Film memiliki sumbangan produk domestik bruto (PDB) terbesar kedua, yakni 10,09%. Jumlah penonton film di bioskop pun naik hampir tiga kali lipat selama dua tahun menjadi 42 juta orang pada 2017.
Kepala Bekraf Triawan Munaf menyampaikan pada 2015 sebanyak 16 juta orang menikmati film di bioskop dan jumlah tersebut mengalami kenaikan signifikan dua tahun kemudian.
Namun jumlah penonton film karya anak bangsa masih belum bisa mencapai 10 juta penonton. Jumlah penonton paling tinggi untuk film nasional saat ini adalah film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! part 1 sebanyak 6,8 juta penonton.
Hal ini karena dibatasi oleh jumlah layer bioskop yang masih terbatas. Padahal potensi pasar sangat besar mengingat jumlah masyarakat Indonesia mencapai lebih dari 250 juta orang.
“Dulu (2016) layar bioskop hanya 1.100 layar tapi sekarang sudah naik menjadi 1.500 layar. Harapannya pada 2020 bisa mencapai 5.000 layar setelah dibukanya investasi asing,” ungkap Triawan saat acara Bincang Bareng Bekraf di Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN), awal pekan ini.
Bioskop mampu membuktikan diri sebagai salah satu alternatif hiburan masyarakat di tengah perkembangan teknologi. Hal ini karena bioskop menawarkan pengalaman berbeda kepada penonton jika dibandingkan melaui komputer atau gawai. Oleh karena itu, investasi pembuatan layar bioskop ini selayaknya menyasar daerah kecil di Indonesia dengan harga tiket yang lebih terjangkau.
Melalui Deputi Infrastruktur, Bekraf juga membuat Bioskop Misbar di Sabang, Aceh dan Kayong Utara, Kalimantan Barat. Tak hanya untuk menonton film, Bioskop Misbar ini juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas kesenian lain.
Bekraf juga berkomitmen membantu akses permodalan melalui kegiatan Akatara Indonesian Film Financing Forum yang mempertemukan investor dan film maker. Hal ini diharapkan dapat menggairahkan industri perfilman nasional.
Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik mengungkapkan investasi di industri perfilman memiliki peluang sukses yang lebih besar, yakni 16%. Hal ini lebih besar jika dibandingkan dengan aplikasi dan game yang hanya 3%.
Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf Abdur Rohim Boy Berawi menyampaikan sumbangan film masih kurang signifikan. Sumbangan ke PDB hanya sekitar 0,17% untuk kategori film, animasi dan video tapi memiliki pertumbuhan terbesar kedua, yakni 10,09% pada 2016.
Triawan mengingatkan bahwa penghitungan kontribusi PDB tersebut hanya menghitung kuantitas unit usahanya tanpa melihat multiplier effect yang ditimbulkan dari usaha kreatif tersebut, seperti terhadap pariwisata dan usaha kreatif lainnya. “Bekraf berkomitmen menumbuhkan ekosistem supaya ekonomi kreatif mampu tumbuh dengan baik,” pungkasnya. (sak)

