Terpilihnya Heti Palestina Yunani sebagai Ketua Dewan Kebudayaan Surabaya menandai babak baru dalam penguatan ekosistem kebudayaan di Kota Pahlawan. Bagi Heti, posisi tersebut bukanlah simbol kompetisi atau perebutan jabatan, melainkan bentuk kesanggupan serta komitmen untuk bekerja bersama dalam memajukan kebudayaan Surabaya.
Heti mengaku tidak pernah membayangkan akan dipercaya memimpin lembaga kebudayaan tersebut. Ia bahkan hampir tidak dapat mengikuti proses musyawarah karena memiliki agenda perjalanan menuju Ambon. Namun rencana tersebut akhirnya dapat ditunda sehingga ia tetap dapat mengikuti jalannya rapat secara daring melalui Zoom saat berada di atas kapal.
Dalam proses pemilihan pengurus sebelumnya, Heti menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melakukan upaya penggalangan dukungan. Bahkan dalam tahap pemungutan suara awal yang memungkinkan setiap peserta memberikan tiga pilihan, seluruh suaranya justru diberikan kepada kandidat lain.
“Saya tidak menggalang suara atau mempengaruhi siapa pun untuk memilih saya. Namun ternyata tetap mendapat dukungan hingga masuk tiga besar,” ujarnya.
Situasi pemilihan semakin menarik ketika proses penentuan berlangsung dengan perolehan suara yang sama antara dua kandidat. Pada momen itulah Heti menggunakan hak pilihnya sebagai pemilih terakhir. Keputusan tersebut menjadi suara penentu yang mengantarkannya menjadi ketua Dewan Kebudayaan Surabaya.
Menurut Heti, keputusan itu bukanlah bagian dari persaingan kekuasaan. Ia menilai proses tersebut lebih berkaitan dengan kesediaan pribadi untuk memikul tanggung jawab dan menjalankan komitmen dalam menggerakkan kerja kolektif lembaga.
“Banyak yang mengira itu kompetisi. Padahal bagi saya ini tentang kesanggupan dan komitmen untuk bekerja bersama,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Dewan Kebudayaan Surabaya akan bekerja dengan pendekatan kolaboratif. Seluruh anggota pengurus yang berjumlah 13 orang diharapkan dapat menjalankan fungsi masing-masing tanpa membawa kepentingan sektoral.
Menurutnya, kerja kebudayaan tidak dapat dilakukan secara parsial oleh individu atau kelompok yang hanya fokus pada bidang seni tertentu. Sebaliknya, dibutuhkan pendekatan lintas disiplin dan semangat kolektif agar kebijakan kebudayaan di Surabaya dapat berkembang secara lebih terarah.
“Saya ingin semua pengurus bekerja dari titik tengah, bukan dari pinggir dengan kepentingan masing-masing. Semangat DKS adalah kolaborasi,” jelasnya.
Heti juga menekankan pentingnya ketulusan dalam kerja kebudayaan. Ia menilai tidak semua orang bersedia terlibat secara serius dalam memikirkan pengembangan seni dan budaya kota. Karena itu, keberadaan pengurus Dewan Kebudayaan Surabaya yang terpilih melalui proses seleksi dianggap sebagai bentuk komitmen moral untuk mengabdi kepada kota.
Perjalanan Heti dalam dunia kebudayaan Surabaya juga tidak terlepas dari latar belakang keluarganya. Ia mengikuti jejak ayahnya, RM Yunani Prawiranegara, yang dikenal sebagai jurnalis sekaligus anggota Dewan Pleno Dewan Kesenian Surabaya dan Tim Cagar Budaya Pemerintah Kota Surabaya.
Heti sendiri pernah mengikuti pemilihan Ketua Dewan Kesenian Surabaya periode 2014–2019 namun tidak terpilih. Meski demikian, ia tetap aktif dalam berbagai aktivitas seni dan kebudayaan di Surabaya.
“Tidak ada kata kapok, karena ini kerja yang menuntut bakti dan menguji ketulusan,” ujarnya.
Ia juga mencatat bahwa kepemimpinannya kemungkinan menjadi sejarah baru bagi Surabaya, karena untuk pertama kalinya posisi ketua dewan kesenian atau kebudayaan di kota tersebut dijabat oleh seorang perempuan. (tas)
