Kebijakan pembatasan penggunaan handphone (HP) di sekolah yang diterapkan Pemerintah Kota Surabaya mulai menunjukkan hasil nyata. Setelah berjalan selama dua bulan, kebijakan tersebut dinilai berhasil meningkatkan interaksi sosial siswa serta memperkuat disiplin dan karakter anak.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan pembatasan gawai merupakan langkah preventif untuk melindungi anak dari dampak negatif konten digital dan media sosial, sekaligus mengembalikan fungsi sekolah sebagai ruang pembentukan karakter.
Dengan berkurangnya penggunaan ponsel di kelas, proses pembelajaran menjadi lebih hidup. Guru dan murid terlibat interaksi yang lebih intens, sementara hubungan antarsiswa juga semakin erat.
“Anak-anak yang sebelumnya menyendiri karena bermain HP sekarang sudah mulai berinteraksi. Kasus perundungan juga berkurang,” ungkap Eri.
Ia menekankan bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga membangun jiwa sosial, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab peserta didik.
Selain itu, pembatasan gawai membuat siswa lebih fokus dalam mengikuti pelajaran dan merasa lebih aman dari paparan konten yang tidak sesuai usia. Dampak tersebut, menurut Eri, menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan ramah anak.
Kebijakan ini diterapkan secara menyeluruh, termasuk kepada guru. Pemkot Surabaya juga aktif melibatkan orang tua melalui pertemuan rutin dan sosialisasi agar pembatasan penggunaan gawai berlanjut di rumah.
Wali Kota Eri mengingatkan bahwa pengawasan orang tua memegang peranan krusial, mengingat literasi digital anak kerap lebih tinggi dibanding orang tua. Karena itu, sinergi antara sekolah, pemerintah, dan keluarga menjadi kunci keberhasilan kebijakan ini.
“Pembatasan HP ini bukan melarang, tetapi mengarahkan agar anak-anak bijak menggunakan teknologi,” ujarnya.
Ke depan, Pemkot Surabaya berharap kebijakan ini dapat terus memperkuat karakter, meningkatkan interaksi sosial yang sehat, serta mendukung visi Surabaya sebagai Kota Ramah Anak dan kota yang menyiapkan generasi pemimpin masa depan. (tas)
