Kapasitas produksi terpasang PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) tahun depan bakal meningkat menjadi 35 juta ton per tahun. Peningkatan ini lantaran didukung oleh selesainya pabrik semen Indanmg dan pabrik semen Rembang.
Sebagai catatan, pabrik semen Rembang menelan investasi sebesar Rp 4,9 triliun. Kapasitas yang dimiliki pabrik ini mencapai tiga juta ton per tahun. Pendirian pabrik semen Indarung VI, Padang, Sumatra Utara, menelan investasi Rp 3,25 triliun. Pabrik ini punya kapasitas produksi yang sama.
Agung Wiharto, Sekretaris Perusahaan SMGR, menyatakan, dengan kemampuan kapasitas terpasang sebesar 35 juta ton per tahun, SMGR memiliki kemampuan produksi 33 juta ton per tahun. “Tidak dihitung 100% karena ada kebutuhan maintenance,” kata Agung seperti dikutip KONTAN.
Selama 2017, utilitas pabrik SMGR mencapai sekiter 83%. Dengan adanya pabrik barn, SMGR berharap produknya bisa terserap maksimal di pasar sehingga bisa meningkatkan utilitas.
Dalam catatan KONTAN, SMGR sedang membangun dua pabrik lagi di Aceh dan Kupang. Pabrik Aceh targetnya rampung di 2019, sedangkan pabrik Kupang selesai di 2020. Masingmasing pabrik memiliki kapasitas produksi 2,5 juta3 juta ton per tahun.
Saat ini, kapasitas terpasang produksi semen nasional mencapai 106 juta ton. Sementara, kapasitas produksi yang terpakai mencapai 90 juta ton.
Pada tahun ini, konsumsi semen nasional diperkirakan mencapai 66 juta-67 juta ton per tahun. Selanjutnya tahun depan, permintaan semen nasional diprediksi tumbuh sekitar 5% atau mencapai sekitar 70 juta-72 juta ton. Dengan demikian, masih ada oversupply.
Agung memprediksi, pertumbuhan volume penjualan SMGR tahun depan sejalan dengan industri nasional. “Pertumbuhan sama, supaya market share kami terjaga,” lanjut dia.
SMGR akan mendorong strategi penjualan. Di antaranya dengan menguatkan pemasaran produk bam, seperti semen Maxstrength.
Pada kuartal III 2017, SMGR meraih kenaikan pendapatan 7,7% menjadi Rp 20,55 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Namun, laba perusahaan ini anjlok 50,16% menjadi Rp 1,46 triliun. (ktn)

