Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • PWI dan IJTI Nganjuk Tolak Istilah ‘Londo Ireng’, Tegaskan Pers Pilar Demokrasi
  • PWI se-Madura Tolak Labeling ‘Londo Ireng’, Tegaskan Pers Pilar Demokrasi
  • Perda Hunian Layak Surabaya Berlaku, Pemilik Kos Wajib Lapor Penghuni Baru Maksimal 7 Hari
  • Shine Harmony Choir Raih Apresiasi Plt Gubernur Emil Dardak atas Prestasi Internasional
  • Penertiban Bangunan Liar Medokan Asri Timur, Pemkot Surabaya Selamatkan Aset Daerah
  • Festival Riset dan Inovasi Semarakkan HUT Ke-3 Kebun Raya Mangrove Surabaya
  • Bank Jatim Gandeng Bank NTT Hadirkan Layanan Remitansi Internasional
  • Normalisasi Sungai Kalianak Tahap III Berlanjut, Pemkot Surabaya Tandai 70 Bangunan di Asemrowo
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KOMUNITAS»Lampu Surya Hadir, Rejeki Mengalir

Lampu Surya Hadir, Rejeki Mengalir

KOMUNITAS redaksi03/03/2022 - 13:00 WIB

Layaknya wanita Papua lainnya, Mince Wenda (26), pandai merajut noken. Noken yang dibuat dari berbagai bahan serat pohon dan kulit kayu tersebut digunakan untuk mengisi, menyimpan, dan membawa berbagai barang. Selain untuk keperluan sendiri, noken buatannya juga ia jual sebagai sumber mata pencaharian.

Mince adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal Kampung Timi, Distrik Wereka, Lanny Jaya, Papua. Di sela kesibukan lainnya, siang hari adalah waktunya untuk merajut noken. Namun, waktunya memiliki keterbatasan. Jika cuaca hujan atau berkabut dia terpaksa harus menunda pekerjaannya, apalagi kalau malam tiba ia sudah tidak bisa lagi berkerja.

“Jadi kalau dulu saya bikin noken waktu siang saja. Tidak bisa bikin noken di dalam (honai) karena gelap,” kata Mince saat ditemui di rumahnya di Kampung Timi, Distrik Wereka, Lanny Jaya, Papua, Rabu (23/02).

Tak bisa dipungkiri, akses terhadap energi listrik sudah beralih menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Pemanfaatan energi listrik baik untuk penerangan dan penggerak roda ekonomi menjadi hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan. Tak terkecuali bagi masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), seperti Mince.

Harapan datang ketika Pemerintah datang ke Kampung Timi dengan program Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE). Lampu surya itu memberikan secercah sinar bagi warga untuk melalui malam dengan lebih produktif. Malam di kampung halaman Mince kini tidak lagi sepi dan gelap.

Mince bercerita, sebelum adanya LTSHE, aktifitas di Kampung Timi berhenti sampai petang. Malam hari ia habiskan di honai, hanya untuk istirahat.” Tapi sekarang ada lampu saya bisa bikin noken di malam hari. Terima kasih atas lampunya,” ungkap Mince tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

Sama halnya dengan Mince, anak-anak di Kampung Timi sebelumnya juga mengalami kesulitan untuk belajar jika malam menjelang. Penerangan malam hari di dalam honai yang kadang hanya berasal dari tungku api kayu bakar tidaklah cukup memberikan cahaya bagi anak-anak untuk belajar.

Anceli Gire, seorang anak usia sekolah dasar di Kampung Timi, menuturkan bahwa ia tidak bisa belajar kalau malam karena kondisi gelap. “Dulu sebelum ada lampu tidak bisa belajar kalau malam. Sekarang sudah ada lampu jadi bisa belajar,” ujarnya sambil tersenyum.

Tak hanya untuk penerangan di dalam honai, warga kampung Tini yang suka berburu juga memanfaatkan LTSHE untuk membantu melakukan perburuan. “Masyarakat juga ada pakai lampu (LTSHE) untuk berburu. Dari empat lampu, dua lampu mereka pakai untuk berburu ke hutan,” ujar Oktovianus Hisage, salah seorang tim teknisi yang memasang LTSHE di Kampung Timi kepada tim esdm.go.id.

