Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Dr Soetomo Surabaya merayakan yudisium dan pelepasan lulusan mahasiswa semester Genap 2020/2021.
Mahasiswa yang diyudisium berjumlah 44 mahasiswa, terdiri dari program studi Pendidikan Bahasa Indonesia (S1), program studi Pendidikan Matematika (S1), program studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (S2), dan program studi Teknologi Pendidikan (S2 ).
Acara Yudisium yang laksanakan di Hall Hotel Gunawangsa MERR pada Jumat (09/03) tersebut dihadiri Dekan FKIP Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Dr Hetty Purnamasari MPd, perwakilan yayasan, rektorat, jajaran dosen sebanyak 25 orang dan para karyawan. Acara diawali dengan pembacaan SK kelulusan para mahasiswa.
Yudisium adalah tahapan akhir dari seluruh mata kuliah yang telah diambil mahasiswa dan penetapan nilai dalam transkrip akademik. Serta memutuskan lulus atau tidaknya mahasiswa dalam menempuh studi selama jangka waktu tertentu. Yudisium dilakukan sebelum proses wisuda berlangsung.
Mahasiswa FKIP dengan indeks prestasi (IP) tertinggi adalah 3,93 yang diraih Suprapti. Mahasiswa program studi Magister Teknologi Pendidikan (S2) Magsiter dari Riau. Yang bersangkutan juga sukses menulis cerpen bersama teman-teman kuliahnya dan dikumpulkan dalam buku antologi cerpen berjudul ‘Gadis Seberang Pulau’, yang difasilitasi oleh Dr Tri Budi Sastrio MPd.
Dekan FKIP Universitas Dr Soetomo Dr Hetty Purnamasari MPd dalam sambutannya menyampaikan pentingnya sebuah kekuatan usaha dalam setiap perjuangan. Bahwa tidak semua mahasiswa memiliki sarana yang memadai di tempat dia tinggal. Untuk bisa kuliah secara online selama masa pandemi Covid-19.
Beberapa mahasiswa yang tinggal di kepulauan harus menyeberang laut untuk mengikuti perkuliahan. Beberapa mahasiswa juga mengeluhkan biaya paket data yang tidak murah.
“Alhamdulillah dosen dan mahasiswa bisa melakukan kesepakatan dalam penyelesaian masalah. Sebuah penyelesaiaan yang melibatkan banyak orang akan indah jika dilakukan dengan sebuah kesepakatan,” paparnya.
Ditambahkan, bahwa setiap orang mempunyai suatu masalah. Dan setiap masalah punya cara penyelesaian yang berbeda. Bahkan pada masalah yang sama bisa jadi akan dilakukan penyelesaian yang berbeda.
“Kita sendiri yang mampu mensinergikan antara masalah dengan kemampuan diri kita dan situasi saat itu. Apa bila kita diam ketika ada masalah, berarti kita berjalan mundur,” tandas Hetty Purnamasari.
Setelah melangkah keluar dari kampus, kata Hetty, mahasiswa akan dihadapkan dengan banyak masalah dalam kehidupan sosial, yang perlu kedewasaan dan kebijakan dalam penyelesaiannya. Sikap kita dalam menyelesaikan masalah, menurutnya, akan menjadi tolok ukur karakter kita.
“Oleh sebab itu, pandai-pandailah memilih penyelesaian masalah terbijak sebelum mengambil keputusan dan melangkah,” pungkasnya. (sak)

