Pelaksanaan Wisuda Universitas Airlangga (UNAIR) periode 262 kembali menghadirkan kisah perjuangan yang menjadi inspirasi bagi banyak orang. Di antara 980 lulusan yang dikukuhkan, terdapat sosok Devi Ridho Syavitri, lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), yang berhasil mencatatkan prestasi sebagai salah satu wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,90.
Pencapaian tersebut tidak hanya menjadi catatan akademik, tetapi juga merepresentasikan perjalanan panjang yang dilalui Devi dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Di balik keberhasilannya menyelesaikan pendidikan tinggi dengan hasil membanggakan, terdapat cerita tentang kehilangan, keteguhan, dan keberanian untuk terus melanjutkan langkah.
Dalam sambutannya di hadapan jajaran pimpinan universitas, senat akademik, keluarga wisudawan, serta para lulusan lainnya, Devi menyampaikan bahwa impian menempuh pendidikan tinggi telah tumbuh sejak usia dini. Ia memiliki cita-cita untuk dapat melanjutkan pendidikan hingga jenjang lebih tinggi dan berkarier sebagai dosen.
“Sejak kecil, saya memiliki keinginan yang besar untuk bisa berkuliah dan menjadi seorang dosen,” ujar Devi.
Namun, perjalanan menuju cita-cita tersebut tidak berlangsung mudah. Pada tahun 2021, ketika ia sedang mempersiapkan langkah menuju perguruan tinggi, keluarga yang menjadi sumber dukungan utamanya mengalami kehilangan besar. Ayah Devi meninggal dunia. Tidak lama kemudian, tepat sekitar 100 hari setelah kepergian sang ayah, ibunya juga berpulang.
Peristiwa tersebut menjadi titik yang mengubah arah hidupnya. Dalam waktu yang berdekatan, Devi harus menghadapi kenyataan kehilangan kedua orang tua sekaligus di tengah fase penting menentukan masa depan pendidikan.
Ia mengakui bahwa pada masa tersebut dirinya sempat merasa ragu apakah impian untuk mengenyam pendidikan tinggi masih dapat diwujudkan.
“Kala itu, bermimpi menjadi seorang dosen atau bahkan mencapai pendidikan tinggi bukan lagi sebuah tujuan, melainkan angan-angan panjang yang terasa sulit untuk didapatkan,” tuturnya.
Meski demikian, situasi tersebut tidak membuatnya berhenti. Devi memilih untuk tetap melanjutkan langkah dan berusaha membuka kesempatan baru bagi dirinya. Keputusan untuk terus mencoba menjadi awal perjalanan yang kemudian membawanya diterima sebagai mahasiswa Universitas Airlangga.
Selama menjalani perkuliahan, Devi memperoleh dukungan melalui dua program beasiswa yang membantunya menyelesaikan studi. Kesempatan tersebut dimanfaatkannya untuk menjaga performa akademik dan terus mengembangkan diri hingga mampu menyelesaikan pendidikan dengan capaian yang tinggi.
Konsistensi selama masa studi akhirnya membuahkan hasil. Devi berhasil lulus sebagai salah satu wisudawan terbaik sekaligus memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister melalui beasiswa yang diberikan oleh Rektor Universitas Airlangga.
Pencapaian tersebut menjadi penanda bahwa keterbatasan dan kondisi hidup yang berat tidak selalu menghentikan seseorang untuk mencapai tujuan pendidikan.
Momentum wisuda juga menjadi pengingat mengenai peran lulusan perguruan tinggi setelah menyelesaikan pendidikan formal. Para lulusan tidak hanya membawa gelar akademik, tetapi juga diharapkan mampu berkontribusi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (IKAFE) UNAIR, Rizky Supriadi, SE., Ak., MBA, menyampaikan bahwa para alumni memiliki peran penting dalam membawa perubahan positif di berbagai daerah.
Menurutnya, sebagian lulusan nantinya akan kembali ke daerah asal masing-masing dan menjadi bagian dari pembangunan melalui gagasan, kompetensi, serta kontribusi nyata yang dimiliki.
“Masyarakat sangat membutuhkan dan menunggu ide kreatif, pemikiran, waktu, dan tenaga rekan-rekan semua,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kontribusi alumni tidak hanya diukur dari posisi pekerjaan atau capaian individu, tetapi juga dari sejauh mana mereka mampu memberikan dampak yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Harapannya, para lulusan Universitas Airlangga dapat terus menghadirkan berbagai prestasi, inovasi, dan karya yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat luas. Kiprah tersebut diharapkan turut memperkuat reputasi almamater sekaligus memperluas kontribusi pendidikan tinggi Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.
Kisah Devi Ridho Syavitri menjadi salah satu gambaran bahwa perjalanan pendidikan tidak selalu berjalan dalam kondisi ideal. Namun, dengan ketekunan, dukungan yang tepat, dan keberanian untuk terus melangkah, tantangan yang hadir dapat menjadi bagian dari proses menuju pencapaian yang lebih besar. (ita)

