Peringatan Hari Gerakan Satu Juta Pohon dimanfaatkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa untuk menegaskan pentingnya penanaman pohon sebagai bagian dari investasi jangka panjang bagi lingkungan dan perekonomian daerah.
Khofifah menilai bahwa gerakan menanam dan merawat pohon memiliki manfaat berlapis, mulai dari pelestarian alam, mitigasi bencana, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi hijau. Hal tersebut ia sampaikan dalam pernyataannya di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (10/1).
“Menanam pohon tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan. Apa yang kita tanam hari ini akan kita petik manfaatnya di masa depan,” kata Khofifah.
Salah satu fokus utama Pemprov Jawa Timur adalah rehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman mangrove. Mangrove dinilai mampu menyerap emisi karbon dioksida hingga lima kali lebih besar dibandingkan vegetasi darat, sekaligus berfungsi sebagai pelindung alami dari abrasi dan banjir rob.
Upaya tersebut membuahkan hasil signifikan. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2024, Jawa Timur kini menjadi provinsi dengan luasan mangrove terbesar di Pulau Jawa. Selama periode 2021–2024, luas mangrove meningkat lebih dari 3.600 hektare, menunjukkan efektivitas kebijakan lingkungan berbasis aksi lapangan.
Selain kawasan pesisir, perbaikan lingkungan darat juga menunjukkan perkembangan positif. Data Pemprov Jatim mencatat penurunan luas lahan kritis secara konsisten, dari lebih 432 ribu hektare pada 2018 menjadi sekitar 370 ribu hektare pada 2024. Penurunan ini menjadi indikator keberhasilan pengelolaan hutan dan lahan yang berkelanjutan.
Khofifah menekankan bahwa pelestarian lingkungan harus berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat. Melalui program Perhutanan Sosial dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), Jawa Timur berhasil mencatat nilai transaksi ekonomi tertinggi secara nasional pada 2025 dengan capaian lebih dari Rp447 miliar.
Menurutnya, pendekatan tersebut membuktikan bahwa menjaga alam tidak bertentangan dengan pertumbuhan ekonomi. Justru sebaliknya, pelestarian lingkungan dapat menjadi motor penggerak ekonomi berbasis komunitas.
Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur ini juga menyoroti peran pohon dalam mitigasi bencana, khususnya di wilayah rawan longsor dan banjir. Akar pohon berfungsi mengikat tanah dan air hujan, sekaligus menciptakan sumber-sumber air baru yang menopang kehidupan masyarakat.
“Pohon-pohon yang kita tanam hari ini adalah bentuk komitmen kita pada generasi mendatang. Menjaga alam berarti menjaga masa depan,” tegas Khofifah.
Ia pun mengajak masyarakat menjadikan gerakan menanam pohon sebagai gaya hidup, bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat, Khofifah optimistis Jawa Timur mampu menjadi contoh provinsi dengan pembangunan berkelanjutan yang seimbang antara lingkungan dan kesejahteraan. (tas)
