Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Kemlu RI dan UNAIR Dorong Generasi Muda Ambil Peran dalam Ketahanan Pangan dan Energi Global
  • Munas FKDK BPD SI 2026 di Semarang Tetapkan Ketua Umum Baru, Perkuat Agenda Transformasi Bank Pembangunan Daerah
  • D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi
  • Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral
  • RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas
  • Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik
  • Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang
  • ITS Perluas Kerja Sama Global dengan HSE Rusia, Fokus Sains dan Teknologi
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»SENI BUDAYA»Membiasakan Etika Budaya Jawa

Membiasakan Etika Budaya Jawa

SENI BUDAYA redaksi22/11/2018 - 14:30 WIB

Perkembangan kehidupan di era yang sangat cepat, menyebabkan banyaknya etika maupun norma terabaikan, terutama pada etika budaya Jawa. Oleh karena itu, etika budaya Jawa harus dibiasakan oleh orang tua hingga generasi muda sejak dini.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan, budaya Jawa dapat berperan sebagai salah satu pencegah korupsi. Nilai-nilai maupun norma sosial yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat seperti gotong royong, saling membantu dapat melawan korupsi di tingkat masyarakat.

Ganjar memandang, proses kebudayaan Jawa saat ini telah bergerak dan berkembang, tidaklah statis. Oleh karena itu, kegiatan yang mengarah kepada kebaikan dalam kehidupan masyarakat secara positif harus terus di dorong.

“Saya sepakat, bahwa etika serta pembentukan karakter harus terus di dorong dan dilakukan secara bersama. Sanksi sosial harus dipersiapkan agar pelaku korupsi tidak semakin besar di negara ini,” ujar Ganjar Pranowo saat pembukaan Kongres Kebudayaan Jawa (KKJ) II di Gedung Negara Grahadi, Surabaya (21/11) malam.

Sementara, wewakili Gubernur Jatim, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Dr Heru Tjahjono mengatakan, etika budaya Jawa jika diartikan dengan kondisi hari ini sebagai proses pembentukan karakter yang positif.

“Keberadaan etika budaya Jawa semakin hari dirasa sangat mengkhawatirkan terutama bagi generasi muda penerus bangsa dan negara,” kata Heru Tjahjono.

Maka dari itu, lanjutnya, sebagai orang yang hidup, tinggal dan besar di Jawa haruslah membiasakan etika budaya Jawa sejak dini agar dapat memahami dan menghormati antar sesama manusia.

Sebagai contoh, setiap orang Jawa pasti selalu mengenal dan meresapi kata nyuwun sewu atau budaya permisi dan matur nuwun atau budaya terima kasih. Budaya permisi ini adalah salah satu bentuk atau sikap santun yang selalu diajarkan oleh orang tua kepada anak untuk selalu menghormati yang lebih tua.

“Budaya permisi atau nyuwun sewu ini sekarang mulai pudar. Banyak anak muda yang acuh terhadap bentuk etika budaya Jawa seperti ini,” ujarnya.

Sama halnya dengan matur nuwun atau budaya terima kasih harus dilakukan tidak hanya sebagai orang Jawa saja. Budaya mengucapkan terima kasih itu, erat kaitannya terhadap personal seseorang dalam berinteraksi secara positif antar sesama makhluk.

“Ini yang harus kita jaga kembali. Saya menilai ini persoalan etika budaya yang tercermin dalam pembentukan karakter seseorang,” imbuhnya.

Saat talkshow, juga hadir Asisten Keistimewaan Setda DIY Didik Purwadi mewakili Gubernur DIY Sri Sultan HB X. Acara dipandu pakar komunikasi Dr Sukowidodo dari Unair.

KKJ II diikuti 300 peserta dari Jatim, Jateng dan DIY. Dibagi dalam enam komisi, yakni Kebudayaan Jawa di Tengah Tantangan Nasional dan Global, Kebudayaan Jawa sebagai Perajut Harmoni Sosial, Kebudayaan Jawa sebagai Spirit Kemajuan Ekonomi.

Lalu Kebudayaan Jawa sebagai Sumber Ekosistem Kebudayaan, Kebudayaan Jawa sebagai Basis Sosial Politik dan Kepemimpinan serta Kebudayaan Jawa sebagai Landasan Sosio Spiritual.

Sebelumnya, tiga daerah menghadirkan kesenian tradisional masing-masing, yakni Tari Maja Kirana dari Jawa Timur, Tari Menak Putri Rengganis Widaningsih dari DIY dan Klana Topeng Jawa Tengah. (ita)

Kongres Kebudayaan Jawa (KKJ) II
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Dedikasi Tiga Garda Terdepan Cagar Budaya

27/02/2026 - 10:43 WIB

Meriahkan Hari Guru, KGPS Luncurkan Buku Puisi

01/12/2025 - 11:00 WIB

Pos Bloc Medan, Simbol Transformasi Digital

18/11/2025 - 15:00 WIB

GeLORa Wadahi PT Tingkatkan Peran sebagai Pelestari Budaya

14/11/2025 - 13:00 WIB

Rangkaian Heroic Days Sambut Hari Pahlawan

30/10/2025 - 12:00 WIB

Sulam Karawo, Berbenah untuk Go Internasional

13/10/2025 - 12:00 WIB

Comments are closed.

Kemlu RI dan UNAIR Dorong Generasi Muda Ambil Peran dalam Ketahanan Pangan dan Energi Global

04/06/2026 - 11:56 WIB

Munas FKDK BPD SI 2026 di Semarang Tetapkan Ketua Umum Baru, Perkuat Agenda Transformasi Bank Pembangunan Daerah

04/06/2026 - 11:03 WIB

D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi

03/06/2026 - 19:21 WIB

Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral

03/06/2026 - 19:05 WIB

RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas

03/06/2026 - 18:57 WIB

Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik

02/06/2026 - 22:55 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.