Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KOMUNITAS»Indonesia Perlu Belajar dari Jepang

Indonesia Perlu Belajar dari Jepang

KOMUNITAS redaksi05/01/2019 - 16:00 WIB

Tsunami yang terjadi di Palu berbeda dengan tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Ketika tsunami Aceh terjadi, hiposentrum atau pusat terjadinya titik gempa terletak di dalam laut sehingga menimbulkan gelombang yang tinggi lagi panjang. Berbeda dengan tsunami yang terjadi di Palu, pusat titik gempanya terjadi di darat, namun dapat menyebabkan tsunami di laut.

Berdasarkan hasil pengamatan dari ahli tsunami Institut Teknologi Bandung, dari Kelompok Keahlian Sumber Daya Air, Mohammad Bagus Adityawan ST MT PhD, bahwa bentuk pantai di Palu cukup berbeda, yakni dengan adanya bagian laut yang menjorok ke darat atau biasa disebut dengan teluk.

Keberadaan teluk ini berdampak ketika ombak yang menghadang, ia akan berkumpul kemudian menghantam sisi pantai dan berkumpul di area yang sama, sehingga menyebabkan besarnya gelombang yang dihasilkan akibat hantaman ke arah pantai.

Ketika melakukan kunjungan ke pantai Taipa di Palu, dosen yang meraih gelar doktoral di Universitas Tohoku Jepang ini, menemukan tetrapoda blok beton pantai yang sudah berantakan dan rusak. Alat ini berguna untuk menahan dan memecah ombak yang menghampiri pantai. Namun sayang, kondisinya saat ini sudah berjatuhan dan terguling.

Sebagai perhatian, ketika tsunami menghantam daratan, masyarakat perlu sadar bahwa gelombang air tersebut akan menarik kembali ke arah laut dengan lebih kuat. “Sehingga perlu diantisipasi juga tarikan ke laut oleh warga pesisir jika hal yang sama terjadi,” kata Bagus Adityawan seperti dilaporkan Kantor Berita ITB.

Tak hanya itu, ahli tsunami yang sekaligus lulusan ITB ini juga melihat dampak tsunami pada sungai sekitarnya. Tsunami yang masuk kembali ke sungai seperti masuk jalan tol, dapat berhenti setelah berkilo-kilo meter jauhnya.

Jika terjadi tsunami kembali, perlu dilakukan perhitungan seberapa jauh dampak tsunami berpengaruh pada sungai di sekitarnya, atau bahkan zonasi serta perlindungan terhadap tsunami itu sendiri.

Ada baiknya, diberlakukan aturan izin pembangunan lahan maksimal 100 meter dari pantai sehingga dapat mengurangi risiko korban. Indonesia sudah sepatutnya belajar dari Jepang perihal tsunami. Jepang melakukan multi defense, yaitu pembuatan tanggul secara berlapis.

Seperti tanggul untuk di pinggir pantai, kemudian jalan raya yang turut didesain sedemikian rupa agar dapat menjadi benteng pertahanan air.

“Karena tujuan dari ikhtiar ini tentu bermuara pada minimalisasi dampak kerusakan dan korban. Karena bencana alam tak bisa ditahan, hal tersebut tak mungkin dihilangkan dan sudah ketentuan dari Tuhan,” ucapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa sangat mungkin ada usulan program yang dapat diterapkan oleh ITB dan pihak-pihak terkait mengenai pengembangan sumber daya air.

Misalnya, pembuatan master plan tata air, pengaturan saluran irigasi yang terputus agar dapat mengairi sawah atau perkebunan di sekitar, dan penyusunan sistem drainase.

“Karena tampaknya belum ada usulan terkait hal ini. Semoga ke depannya dapat direncanakan program-program untuk kembali membangun dan membangkitkan Palu, Sigi, serta Donggala,” harapnya. (ist)

Tsunami
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

Comments are closed.

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove

21/07/2026 - 18:34 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.