Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Munas FKDK BPD SI 2026 di Semarang Tetapkan Ketua Umum Baru, Perkuat Agenda Transformasi Bank Pembangunan Daerah
  • D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi
  • Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral
  • RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas
  • Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik
  • Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang
  • ITS Perluas Kerja Sama Global dengan HSE Rusia, Fokus Sains dan Teknologi
  • Khofifah Tinjau SPMB 2026 di Surabaya, Antrean Lebih Tertib dan Layanan Meningkat
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»SENI BUDAYA»Mahasiswa Belajar dari Masyarakat Samin

Mahasiswa Belajar dari Masyarakat Samin

SENI BUDAYA redaksi13/08/2018 - 12:00 WIB

Liburan kuliah bukan alasan untuk tidak produktif dengan berkegiatan yang positif. Begitu tradisi yang dilakukan mahasiswa Universitas Airlangga asal Bojonegoro bersama komunitas yang akrab disapa ABC (Airlangga Bojonegoro Community).

Mengisi liburan semester genap tahun 2018, komunitas yang lekat dengan jargon Matoh pol itu melaksanakan kegiatan bertajuk Sowan Samin yang berlokasi di Desa Margomulyo, Dusun Jepang, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro beberapa waktu lalu.

Sowan Samin didorong oleh keinginan untuk silaturahmi serta mengetahui lebih dalam kearifan lokal masyarakat Samin, salah satu suku di Indonesia yang terletak di daerah Bojonegoro.

Hardjo Kardi keturunan keempat Ki Samin Surosentiko mengatakan bahwa Samin bukanlah suku. Ia lebih senang menyebutnya pejuang. Perjuangan melawan Belanda dengan menolak membayar upeti ke Belanda karena dinilai menyengsarakan rakyat.

Taktik yang dilakukan masyarakat Samin untuk mengelabuhi Kompeni, kata Hardjo, adalah dengan cara berbicara dengan percakapan yang membingungkan.

Hardjo mencontohkan, ketika Kompeni bertanya letak rumah, maka masyarakat suku Samin hanya akan menjawab ‘di sana’ tanpa ada tambahan atau isyarat apapun. Cara ini adalah bentuk proteksi diri.

Keturunan Samin Surosentiko tersebar di beberapa daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Daerah Jawa Tengah meliputi Brebes, Pati, Rempang, Kudus dan Blora. Sedangkan di Jawa Timur meliputi Bojonegoro, Lamongan, Ngawi, dan Madiun.

Ajaran utama masyarakat Samin adalah tentang kejujuran. Setiap perilaku harus mengutamakan kejujuran, karena kejujuran yang menuntun hidup ke arah lebih baik.

“Mbah Hardjo menganalogikan, semisal kita mau makan singkong, tanamlah singkong. Kalau mau padi ya tanam padi. Hasilnya bisa dinikmati bersama. Jangan memakan atau mengambil singkong yang bukan hasil tanamanmu. Itu sama saja mencuri. Satu kali mencuri selanjutnya akan mencuri,” kenang Indra Pratama Ketua Umum ABC menirukan pesan Hardjo.

Saat ini Samin sudah menuju masyarakat modern, berpendidikan, serta sadar dengan kebutuhan akan teknologi. Terbukti dengan kepemilikan motor oleh masyarakat kampung.

Meski begitu, mereka tetap berpegang teguh pada budi pekerti dengan melestarikan seni. Di sebelah rumah Hardjo terdapat sebuah pendopo lengkap dengan gamelan yang sering digunakan untuk pengiring latihan tari.

Mayoritas masyarakat Samin memiliki mata pencaharian sebagai petani dengan hasil singkong, padi, dan jagung.

“Pasca mengunjungi masyarakat Samin, sebagai mahasiswa dan masyarakat Bojonegoro kita sadar bahwa kejujuran merupakan prinsip hidup yang utama. Berpuluh tahun masyarakat Samin telah menerapkan hidup dengan kejujuran. Bahkan kejujuran digunakan proteksi diri masyarakat Samin pada era Kolonial,” tambah mahasiswa Ilmu Politik Unair.

“Yang bisa saya dan temen-temen lakukan selanjutnya adalah menerapkan kejujuran dalam tindakan apapun. Setidaknya dimulai dengan jujur pada diri sendiri. Juga, lebih menghargai dan melestarikan kearifan lokal yang ada karena merupakan salah satu warisan bangsa,” pungkasnya. (ita)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Dedikasi Tiga Garda Terdepan Cagar Budaya

27/02/2026 - 10:43 WIB

Meriahkan Hari Guru, KGPS Luncurkan Buku Puisi

01/12/2025 - 11:00 WIB

Pos Bloc Medan, Simbol Transformasi Digital

18/11/2025 - 15:00 WIB

GeLORa Wadahi PT Tingkatkan Peran sebagai Pelestari Budaya

14/11/2025 - 13:00 WIB

Rangkaian Heroic Days Sambut Hari Pahlawan

30/10/2025 - 12:00 WIB

Sulam Karawo, Berbenah untuk Go Internasional

13/10/2025 - 12:00 WIB

Comments are closed.

Munas FKDK BPD SI 2026 di Semarang Tetapkan Ketua Umum Baru, Perkuat Agenda Transformasi Bank Pembangunan Daerah

04/06/2026 - 11:03 WIB

D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi

03/06/2026 - 19:21 WIB

Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral

03/06/2026 - 19:05 WIB

RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas

03/06/2026 - 18:57 WIB

Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik

02/06/2026 - 22:55 WIB

Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang

02/06/2026 - 22:01 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.