Pemerintah terus menyediakan akses listrik bagi seluruh rakyat Indonesia, dimana Timi menjadi salah satu kampung di Papua yang menerima bantuan pemasangan LTSHE. LTSHE merupakan salah satu solusi pra elektrifikasi yang diupayakan oleh pemerintah bagi daerah yang belum terjangkau akses listrik.

Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur EBTKE Kementerian ESDM Hendra Iswahyudi saat Peresmian Pemasangan LTSHE di Kabupaten Yahukimo dan Lanny Jaya di Wamena, Papua, Sabtu (26/2) mengungkapkan bahwa pada dasarnya kegiatan pra elektrifikasi ini dilakukan agar APBN benar-benar dirasakan oleh rakyat.

“Prinsip Pemerintah, penggunaan APBN manfaatnya harus dapat dirasakan langsung oleh rakyat. LTSHE ini sebagai program pra elektrifikasi sebelum jaringan listrik PLN bisa masuk,” ujarnya.

Lampu LTSHE yang dibagikan memiliki beberapa keunggulan, yakni mudah dipasang (plug n play), lampu menggunakan LED sehingga lebih terang. Selain itu, lampu LTSHE juga bisa digunakan untuk senter, pengaturan cahaya lampu LED secara otomatis, dan daya tahan lama, serta bisa digunakan sebagai charger HP.

Komponen 1 set LTSHE terdiri atas 1 (satu) buah modul surya 20 Wp, 4 (empat) buah lampu LED, <= 3 Watt beserta baterai lithium, 4 (empat) buah kabel lampu LED @7 meter, 1 (satu) buah kabel modul surya 5 meter, 1 (satu) buah hub, 1 (satu) buah USB untuk charger HP, dan 1 (satu) buah tiang penyangga aluminium, 1 meter. (sak)

Lampu Surya Hadir Rejeki Mengalir
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

PWI dan IJTI Nganjuk Tolak Istilah ‘Londo Ireng’, Tegaskan Pers Pilar Demokrasi

25/07/2026 - 19:51 WIB

PWI se-Madura Tolak Labeling ‘Londo Ireng’, Tegaskan Pers Pilar Demokrasi

25/07/2026 - 19:44 WIB

Perda Hunian Layak Surabaya Berlaku, Pemilik Kos Wajib Lapor Penghuni Baru Maksimal 7 Hari

25/07/2026 - 18:43 WIB

Penertiban Bangunan Liar Medokan Asri Timur, Pemkot Surabaya Selamatkan Aset Daerah

25/07/2026 - 18:16 WIB

Bank Jatim Gandeng Bank NTT Hadirkan Layanan Remitansi Internasional

24/07/2026 - 23:51 WIB

Normalisasi Sungai Kalianak Tahap III Berlanjut, Pemkot Surabaya Tandai 70 Bangunan di Asemrowo

24/07/2026 - 07:54 WIB

Comments are closed.

PWI dan IJTI Nganjuk Tolak Istilah ‘Londo Ireng’, Tegaskan Pers Pilar Demokrasi

25/07/2026 - 19:51 WIB

PWI se-Madura Tolak Labeling ‘Londo Ireng’, Tegaskan Pers Pilar Demokrasi

25/07/2026 - 19:44 WIB

Perda Hunian Layak Surabaya Berlaku, Pemilik Kos Wajib Lapor Penghuni Baru Maksimal 7 Hari

25/07/2026 - 18:43 WIB

Shine Harmony Choir Raih Apresiasi Plt Gubernur Emil Dardak atas Prestasi Internasional

25/07/2026 - 18:28 WIB

Penertiban Bangunan Liar Medokan Asri Timur, Pemkot Surabaya Selamatkan Aset Daerah

25/07/2026 - 18:16 WIB

Festival Riset dan Inovasi Semarakkan HUT Ke-3 Kebun Raya Mangrove Surabaya

25/07/2026 - 17:58 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.