Gelar Pahlawan untuk Bapak Film Nasional
PERISTIWA SENI BUDAYA

Gelar Pahlawan untuk Bapak Film Nasional

Seperti lazimnya Peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November. Pemerintah kembali memberikan gelar pahlawan sebagai rangkaian peringatan Hari Pahlawan ke-76 tahun 2021. Untuk kali ini, ada empat tokoh yang mendapat anugerah gelar pahlawan nasional.

Pemberian gelar pahlawan yang menjadi agenda tahunan Presiden RI setiap 10 November ditujukan kepada tokoh yang dinilai menginspirasi dan ikut berjuang demi bangsa Indonesia.

Menko Polhukam, Mahfud MD, menyatakan bahwa pemberian gelar pahlawan oleh Presiden Joko Widodo untuk empat tokoh ini telah ditetapkan pada 28 Oktober 2021 bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. “Peresmian gelar pahlawan kepada 4 tokoh ini akan dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November 2021 atau bertepatan dengan peringatan hari pahlawan di Istana Bogor,” ucap Mahfud MD.

Presiden Jokowi memberikan gelar pahlawan nasional tersebut di Istana Bogor usai berziarah di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (10/11) pagi.

Pengangkatan empat tokoh menjadi pahlawan nasional itu berdasarkan Keputusan Presiden RI No 109/TK2021 tentang Penganugerahan Pahlawan Nasional.

Pemberian gelar pahlawan memiliki dasar hukum Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) hingga Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 35 tahun 2010 dan PP Nomor 25 Tahun 2000. Dasar hukum tersebut mengatur cara jadi pahlawan nasional, bahwa setiap orang atau institusi dapat mengusulkan gelar calon pahlawan nasional kepada negara.

Masyarakat adat, komunitas, kalangan akademis, keluarga tokoh, pemerintah daerah dapat mengusulkan seorang tokoh untuk dinobatkan sebagai pahlawan nasional sepanjang mengikuti UU 20/2009.

Mengacu dari aturan tersebut, calon pahlawan nasional bisa diusulkan lebih dari satu kali jika ada persyaratan yang belum terpenuhi atau ditunda.

Usulan calon pahlawan nasional dari daerah lalu harus melalui pertimbangan Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP). Setelah memenuhi kriteria TP2GP, kemudian oleh Menteri Sosial RI diajukan kepada Presiden RI melalui Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan guna mendapatkan persetujuan Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional sekaligus Tanda Kehormatan lainnya.

Haji Usmar Ismail dari DKI Jakarta
Haji Usmar Ismail yang dikenal juga sebagai Bapak Perfilman Indonesia ini lahir pada 20 Maret 1921 dan wafat pada 2 Januari 1971. Meski sudah 50 tahun lalu wafat, sosok Usmar Ismail tetap lekang dalam ingatan masyarakat. Ia dikenal sebagai sosok seorang wartawan, sutradara film, sastrawan dan pejuang yang menjadi pelopor perfilman dan drama modern di Indonesia.

Pemberian gelar itu diusulkan oleh Festival Film Indonesia (FFI) dan Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid. Nama Usmar besar di dunia perfilman nasional. Sepanjang hayatnya telah lebih membuat 30 film di era 1940 hingga 1960-an.

Laman Badan Bahasa Kemendikbudristek mengatakan, Usmar memang punya perhatian khusus terhadap film. Sebelum menjadi sutradara, ia sering kali berkumpul di suatu gedung di depan Stasiun Tugu untuk berdiskusi mengenai seluk-beluk film.

Beberapa sohibnya yang sering diajak diskusi yaitu Anjar Asmara yang juga merupakan sutradara, Sastrawan Armijn Pane, Sutarto, dan tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) Kotot Sukardi.

Anjar adalah orang pertama yang menggeret Usmar masuk langsung ke dunia perfilman. Saat itu, Usmar diminta menjadi menjadi asisten sutradara (Astrada) dalam film ‘Gadis Desa’. Film itu kemudian dirilis pada 1949.

Tak henti, Usmar makin getol membuat film. Setelah debut menjadi Astrada, Usmar akhirnya menyutradarai langsung puluhan film. Beberapa di antaranya mengangkat nama Usmar di pentas nasional, ‘Harta Karun’ (1949), ‘Citra’ (1949), ‘Darah dan Doa’ (1950), ‘Enam jam di Yogya’ (1951), ‘Dosa Tak Berampun’ (1951), ‘Krisis’ (1953), ‘Kafedo’ (1953), ‘Lewat Jam malam’ (1954), ‘Tiga Dara’ (1955), dan ‘Pejuang’ (1960).

