai dari banjir, gempa, tsunami, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan hingga likuifaksi.

Beberapa hal yang menjadi perhatian sebagian besar media dan stakeholders terkait ketika bencana datang adalah jumlah kerusakan dan kerugian. Masih sedikit pihak yang memperhatikan jumlah korban bencana, terutama sebagai pertimbangan untuk manajemen bencana.

Menurut Dr Ir Amien Widodo MSi, pakar Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), terdapat beberapa hal yang membuat Indonesia rawan bencana.

Diantaranya adalah bencana dianggap takdir, bencana masuk kriteria force majeure, sebelum tahun 2007 negara hanya ada BAKORNAS PB (Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana) dan masyarakat tidak disiapkan sebelumnya.

Pendapat itu ia sampaikan pada acara diskusi seminar nasional bertajuk Antisipasi dan Penanganan Bencana di Aula Gadura Mukti, Lantai 5, Gedung Manajemen Kampus C UNAIR Selasa (8/10).

“Bencana masih dianggap takdir. Tapi kita sebagai manusia punya kewajiban untuk tahu ancaman bencana di sekitar kita,” ucap dosen yang akrab disapa Amien tersebut.

Selain itu, pihak-pihak terkait masalah kebencanaan masih belum menempatkan manusia sebagai aset yang harus dilindungi. Karenanya, seberapa banyak korban yang berjatuhan tidak menjadi pertimbangan yang penting.

“Nyawa manusia nilainya tidak terhingga. Maka dari itu seharusnya tidak boleh ada satu korban pun yang jatuh,” jelasnya.

Untuk itu, sudah waktunya Indonesia bergerak menurunkan angka korban bencana menjadi nol. Dan salah satu faktor penting untuk mewujudkan nol korban bencana tersebut adalah pendidikan.

Mengambil contoh pada kejadian tsunami Phuket, Thailand, tahun 2004 silam. Tilly smith, seorang anak perempuan berumur sepuluh tahun dari Inggris berhasil menyelamatkan nyawa banyak orang ketika terjadi bencana tersebut.

Hal tersebut karena saat itu Tilly adalah satu-satunya orang yang mengetahui tentang tsunami. Pelajaran itu didapatkan dari guru geografi tempat Tilly sekolah.

“Pendidikan mengenai berbagai bencana di Indonesia sangat penting untuk menjadi bekal masyarakat dan bisa menyelamatkan banyak orang,” tegas Amien.

Berdasarkan hasil survei, warga terdampak gempa kobe 1995 selamat hampir 95 persen di antaranya karena bantuan diri sendiri dan orang terdekat. Yaitu 34.9 persen karena pertolongan diri sendiri, 31.9 persen pertolongan keluarga dan 28 persen dari teman dan tetangga.

“Kalau di industri, kita kenal istilah zero accident. Harapannya ke depan nol korban bencana bisa menjadi target bahkan SOP (standar operasional prosedur, Red) bagi BPBD. Jikalau nanti masih ada korban, bisa dilakukan evaluasi,” pungkas Amien. (ita)