Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KOMUNITAS»Faktor Penting Nol Korban Bencana

Faktor Penting Nol Korban Bencana

KOMUNITAS redaksi11/10/2019 - 16:00 WIB

Indonesia merupakan negara rawan bencana. Mulai dari banjir, gempa, tsunami, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan hingga likuifaksi.

Beberapa hal yang menjadi perhatian sebagian besar media dan stakeholders terkait ketika bencana datang adalah jumlah kerusakan dan kerugian. Masih sedikit pihak yang memperhatikan jumlah korban bencana, terutama sebagai pertimbangan untuk manajemen bencana.

Menurut Dr Ir Amien Widodo MSi, pakar Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), terdapat beberapa hal yang membuat Indonesia rawan bencana.

Diantaranya adalah bencana dianggap takdir, bencana masuk kriteria force majeure, sebelum tahun 2007 negara hanya ada BAKORNAS PB (Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana) dan masyarakat tidak disiapkan sebelumnya.

Pendapat itu ia sampaikan pada acara diskusi seminar nasional bertajuk Antisipasi dan Penanganan Bencana di Aula Gadura Mukti, Lantai 5, Gedung Manajemen Kampus C UNAIR Selasa (8/10).

“Bencana masih dianggap takdir. Tapi kita sebagai manusia punya kewajiban untuk tahu ancaman bencana di sekitar kita,” ucap dosen yang akrab disapa Amien tersebut.

Selain itu, pihak-pihak terkait masalah kebencanaan masih belum menempatkan manusia sebagai aset yang harus dilindungi. Karenanya, seberapa banyak korban yang berjatuhan tidak menjadi pertimbangan yang penting.

“Nyawa manusia nilainya tidak terhingga. Maka dari itu seharusnya tidak boleh ada satu korban pun yang jatuh,” jelasnya.

Untuk itu, sudah waktunya Indonesia bergerak menurunkan angka korban bencana menjadi nol. Dan salah satu faktor penting untuk mewujudkan nol korban bencana tersebut adalah pendidikan.

Mengambil contoh pada kejadian tsunami Phuket, Thailand, tahun 2004 silam. Tilly smith, seorang anak perempuan berumur sepuluh tahun dari Inggris berhasil menyelamatkan nyawa banyak orang ketika terjadi bencana tersebut.

Hal tersebut karena saat itu Tilly adalah satu-satunya orang yang mengetahui tentang tsunami. Pelajaran itu didapatkan dari guru geografi tempat Tilly sekolah.

“Pendidikan mengenai berbagai bencana di Indonesia sangat penting untuk menjadi bekal masyarakat dan bisa menyelamatkan banyak orang,” tegas Amien.

Berdasarkan hasil survei, warga terdampak gempa kobe 1995 selamat hampir 95 persen di antaranya karena bantuan diri sendiri dan orang terdekat. Yaitu 34.9 persen karena pertolongan diri sendiri, 31.9 persen pertolongan keluarga dan 28 persen dari teman dan tetangga.

“Kalau di industri, kita kenal istilah zero accident. Harapannya ke depan nol korban bencana bisa menjadi target bahkan SOP (standar operasional prosedur, Red) bagi BPBD. Jikalau nanti masih ada korban, bisa dilakukan evaluasi,” pungkas Amien. (ita)

Amien Widodo Mitigasi Bencana
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

Comments are closed.

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove

21/07/2026 - 18:34 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.