Limbah B3 jadi Beton, Dosen ITS Juara
TEKNOLOGI

Limbah B3 jadi Beton, Dosen ITS Juara

Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Eng Januarti Jaya Ekaputri ST MT, berhasil mengolah limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari industri menjadi beton yang ramah lingkungan.

Penelitian itu pun akhirnya berhasil mengantarkannya meraih juara pertama dalam ajang Mining and Minerals Industry Institute (MMII) Research Award Competition 2019 di Four Seasons Hotel, Jakarta, Rabu (27/11) lalu.

Perempuan yang akrab disapa Yani ini mengakui, inovasi yang dikembangkannya tersebut tidak mudah untuk dilakukan. Pasalnya, regulasi dari pemerintah menyatakan kalau sebagian limbah dari industri merupakan B3. Sehingga tantangan untuk meningkatkan inovasi ini dari skala laboratorium menjadi skala industri juga semakin besar.

Limbah yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah abu batubara baik itu fly ash maupun bottom ash. Yani menyebutkan, sebenarnya limbah tersebut tidak beracun. “Akan tetapi pemerintah menetapkan sebagai limbah B3,” tuturnya.

Selain akan bermanfaat untuk industri, menurut Yani, inovasi tersebut juga memiliki efek positif bagi pemerintah. “Kita bisa habiskan seluruh limbah industri dengan memasukkannya ke dalam semen untuk membuat beton ramah lingkungan,” ungkap dosen Departemen Teknik Sipil ITS tersebut.

Kemudian untuk meningkatkan kekuatan daya tekan beton dan produksinya yang prima, Yani juga memasukkan bakteri ke dalamnya. Dikatakan Yani, bakteri tersebut juga dapat hidup dan berkembang di dalam beton yang ramah lingkungan ini.

Dijelaskan Yani lebih lanjut, bakteri berperan dalam beton dengan cara bereaksi dengan kapur terlarut dalam beton menjadi CaCO3 (calcite) yang mengisi pori-pori dalam beton, sehingga beton menjadi padat.

Beton yang mengandung limbah biasanya rapuh, tapi dengan ditambahi bakteri bisa menjadi kuat dan bersifat positif. “Bahkan bisa menyembuhkan retak pada beton,” ungkapnya.

Proposal penelitian yang berjudul SIBELHIJAU: Inovasi Produk Beton Ramah Lingkungan dengan Kandungan Mikroba Terkapsulasi dalam Limbah B3 tersebut juga sebagai bukti kepada pemerintah bahwa Indonesia memiliki infrastruktur yang lebih baik dan bermanfaat. “Sehingga kita menjadi bangga menjadi masyarakat Indonesia,” tandasnya.

MMII Research Award Competition 2019 sendiri merupakan program penghargaan untuk proposal penelitian terbaik di Indonesia dalam bidang eksplorasi, pertambangan, dan hilirisasi mineral dan batubara (minerba).

Hasil penelitian Yani sendiri untuk mendukung pengembangan bidang eksplorasi, pertambangan dan hilirisasi minerba tersebut. Total pendanaannya pun sebesar Rp 3 miliar untuk 2-3 proposal terpilih.

Selain dari ITS, terdapat pula peneliti juara kedua dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI) yang meraih juara ketiga. Sebelumnya, kompetisi ini diikuti 124 proposal, hingga diseleksi menjadi 25 proposal unggulan. Selanjutnya menjadi 10 finalis dan akhirnya ditetapkan lima grand finalis. (ita)