Film ‘Tiga Dara’ yang dirilis 1957 merupakan puncak ketenaran karya Usmar Ismail. Dari film inilah mengangkat karier para bintangnya (Chitra Dewi, Mieke Wijaya, Indriati Iskak), masuk box office tertinggi dari film Perfini manapun, dan ditayangkan di bioskop-bioskop kelas satu. Film ‘Tiga Dara’ sempat ditampilkan di Festival Film Venesia 1959 dan meraih Tata Musik Terbaik di Festival Film Indonesia 1960.

Atas kiprah di dunia perfilman, nama Usmar juga diabdikan menjadi nama sebuah gedung perfilman, yaitu Pusat Perfilman Usmar Ismail yang terletak di daerah Kuningan, Jakarta.

Sebelum dikenal sebagai sutradara, pria kelahiran Bukittinggi ini awalnya berkecimpung di dunia sastra dan seni teater. Bakatnya dalam sastra terlihat sejak ia duduk di bangku SMP di Simpang Haru, Padang. Saat itu, Usmar menggagas suatu ide cerita untuk tampil dalam acara perayaan hari ulang tahun Putri Mahkota, Ratu Wilhelmina, di Pelabuhan Muara, Padang.

Tombolotutu dari Sulawesi Tengah

Tombolotutu merupakan tokoh dari Sulawesi Tengah pertama yang mendapat gelar pahlawan. Tombolotutu adalah salah satu raja di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Tombolotutu mempunyai gelar Pua Darawati, ia menerima tahta Kerajaan Moutong pada tahun 1877 di umur 20 tahun.

Walau hampir terlupakan, namun jejak perjuangan Tombolotutu berhasil diangkat menjadi sebuah buku oleh Lukman Najdamudin M.Hum. dengan judul ‘Bara Perlawanan di Teluk Tomini’.

Buku itu banyak mengulas tentang bagaimana kisah heroik yang ditunjukan Tombolotutu saat melawan Belanda. Salah satunya, ketika Pemerintah Belanda menurunkan Pasukan Marsose untuk menumpas Tombolotutu.
Marsose adalah pasukan elite Belanda yang pernah diturunkan saat perang Diponegoro dan perang Aceh. Kala itu pasukan Marsose yang diturunkan untuk menumpas perlawanan Tombolotutu kurang lebih berjumlah 170 pasukan. Tapi Tombolotutu menolak takluk.

Sultan Aji Muhammad Idris dari Kalimantan Timur
Sultan Aji Muhammad Idris merupakan tokoh pertama dari Kalimantan Timur yang mendapat gelar pahlawan. Tokoh yang lahir di Pemarangan Jembayan 1697 berjuang melawan dominasi VOC Belanda saat itu, beliau gugur dalam pertempuran perebutan Benteng Ford Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.

Situs Pemerintah Provinsi Kabupaten Kutai Kartanegara menyebut tokoh bergelar Raja Kutai Kartanegara Ing Martadipura itu juga berjasa mengusir VOC dari Sulawesi Selatan.

Ia tak hanya berjuang memerdekakan wilayah sendiri, tapi juga sekutunya. Pada 1736, Idris mengirim ratusan pasukan untuk membantu Kerajaan Wajo menghadapi VOC. Bahkan, ia disebut memimpin barisan terdepan dalam perang melawan VOC

Raden Arya Wangsakara dari Banten
Raden Arya Wangsakara adalah seorang ulama asal Sumedang. Ia kemudian berjuang melawan kolonial Belanda sekaligus pendiri Kabupaten Tangerang, Banten pada tahun 1640. Perjuangan beliau melalui penyebaran agama Islam membuat VOC takut dan memicu peperangan di wilayah itu medio tahun 1652-1653.

Kegigihan rakyat di bawah kepemimpinan Raden Aria Wangsakara yang melakukan pertempuran selama tujuh bulan berturut-turut itupun membuahkan hasil.

VOC gagal merebut wilayah Lengkong yang berhasil dipertahankan oleh Wangsakara dan para pengikutnya. Wangsakara sendiri gugur pada tahun 1720 di Ciledug dan dimakamkan di Lengkong Kyai, Kabupaten Tangerang. (indonesia.go.id)