Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KOMUNITAS»Kekhawatiran Berlebih Akibat Minim Informasi

Kekhawatiran Berlebih Akibat Minim Informasi

KOMUNITAS redaksi18/04/2020 - 14:00 WIB

Di tengah naiknya kasus Virus Corona atau Covid-19, kecemasan dan ketakutan masyarakat untuk tertular menjadi masalah baru yang perlu untuk diperhatikan berbagai pihak.

Terlebih, kecemasan dan ketakutan tersebut tidak jarang menimbulkan stigma masyarakat kepada para pasien Covid-19 dan tenaga medis yang menanganinya. Bahkan kadang, stigma tersebut menimbulkan perilaku diskriminatif terhadap pasien dan petugas medis.

Menurut Hario Megatsari SKM MKes, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), stigma tersebut disebabkan karena ketidakpahaman masyarakat mengenai permasalahan yang ada. Sehingga, masyarakat yang seharusnya mendukung petugas medis malah bertindak sebaliknya.

“Petugas medis seharusnya didukung penuh oleh seluruh pihak termasuk masyarakat. Sehingga, secara psikologis mereka nyaman untuk bekerja,” ucap dosen yang akrab disapa Fisto tersebut.

Terdapat beberapa dukungan yang bisa diberikan masyarakat kepada petugas medis, khususnya petugas medis yang menangani Covid-19. Di antaranya adalah menjaga rumah petugas medis tersebut, membelikan makanan yang bergizi, atau menjaga anak petugas medis dengan baik. Dukungan serupa juga dapat diberikan kepada keluarga pasien Covid-19.

“Upaya tersebut dapat membuat psikologis petugas medis menjadi tenang dalam melakukan pekerjaannya,” lanjut salah satu dosen di Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku FKM UNAIR itu.

Pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menghilangkan stigma terhadap petugas medis dan pasien Covid-19. Selain itu, masyarakat juga perlu belajar banyak tentang Covid-19 sehinga mereka bisa melihat permasalahan secara proporsional.

“Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait Covid-19, maka perlu dilakukan edukasi terus menerus dan upaya untuk mengurangi hoaks. Meningat, hoaks tersebut dapat menjadi pemicu munculnya stigma tersebut,” terangnya.

Dengan melihat permasalahan yang ada saat ini, edukasi tidak langsung seperti melalui media online dirasa menjadi pilihan yang paling logis. Meskipun begitu, edukasi juga dapat dilakukan secara langsung kepada masyarakat dengan memperhatikan beberapa hal untuk mencegah penularan Covid-19.

Edukasi langsung bisa dilakukan oleh pihak kelurahan atau desa dengan didampingi oleh petugas kesehatan setempat atau pihak puskesmas. Materi edukasi yang digunakan sebaiknya menggunakan materi atau pesan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah.

“Ketika melakukan edukasi secara langsung, perlu diperhatikan jarak interaksi dan penggunaan alat pelindung diri (APD),” ucap Fisto.

Ditengah pandemi Covid-19 ini, Fisto mengajak seluruh pihak untuk tidak berhenti belajar. Selain itu juga tidak mudah membagi berita yang belum jelas kebenarannya. (ita)

COVID-19 Virus Corona Virus Korona
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

Comments are closed.

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove

21/07/2026 - 18:34 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.