Fenomena meningkatnya populasi ikan sapu-sapu di berbagai sungai perkotaan menjadi sorotan serius kalangan akademisi. Dosen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga, Dr Veryl Hasan, menilai kondisi ini sebagai indikator kuat menurunnya kualitas lingkungan perairan.
Menurut Veryl Hasan, kemunculan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar umumnya terjadi di sungai dengan tingkat pencemaran tinggi, seperti yang banyak ditemukan di kawasan perkotaan. Spesies ini dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap kondisi air yang buruk, sehingga mampu bertahan ketika ikan lokal lainnya tidak mampu hidup.
Ia menjelaskan bahwa pada kondisi perairan yang tercemar berat, sebagian besar ikan asli akan mati atau berpindah, sementara ikan sapu-sapu justru berkembang pesat. Ketidakseimbangan ini membuat populasinya terlihat mendominasi dan terus meningkat tanpa kendali.
Spesies Asing yang Menjadi Kompetitor Dominan
Ikan sapu-sapu merupakan spesies yang berasal dari Amerika Selatan. Di habitat aslinya, ikan ini tergolong biasa dan bahkan dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Namun, ketika masuk ke perairan Indonesia sebagai spesies asing, keberadaannya justru memicu persoalan ekologis.
Tanpa predator alami yang cukup, ikan ini berkembang cepat dan menjadi kompetitor serius bagi ikan lokal. Selain itu, sifatnya sebagai pemakan oportunis membuat ikan sapu-sapu mampu mengonsumsi berbagai jenis sumber makanan, mulai dari tumbuhan air hingga organisme kecil di dasar sungai.
Kondisi tersebut memperbesar tekanan terhadap ikan lokal, baik dalam hal perebutan makanan maupun ruang hidup. Dalam jangka panjang, dominasi spesies invasif ini dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.
Pencemaran Jadi Akar Masalah
Veryl Hasan menekankan bahwa ledakan populasi ikan sapu-sapu bukan semata-mata disebabkan oleh spesies itu sendiri, melainkan kondisi lingkungan yang mendukung. Sungai yang tercemar menjadi habitat ideal bagi ikan ini, karena minim kompetisi dari spesies lain.
Oleh karena itu, solusi utama yang harus dilakukan adalah memperbaiki kualitas air sungai melalui pengendalian limbah dan pencemaran. Dengan kondisi air yang lebih baik, ikan lokal memiliki peluang untuk kembali berkembang dan menyeimbangkan ekosistem.
Pentingnya Regulasi dan Edukasi Masyarakat
Selain perbaikan lingkungan, aspek regulasi juga menjadi perhatian. Veryl menilai bahwa larangan pelepasan ikan asing ke perairan umum harus ditegakkan secara konsisten, disertai pengawasan yang efektif.
Ia juga mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem. Pelepasan ikan hias atau spesies eksotik ke sungai tanpa kontrol dapat memperburuk kondisi lingkungan.
Sebagai langkah tambahan, penanganan populasi ikan sapu-sapu dapat dilakukan melalui penangkapan manual. Hasil tangkapan tersebut dapat dimanfaatkan, salah satunya sebagai bahan baku tepung ikan untuk pakan.
Alarm Ekologis bagi Perkotaan
Fenomena ini menjadi peringatan bahwa kondisi sungai di wilayah perkotaan membutuhkan perhatian serius. Keberadaan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar bukan sekadar masalah spesies, tetapi cerminan dari kerusakan lingkungan yang lebih luas.
Upaya kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci dalam mengembalikan keseimbangan ekosistem sungai. Dengan langkah yang tepat, diharapkan kualitas perairan dapat pulih dan keberagaman hayati tetap terjaga. (tas)

